ARSITEKTUR ANALOGIS: MENGALAMI BUDDHISME PADA BOROBUDUR

Koran Tempo, Februari 2003

Inilah yang saya telah dengar. Pada suatu waktu ketika Yang Agung arsitek Gunadharma mencipta di benaknya, dan untuk selamanya, Bhumisambharabudhara atau “Gunung dari Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkatan” akan senantiasa hidup sebagai arsitektur analogis, sebab kami dapat mengalami Buddhisme pada dan di dalamnya, sekalipun tak mengerti yang tersuratnya. Hanya jiwa yang mati yang menyebutnya monumen mati. Suatu sistem simbolik boleh mati ketika tanda-tandanya tak lagi dikenali atau digunakan, tetapi suatu sistem analogis tak memerlukan pemahaman akan tanda, melainkan dirasakan melalui peristiwa mengalaminya. Ruang, sari pati dan bahan cipta arsitektur, memang tak dapat diajarkan kecuali dengan mengalaminya. Di Borobudur, pengalaman itu sangat murni dan mendasarnya, sehingga merupakan pusaka didaktik yang wajib bagi calon arsitek.

***

Suatu malam yang kelam Sidharta Gautama, 29 tahun, meninggalkan isteri dan bayinya untuk mencari pencerahan. Enam tahun kemudian ia mendapatkannya. Setelah 49 hari menikmati kedamaian dari kesadarannya, diputuskannya untuk mulai memutar roda Dharma tertinggi, memulai proses penyelamatan makhluk yang bersedia. Ia menyampaikan khotbah pertamanya, Dhamma Cakka Pavattana Sutta, ialah surat tentang memutar Roda Dharma. Maka seketika Dewa Bumi menyenandungkan pengumuman, “Di dekat Varanasi di Isipatana di dalam Taman Rusa, Roda Dharma tertinggi telah digerakkan. Ini tak dapat diputar-balikkan oleh pertapa, Brahman, dewa, mara, atau siapapun di dunia ini.” Maka ke-empat raja mengulang senandung itu. Maka para dewa menyerukan itu. Cahaya yang maha berlebih dan tak terukur menyinari dunia, mengalahkan cahaya semua dewa.

Itulah yang antara lain gambaran yang dapat terbayangkan dari Lalitavistara, kitab tentang kehidupan Sidharta Gautama, Buddha historis. Inilah yang telah saya dengar. Suatu ketika arsitek Gunadharma dihadapkan pada raja Wangsa Syailendra, yang  berarti penguasa gunung, untuk menerima  kitab tersebut bersama dengan kitab-kitab lainnya, yaitu Mahakarmavibhangga tentang neraka dan surga, Jataka tentang inkarnasi Buddha-Buddha masa lalu, Jatakamala, Manohara, Avadanas, Gandavyuha tentang perjalanan pangeran Sudhana menjadi bodhisattva dan Saddharmapundarika tentang kehadiran kembali Buddha Gautama dan Buddha-Buddha lainnya. Tugas Gunadharma adalah menyediakan ruang untuk menghayati kebajikan di dalam kitab-kitab tersebut. Ia tidak hanya membangun perpustakaan untuk orang membaca kitab tersebut. Selain menyediakan dinding untuk memajang panel cerita dan wacana bersumber kitab-kitab tersebut, ia membangun ruang untuk orang mengalami secara analogis pencerahan dan pradaksina (prosesi dan pentahapan) yang harus dilalui sebelum mencapainya.

