Anda Ditentukan oleh Konsumsi Anda?

Di Yahoo! Indonesia.

Apa konsumsi yang Anda rasakan paling menentukan gaya-hidup Anda di kota Anda? Apakah ada beda bila Anda tinggal di Makassar, Surabaya, Medan, Menado atau Jakarta?

Anda adalah apa yang Anda makan. Ini pepatah lama asal bahasa Inggeris: You are what you eat. Di Amerika Serikat memang ada penelitian bahwa, misalnya, kaum miskin perkotaan di sana memakan lebih sedikit sayuran dan buah segar, serta lebih banyak makan junkfood seperti burger atau ayam goreng siap saji yang sayangnya di sini (masih?) dianggap makanan kelas menengah atas.

Tetapi kini kemakmuran sudah berkembang. Selain makanan, banyak hal lain “menentukan” siapa Anda. Pakaian bergaya apa yang Anda pakai? Model mobil Anda? Ataukah Anda cuma naik bus? Atau sepeda? Di mana Anda tinggal? Gaya rancangan rumah Anda? Gadget yang Anda gunakan? Anda pakai smartphone apa? Merek sepatu dan tas Anda? Semua ini dipilih-pilih dan dikombinasikan tiap orang kota untuk membentuk “gaya-hidup” pribadi sekaligus penghubung identitas dengan kelompok sosial-ekonomi tertentu.

Seharusnya gaya-hidup mencakup memang lebih banyak daripada faktor-faktor konsumsi. Tapi rupanya ada kecenderungan gaya-hidup terjebak teridentifikasi hanya dengan pola konsumsi semata. Atau sesuatu cenderung terkesan konsumtif ketika dihubungkan dengan gaya hidup? Di sebuah kompleks suburban di bagian barat-daya Surabaya saya melihat iklan kesehatan yang dijual sebagai bagian dari gaya hidup. Di kompleks yang sama ini juga ada lingkungan perumahan yang dijual dengan tema “Singapura di Surabaya,” lengkap dengan patung singa berdiri, mungkin pada skala 1:3. Tapi, tidak nampak air muncrat dari mulutnya. Entah memang konsumen kelas menengah atas kita begitu bodoh sehingga memerlukan label murahan “Singapura” itu? Lingkungan itu bukannya buruk, melainkan malah tergolong baik, sebagaimana hampir semua produk pengembangnya. Bukankah cara menjual demikian itu mempermalukan para pembeli, seolah mereka memerlukan label yang tidak penting itu, dan seolah mereka tak mampu memilih produk secara rasional apa adanya? Pelabelan itu apa tidak terasa mengolok-olok?

Apa benar apa yang Anda konsumsi menentukan siapa Anda? Apa benar kota selalu (lebih) konsumtif?

Memang benar hampir semua kota besar mengambil keuntungan dari keadaannya yang berpenduduk banyak dan beragam untuk menjadi tempat memperoleh dan memperdagangkan beragam barang konsumsi. Tetapi konsumsi tidak dapat bertahan tanpa produksi. Selalu ada claim bahwa kota besar lebih produktif dibandingkan kota kecil atau desa. Mungkin benar kota lebih besar menghasilkan lebih banyak; tetapi ia juga mungkin mengkonsumsi lebih banyak. Jadi sebenarnya seberapa produktivitas bersihnya?

Material flow analysis adalah salah satu cara menjawab pertanyaan itu. Ketika seluruh kemanusiaan sedang berupaya keras berubah memasuki abad nalar-bumi (oikos-logos, ekologi) dan prosentasi penduduk perkotaan meningkat tak terbalikkan, pertanyaan itu menjadi penting. Tetapi, mungkin pertanyaan itu berlaku juga untuk tiap-tiap individu? Bukan dalam ukuran jumlah uang, karena uang tidak selalu mencerminkan harga yang sesungguhnya, tetapi dalam pengertian kita merawat bumi?

This entry was posted in Nature and Environment, Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s