Pameran Nasional Arsitek Muda 2010, Pengantar Kurator

Ringkasan:

Apakah generasi baru arsitek Indonesia, yang mengalami pendidikan di tahun-tahun terakhir sebelum 1998 dan mulai berkarya sesudah 1998, memang membawa kecenderungan berbeda dari yang sebelumnya?

Pameran generasi membuka exposure dan wacana atas generasi itu sendiri. Generasi sekitar tahun 1998 mengalami perubahan mendasar dalam teknologi yang berdampak pada kuantum informasi yang dipertukarkan secara interaktif serta pada cara-cara mengolah dan menyajikan gagasan. Mereka mengikuti perkembangan dunia dengan seketika dan memiliki majalah onlinenya sendiri. Pertukaran ide serta merta berskala global pula. “Penyair yang matang mencuri, penyair yang mentah meniru,” kata T.S. Elliot. Di pameran ini nampak  rentang dari peniruan mentah hingga pencurian lihai itu. Pertemuan-pertemuan Jongarsitek memanfaatkan sajian audio dan video dijital, serta diselenggarakan di kafe, galeri, atau tempat gaya-hidup kontemporer lainnya yang juga dikunjungi masyarakatnya, ialah kelas menengah Indonesia yang sedang membesar dan meragam. Penugasan dominan sekarang berasal dari swasta dan keluarga kelas menengah; tidak terpikirkan untuk mengharapkan penugasan dari negara untuk berkarya sehari-hari.

Apakah kota yang dihuni oleh generasi pasca-1998 ini berbeda dengan sebelumnya?

Hampir seluruh karya yang dipamerkan ini, bergulat dan bergelut dengan dan di dalam kota. Pada rumah-rumah kelas menengah, kota sering dipunggungi. Ide-ide bagus belum dapat diwadahi oleh kota yang belum cukup terorganisasikan. Kolektivitas, kalau pun ditawarkan dalam kompleks-kompleks berukuran besar, terbatas pada menciptakan kolektivitas hanya di dalam dirinya sendiri, sementara hubungan dengan kota sangat  terbatas. Kesulitan arsitektur dalam menawarkan solusi progresif bagi kota Indonesia adalah ketiadaan fasilitasi yang tanggap serta cerdas atas banyak masalah ruang kota. Ada banyak gagasan kreatif arsitektur yanng progresif yang ditawarkan sepanjang sejarah arsitektur modern Indonesia. Tetapi kota-kota tidak berkepemimpinan, hanya otoritas dengan discretion power yang besar dan korup. Tanpa mediasi untuk proses melahirkan kolektivitas yang sehat, solusi-solusi individual terpaksa introvert dan kadang involutif. Keragaman kelas menengah kita nampak pada program, dan pada keterbukaan terhadap ide-ide arsitektonik dalam hal susunan ruang serta bentuk-bentuk yang mengacu kepada lebih banyak sejarah, preseden, sebaran geografis dan budaya. Tentu saja, mereka juga tergantung pada tawaran oleh para arsitek, yang adalah representasi kelas menengah yang pertama-tama nampak hadir pada rumah-rumah ini. Apakah ada pemikiran kritis yang progresif pada karya-karya ini? Apakah arsitek dapat menawarkan yang kritis pada ruang yang dihuni secara nyata oleh orang nyata yang menyerupai dirinya?

Kota-kota juga makin sadar tentang kepadatan yang harus makin ditingkatkan secara terencana dan terkelola dengan baik. Banyak ide untuk memadatkan volume penduduk, serentangan infrastruktur dan program pada bagian-bagian kota. Ambisi proyek besar bukan lagi monopoli daerah khusus ibukota, tetapi juga daerah-daerah lain.

Sayembara kini telah menjadi sangat lazim pada tingkat nasional maupun internasional, juga di daerah-daerah selain Jakarta, dan telah menghasilkan ide-ide dan wacana ke dalam ruang publik. Atas dasar ini pula, makin tumbuh prakarsa sukarela—tanpa undangan atau sayembara—para arsitek muda untuk melakukan “intervensi”, yaitu mngusulkan gagasan-gagasan arsitektur kepada berbagai soal atau tempat di kota-kota. Ancaman terbesar bagi arsitek oleh sayembara adalah kemungkinan penggerusan integritas arsitek itu sendiri, ialah ketika ia berupaya membayangkan keinginan, minimal apa yang dapat diterima, atau yang dapat dimengerti oleh para juri—bukan client atau masyarakatnya sendiri—nun jauh di sana. Sebaliknya, sayembara memungkinkan pembebaskan diri dari batas-batas pesanan, andai saja peserta berani membebaskan diri dari spekulasi tentang juri. Sayembara dapat menantang arsitektur menjadi pemikiran, ketimbang sekedar proyek perancangan. Teknologi memungkinkan visualisasi rancangan jadi makin realistis, sekaligus juga dapat membuatnya lebih palsu dengan lebih meyakinkan. Bahaya lain adalah penekanan berlebihan pada “yang nampak”, bukan “yang terasa” atau “yang teralami”.