Pradaksina dalam Buddhisme jauh lebih penting daripada sekedar prosesi ritual seperti misalnya ‘Jalan Salib” dalam Gereja Katolik. Pradaksina bukan hanya ritual, melainkan adalah “jalan” yang harus dilalui boddhisatva. Integrasi antara pemahaman konseptual dan latihan yang bertahap adalah jalan menuju pencerahan. Maka pradaksina adalah juga sebuah prosedur, suatu disiplin. Maka demikianlah yang saya telah dengar diciptakan arsitek Gunadharma: sebuah kompleks dan sistem ruang yang pertama-tama terdiri dari lorong-lorong yang menuntun kami melakukan “konsentrasi yang benar” (samyak samadhi) ketika menghayati 1460 panel relief di dinding-dindingnya yang selayak halaman-halaman dari seluruh kitab itu, sekaligus mengalaminya sebagai analogi ruang fisik dari pradaksina spiritual.  Delapan kali berkelok kiri dan kanan pada setiap sisi Borobudur mengingatkan kami untuk selalu sadar (samyak smriti) akan segala gerak dan laku keberadaan kami dalam ruang dan waktu. Dinding candi di sebelah kanan, dinding balustrade di sebelah kiri. Demikianlah lorong-lorong ini mengasingkan kami dari dunia luar, kecuali langit yang menjadi atap yang jauh, selayaknya sebuah disiplin pradaksina. Empat gerbang, masing-masing satu di pertengahan setiap sisi, adalah godaan untuk melihat dunia luar, serta sekaligus persimpangan jalan yang bertangga: untuk naik ke tingkat berikut, atau untuk membatalkan diri. 5,000 meter panjang langkah kami, setelah sepuluh kali mengitari deretan panel relief, yaitu empat pada tingkat pertama, dan masing-masing dua pada tingkat dua, tiga dan empat. Maka demikianlah nama Bhumisambharabudhara telah dengan tepat diberikan kepadanya.

Pada akhir putaran di setiap tingkat, kami naik ke tingkat berikut, sampai akhirnya mencapai ruang terbuka di puncak, tempat 72 Buddha dan Sakyamuni hadir kembali ketika Saddharmapundarika dilafalkan.

Dari puncak keheningan itu kami “melihat baik” ( samyak drishti) seluruh Dataran Kedu berbatasan gunung-gunung Merapi-Merbabu di timur-laut, Sindoro-Sumbing di barat-laut, perbukitan Ungaran di utara, dan Menoreh di selatan, selayak sebuah kiasan realita yang nampak “dari atas”, utuh-menyeluruh (kushala), selayak sebuah Mandala yang membuat terang semua posisi dan hubungan, yang tak tercemarkan rinci-rinci yang hingar. Pencerahan! Demikianlah puncak Borobudur adalah ruang terbuka yang diciptakan Gunadharma sebagai analogi arsitektur terhadap rasa pencerahan, ialah melalui pengalaman akan ruang. Arsitektur tidak diperalat menjadi simbol bagi yang lain; melainkan berbicara dalam bahasanya sendiri, menawarkan makna yang sejalan dengan bahasa lainnya. Dari puncak ini gunung-gunung itu nampak jelas dengan masing-masing rupa dan wataknya yang berbeda, memunculkan pemahaman yang jernih akan garis besar bentukan alam. Dari puncak ini nampak jernih suatu bentang peradaban, yaitu hubungan antara alam — gunung, air, tanah– dengan manusia yang bercocok-tanam, di bawah matahari, di dalam kala. Setelah kelelahan mengitari lorong yang mengasingkan, puncak inilah kelapangan yang membebaskan dan begitu saja siap dimasuki dan dirasakan sebagai berkah di penghujung perjalananan, tanpa memerlukan upaya lagi.

Membentangkan 1460 panel relief  seluas total 1900 m2, dan sepanjang 5,000 meter bila jejer dalam satu deret, adalah suatu program yang merupakan tantangan besar segala jaman bagi seorang arsitek di mana pun. Melakukannya dalam suatu sistem ruang analogis dalam kompleksitas yang berlapis-lapis adalah  sebuah lompatan kreativitas dan imajinasi. Ini menuntut penghargaan yang secara kategoris berbeda dengan, misalnya, yang dituntut oleh sebuah piramida yang dibangun dengan rekayasa teknik tinggi untuk mewujudkan suatu sistem massa dengan bentuk yang abstrak. Tanpa bagian yang tak perlu, Borobudur adalah sebuah sistem yang  kompak berkepadatan tinggi, yang menyatukan berbagai program dan pesan yang rumit dalam satu bentuk yang simetris sempurna. Termasuk di dalamnya memang sesuatu yang simbolik, ialah dalam hal bentuknya yang menggunung, yang boleh jadi melambangkan Wangsa Syailendra, yang berarti Penguasa Gunung. Dalam hal kepadatan rancangan bentuk dan makna ini, maka keseluruhan Borobudur adalah sebuah karya patung yang tiada duanya.

