BOROBUDUR BUKAN MONUMEN?

Kompas 19 Januari 2002

Bagi John Miksic (Borobudur: Golden Tales of the Budhas, 1990) Borobudur bukan monumen, melainkan alat peraga visual bagi sebuah filsafat hidup yang kompleks. Monumen biasanya  terbatas pada fungsi simbolik dan menyampaikan pesan tunggal kepada massa, dengan penampilan bentuk silhuet vertikal yang sederhana sehingga dapat dilihat dari jarak jauh dan seketika membangkitkan emosi. Sedangkan para pembangun Borobudur bermaksud melibatkan akal. Pesan yang ingin disampaikannya terlalu kompleks untuk dinyatakan hanya dengan bentuk luar yang mencengangkan saja. Borobudur tidak menyanjungkan dirinya dengan bentuk vertikal yang nyaring, ia berbaring dengan diam, menelingkupi bumi (seperti telapak tangan kanan Budha pada posisi bhumisaparsa mudra), mengisyaratkan ada sesuatu yang jauh lebih penting di dalamnya, ketimbang bentuk luarnya.

Besarnya sumber daya yang dikerahkan untuk membangun Borobudur bukan hanya untuk tujuan monumental, melainkan terutama untuk mengajarkan suatu falsafah hidup yang luhur, menunjukkan bahwa orang Jawa di abad ke-8 adalah salah satu bangsa yang paling humanis dalam sejarah.

Bagi Claire Holt, penari yang menulis sejarah seni Indonesia, Borobudur adalah artifak penting untuk mempelajari evolusi seni tari di Jawa. Panel-panel bas-relief nya banyak yang menggambarkan gerak tari rakyat. Bagi Restu Imansari, penari yang juga penata landscape, Borobudur adalah bagian dari suatu cultural landcape wilayah yang agung dengan dirinya sebagai sebuah pusat Mandala yang bersudut timur-laut berupa pasangan Gunung Merapi-Merbabu  dan bersudut barat-laut berupa pasangan Gunung Sindoro-Sumbing. Keempatnya bagai dua pasang dewa yang berhadap-hadapan menjaga Candi Borobudur. Di selatan, terlena perbukitan Menoreh. Ruang di antara mereka semua itulah yang disebut Dataran Kedu yang sangat subur, karena mengalirnya beberapa sungai yang turun dari gunung-gunung itu menuju ke Segara Kidul melalui celah di sebelah tenggara Borobudur. Melalui celah ini pulalah Borobudur dapat dicapai setelah melewati candi Mendut dan Pawon.

Borobudur adalah sekaligus karya arsitektur dan senipatung yang maha agung. Itulah sebabnya ia tertakdirkan menjadi artifak arkeologis yang abadi, bahkan sebelum menjadi reruntuhan.

Meletakkan Candi Borobudur dalam bentang alam di atas adalah suatu tindakan arsitektural yang luar biasa, karena bekerja pada skala supramanusia, mewacanakan benda alam raksasa –gunung, pasangan gunung, sungai — sebagai unsur tata ruang dan sekaligus memberanikan benda arsitektur menjadi sesanding dengan ukuran alam yang maha besar. Tak heran kalau arsiteknya, Gunadharma, lalu dimitoskan memiliki kesaktian dewa.

Candi Borobudur adalah sebuah arsitektur karena di dalamnya terbangun secara murni pengalaman-pengalaman ruang yang mendasar. Borobudur adalah sebuah bangunan labirin tiga dimensi. Di dalamnya orang bergerak spiral. Pada bidang horizontal, orang bergerak di dalam lorong-lorongnya yang mengandung 1460 panel bas-relief seluas 1900 m2 yang didasarkan pada kitab kuno Budhisme. Di dalam lorong ini orang sepenuhnya terlindungi oleh dinding di sebelah kanan dan balustrade di sebelah kiri. Dunia luar seketika terlupakan, kecuali langit yang menjadi atapnya. Konsentrasi penuh diarahkan pada panel-panel yang dirancang pada ketinggian dan ukuran yang memudahkan penghitmatan sambil berdiri. Hal ini tidaklah demikian, misalnya, pada panel-panel Candi Panataran. Gerak di dalam lorong ini tidak lurus, tetapi berkelok kiri-kanan sebanyak 8 kali pada tiap sisi Candi, sebelum akhirnya sampai kembali ke titik awal untuk kemudian bergerak vertikal ke tingkat berikutnya. Pada belokan tertentu, tiba-tiba Budha hadir di ujung lorong, sebelum kelokan berikut, pada ketinggian yang menimbulkan rasa gentar, bukan takut yang mengancam, tetapi kehadiran yang mengingatkan dan menjaga. Gerakan yang terus menerus berubah arah kiri-kanan ini dipercaya memiliki kekuatan meditatif dan  terapetik bagi jiwa. Hal ini dipercaya dalam banyak peradaban berumur panjang. Yunani misalnya telah mengenal labirin sejak lima ribu tahun yang lalu.