Bagaimana pun juga nampak terbersit kebebasan pada imajinasi bentuk-bentuk yang ditawarkan oleh generasi ini, karena abstraksi dan formalisme yang dipinjam dan dicuri itu, syukurlah, masih sehat, karena metodis, ada maksud, dan mengingatkan kembali bahwa, pada arsitektur, akhirnya bentuklah yang berbicara.

Tetap saja sangat diharapkan otentisitas akan makin kental di masa datang. Kita percaya selalu ada celah untuk terobosan, untuk pembaruan, sebagaimana telah selalu terjadi dalam sejarah. Sejarah juga dibentuk oleh yang tidak mau tunduk kepada pembatasan oleh keadaan terberikan. Untuk keperluan itu, mau tidak mau, pemikiran harus menyertai perancangan sebagai teman sejalan yang dialektis. Sebab, seperti dikatakan oleh  Louis I. Kahn pada tahun 1957: “Arsitektur berarti menciptakan ruang dengan cara yang benar-benar direncanakan dan dipikirkan. Pembaharuan arsitektur yang berlangsung terus menerus sebenarnya berakar dari pengubahan konsep-konsep ruang.”

Memang “baru” itu relatif dan terikat konteks. Tetapi, bagaimana pun juga sesuatu yang “baru” dapat dikenali karena memiliki kejutan dan energi untuk menggugah, mempengaruhi pemikiran, mengubah cara pandang.

Setelah meniru-mencuri, memperdalam dan memperhalus, arsitek kita perlu membat terobosan, menawarkan yang “baru” tersebut, se-relatif apapun artinya. Ada tiga wilayah yang perlu diarahkan kembali, yang syukurlah mulai nampak sebagai kuncup yang sedang mau mekar pada arsitek generasi pasca-1998 ini. Pertama pendidikan perlu mendorong berpikir kritis yang bertumpu pada wawasan luas dengan akses informasi yang mendalam dan tidak terbatas. Kedua arsitek (muda) perlu jernih membedakan pembaharuan pada (karya) arsitektur dari pembaharuan dalam menjalankan praktik arsitektur. Ketiga, praktik berwacana perlu mendalami pemikiran di balik karya-karya secara radikal, melampaui dikusi tentang “manajemen proyek,” radikal bertanya—bahkan mempertanyakan—tanpa basa-basi, mencari akar, esensi, baik pada suatu preseden maupun pada suatu masalah. Ia merupakan metoda untuk sampai kepada loncatan kreatif.

Kita juga berharap akan lebih besar kepekaan para arsitek yang sedang tumbuh ini terhadap soal-soal kelestarian dan proses-proses sosial, seperti keterlibatan warga dalam penyelenggaraan proyek-proyek publik. Ada banyak  karya yang menyebut alam, yang menyatakan bermaksud ramah-lingkungan dalam berbagai hal. Tetapi, radikalisasi masih sangat diperlukan di sini untuk membawa kita melampaui aplikasi yang sporadis dan asal ada, untuk sampai pada konsekuensi wujud bentuk yang “baru” bagi suatu abad ekologis.

***

( lengkap)

Pertanyaan yang hendak dicoba jawab oleh pameran ini adalah: Apakah generasi baru arsitek Indonesia, yang mengalami pendidikan di tahun-tahun terakhir sebelum 1998 dan mulai berkarya sesudah 1998, memang membawa kecenderungan berbeda dari yang sebelumnya?

Tentu saja pertanyaan ini tidak mengabaikan bahwa kecenderungan baru atau lain bisa saja diusung justru oleh arsitek dari generasi yang lebih lama. Di masa arus informasi yang deras dan bebas, pembagian generasi memang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari perspektif keperluan di luar para arsitek itu sendiri. Pameran yang bersifat generasional memenuhi kebutuhan untuk membuka exposure dan wacana atas generasi itu sendiri, yang memiliki proses pembentukan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Terang bahwa konteks produksi yang mereka masuki juga berbeda dari masa sebelumnya, tetapi generasi sebelumnya juga memasuki konteks ini, hanya lebih dulu, entah dengan kesadaran yang berbeda atau tidak.

Generasi yang mengalami proses pembentukan di seputar tahun 1998 mengalami setidaknya perubahan yang mendasar dalam teknologi informasi yang berdampak bukan saja pada jumlah (mungkin juga mutu) informasi yang mereka terima dan pertukarkan secara interaktif di antara rekan sejawat, tetapi juga pada cara-cara menyajikan gagasan, setidaknya secara visual. Pada saat bersamaan kelas menengah Indonesia menjadi makin besar[1] dengan identitas yang makin mantap, karena makin tidak-tergantung pada negara, dan mampu mengembangkan hubungan-hubungannya sendiri. Kini sudah menjadi lazim untuk berharap mendapatkan penugasan dari swasta dan keluarga kelas menengah. Dua puluh tahun yang lalu, generasi yang dikenal sebagai Arsitek Muda Indonesia (AMI) mulai mencicipi rasa pasar ini, dan kemudian secara sadar atau tidak menjadikannya basis berhimpun mereka dan melancarkan cara operasi baru. Sebelumnya, pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah pemberi tugas dominan. Kini, hampir tidak terpikirkan untuk mengharapkan penugasan dari negara untuk berkarya sehari-hari.