Tapi borobudur bukan hanya sang adikarya arsitektur  itu sendiri. Ia mengandung pula gambaran arsitektrur-arsitektur lain pada jamannya. Inilah yang telah saya dengar. Prof. Parmono Atmadi, doktor arsitektur pribumi pertama Indonesia, menemukan prinsip-prinsip perancangan candi Hindu-Buddhis di Jawa pada panel-panel Borobudur, dan merumuskannya dalam disertasinya yang diterbitkan sebagai kitab Some Architectural Design Principles of Temples in Java (1988).  Ditemukan olehnya angka-perbandingan yang tetap antara berbagai komponen bangunan, dan pola-pola tertentu dalam penempatan bangunan di dalam lahan. Dia menemukan sejumlah gambaran bangunan dari susunan batu yang dapat di kelompokkan berdasarkan jumlah ruangannya, di samping sejumlah bangunan dari kayu dan logam serta jembatan. Sebagian dari bangunan bangunan ini dapat ditelusuri jejaknya dalam tradisi membangun yang masih berlaku hingga kini di Jawa. Hal sebanding dapat dilakukan oleh banyak ahli di bidang lain, misalnya Claire Holt yang menelusuri evolusi gerak tari Jawa. Dari 1460 panel relief, Profesor Atmadi menemukan 696 panel yang menggambarkan sejumlah total 902 bangunan, terdiri dari 147 bangunan bersusun batu, 254 bangunan kayu, 6 bangunan logam, 1 jembatan, 463 bangunan penghias, dan 31 stupa.

Maka kehilangan Borobudur dapat berarti kehilangan perpustakaan tentang Jawa yang humanis dan berada pada puncak peradabannya di abad ke-8 sampai 11, ialah pengetahuan yang juga menerangi pemahaman tentang Jawa masa kini. Kehilangan Borobudur dapat juga berarti kehilangan pusaka arsitektur, yang dapat terjadi ketika tak ada perawatan yang menjamin pengalaman kembali ruang-ruang analogis tersebut, ketika lereng-lereng batas Mandala Kedu makin gundul dan di sana sini hingar-bingar, pradaksina tersendat-sendat, sampah memustahilkan samyak samadhi, puncak tak hening dan ke-72 Buddha berebut ruang terbuka dengan makhluk manusia yang mencapai puncak ini tanpa upaya yang layak. Kehilangan Borobudur terjadi bukan hanya kalau seluruhnya runtuh, atau tertimbun kembali oleh debu volkanik, tetapi juga ketika kesempatan (bagi yang bersedia) untuk mengalaminya secara utuh dan murni terhalang. Dia belum mati meskipun umat Buddha berhenti melakukan ritual di sana. Tapi dia dapat sungguh mati ketika kemampuannya untuk menafaskan pengalaman spiritual yang universal disumpal. Ancaman yang dihadapinya bukan hanya otonomi daerah yang semata-mata berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui sentralisasi komersial dan kanalisasi yang menggiring paksa pengunjung melewatinya, dan akan menambah pencemaran fisik, suara dan visual. Ancaman juga datang dari anggapan bahwa Borobudur adalah “monumen mati” dan karena itu lalu seolah dapat dikemas dalam bentuk apa saja –antara lain: Borobudur International Festival– kecuali makna aselinya. Mengapa Borobudur yang harus diubah melalui pengemasan yang disesuaikan kepada selera pasar, bukannya pembeli yang ditawari untuk mengalami Borobudur dengan nilai utuh aselinya? Tidak ada kemampuan, atau tidak ada kemauan?

This entry was posted in Architecture, Arts, Language and Culture and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s