Sementara itu, cahaya berubah-ubah, menyeruak dari celah-celah, menjatuhkan terang atau bayangan stupa pada panel-panel itu, yang dipenuhi dengan wajah-wajah yang tenang dengan tubuh-tubuh yang molek. Hanya pada panel-panel di kaki Borobudur –hanya pada sudut tenggara yang dibuka– pada seri panel yang disebut Mahakarmawibhangga, nampak wajah-wajah dengan emosi, termasuk yang cekikikan dengan isyarat sedang bergosip.

Pada tingkat pertama terdapat empat seri panel. Sedang pada tingkat-tingkat berikutnya –kedua, tiga dan empat– masing-masing terdapat dua seri panel. Karena itu lorong di tingkat pertama harus dikelilingi empat kali, dan lorong lainnya masing-masing dua kali. Bila ini dilakukan, maka panjang seluruh perjalanan horizontal adalah sekitar 5 kilometer. Sedang perjalanan vertikal adalah 26 meter.

Hadiah setelah menjalani semua lorong yang menutup diri dari alam luar itu adalah sebuah puncak yang tiba-tiba menampakkan seluruh ruang mandala Dataran Kedu, dengan segenap gunung-pegunungan yang menandainya. Di puncak ini: sebuah kesenyapan yang hening. Sebuah siraman spiritual. Sedang ketika melihat kebawah, Borobudur hadir sebagai sebuah wujud peradaban yang dihidupkan dan menghidupi segenap isi seluruh bentang alam Dataran Kedu.

Itulah sebabnya peserta simposium internasional “Managing Heritage Environment in Asia”, 8-12 Januari 2003, melihat pusaka (heritage) bukan hanya benda-benda individual buatan manusia, tetapi juga bentang alam. Sebab bentang alam dalam keutuhannya pada dasarnya adalah suatu alam budaya. Suatu bentang alam merupakan suatu wadah, pendukung bagi dan sekaligus dibentuk oleh sebuah peradaban. Maka diperkenalkanlah konsep “cultural landscape” pada skala wilayah. Borobudur terletak dalam sebuah ruang besar Dataran Kedu yang subur karena tempat bertemu beberapa sungai yang turun dari gunung berapi Merapi-Merbabu dan Sumbing-Sindoro, yang berkali-kali telah menyiraminya dengan abu volkanik yang menyuburkan. Demikian pula dengan candi Prambanan, Plaosan, Dewu, Sari, Kalasan, dan Ratu Boko yang terletak di tengah Dataran Prambanan. Borobudur hanya mungkin dihasilkan oleh seluruh bentang alam Dataran Kedu, yang memberinya bahan batu, serta surplus yang menghasilkan keinginan, kreativitas, dan keterampilan mewujudkannya. Ia pada gilirannya membentuk peradaban yang menghasilkannya, dengan memberi makna spiritual pada bentang alam Dataran Kedu. Bayangkan hubungan yang serupa antara bentang alam Danau Toba, pulau samosir dan sekitarnya dengan peradaban Batak.

Sayangnya, hal di atas telah luput ketika UNESCO menyatakan Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia (World Heritage) pada tahun 1991, yang membatasi perlindungan hanya pada zona satu (inti) dan zona dua (penyangga) yang hanya sejauh beberapa ratus meter dari Candi Borobudur. Sedangkan di dalam zona penyangga itupun, yang mestinya tidak boleh ada fasilitas komersial, telah terdapat hotel yang di dalam brosurnya disebut dengan bangga sebagai “satu-satunya hotel di dalam kawasan Taman Arkeologi Bodobudur”.  Sedang sapu dan ember diletakkan di dalam relung bersama dengan patung Budha.

Borobudur direstorasi secara sangat massif  dari 1971 sampai 1983 dengan biaya 25 juta dolar. Sebagian besar uang rakyat Indonesia sendiri. Hanya 6.5 juta dolar yang berasal dari donor, mungkin sebagian besar untuk sewa tenaga ahli yang mahal. Lebih dari satu juta keping batu yang masing-masingnya seberat 100 kg harus dilepas, dibersihkan satu persatu, dan disusun ulang setelah sistem fondasi dan saluran yang kompleks dipasang. Setelah semua itu, tidakkah kita pantas menikmatinya maksimal dengan segala keutuhannya, termasuk untuk kebutuhan spiritual kita? Tidakkah kita pantas menunjukkan bahwa kita bangsa yang beradab dengan menjaga apa yang dipercayakan kepada kita sebagai salah satu pusaka peradaban dunia terbesar dengan sebaik-baiknya, setidaknya untuk seribu tahun mendatang?

This entry was posted in Architecture, Arts, Language and Culture and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s