Sayembara, yang diperjuangkan dengan sangat oleh generasi sebelumnya, sebagai konsekuensi dari keterbukaan yang diperjuangkan, kini juga telah menjadi sangat lazim, pada berbagai skala nasional maupun internasional, di daerah Jakarta maupun daerah-daerah lainnya. Swasta melihat keuntungan dari sistem sayembara ini. Pemerintah memaklumi pentingnya dan bahwa ia mewakili tuntutan akan good governance, tetapi peraturan yang ada belum sepenuhnya mendukung. Sebagian arsitek generasi pasca 1998 bahkan telah mengikuti sayembara internasional ketika masih berstatus mahasiswa.

Bilamana generasi AMI mengetahui perkembangan internasional setidaknya 5 tahun terlambat, generasi pasca-1998 mengetahuinya dengan seketika. Generasi terdahulu itu berwacana dengan tatap-muka secara langsung, sambil sekali-sekali dengan susah payah secara kolektif membuat penerbitan[2], generasi sekarang memiliki majalah online.[3] Pertemuan-pertemuan AMI dilaksanakan di bangunan-bangunan (sebagian besar rumah-rumah) show-case karya mereka, dengan slides seluloid dalam suasana sangat informal, dengan semua orang saling kenal. Pertemuan-pertemuan Jongarsitek diselenggarakan di kafe, galeri, atau tempat gaya-hidup lainnya yang hingga sepuluh tahun lalu masih belum merupakan tempat berkumpul yang sungguh jamak. Sajian audio dan visual semuanya dijital. Pameran arsitektur menjadi jauh lebih kerap, lebih dari dua kali setahun, oleh organisasi yang berbeda. Majalah-majalah bertambah judul maupun eksemplar. Bahkan liputan TV juga.

Kota? Apakah kota yang dihuni oleh generasi pasca-1998 ini berbeda dengan sebelumnya?

***

Membaca arsitektur bagaimana pun juga memang berarti membaca kota secara langsung atau sebagai cerminan tidak langsung, sekalipun dan terutama kota bukan sebagai kumpulan bangunan gedung, dan arsitektur bukan hanya pada bangunan gedung.

Hanya ada satu atau dua karya yang dipamerkan di sini yang konteksnya bukan kota.

Selebihnya, hampir seluruhnya, bergulat dan bergelut dengan dan di dalam kota.

Pada rumah-rumah kelas menengah yang dirancang oleh arsitek generasi pasca-1998 ini, kota hadir sebagai sesuatu yang dibelakangi, atau tidak diketahui, tidak terpetakan di dalam banyak produksi arsitektur. Ide-ide hadir dengan susah payah, putus asa, tetapi kota belum cukup terorganisasikan untuk menerima ide-ide ini menjadi kenyataan wujud yang padu. Sebagian ide-ide harus mundur karena keputusasaan. Orang perorang harus membalikkan tubuh, memperkuat dunia interiornya, karena kota tidak menjanjikan, malah menimbulkan kesulitan. Kolektivitas, kalau pun ditawarkan dalam kompleks-kompleks berukuran besar, terbatas pada menciptakan kolektivitas hanya di dalam dirinya sendiri, sementara hubungan dengan kota—yang nyata dan beriwayat panjang—sangat  terbatas. Hal ini sangat nyata misalnya pada proyek sayembara perumahan mahasiswa UI di Depok. Proyek seperti ini, karena tema dan lokasi serta faktor-faktor kontekstual lainnya, sebenarnya sangat strategis untuk mempengaruhi arah arsitektur dan watak kekotaan masa depan di Indonesia.

Kesulitan arsitektur dalam menawarkan solusi progresif bagi kota-kota Indonesia muncul karena tidak ada mediasi atau fasilitasi yang tanggap serta cerdas atas banyak masalah ruang kota. Kota-kota, dalam makna arsitektur, tidak berkepemimpinan. Yang ada hanya otoritas dengan discretion power yang besar, dan sering korupsi.  Pada keributan soal penertiban pedagang kaki lima, kita menemukan hal yang sama ini: sementara kekotaan kita memang masih muda, ada banyak negosiasi yang tidak secara sadar dan taktis ditengahi untuk mencapai kematangan solusi.[4] Ketidak-hadiran kepemimpinan dengan kewewenangan publik yang menengahi proses untuk melahirkan kolektivitas yang sehat juga menyebabkan munculnya solusi-solusi individual yang introvert, menutup diri, kadang involutif, membelakangi kota-kota. Misalnya, meskipun sudah cukup lama ada –setidaknya lima tahun— kecenderungan meletakkan kamar pembantu beserta kamar mandi dan cucinya di bagian depan rumah, kadang dengan cara yang cerdik memanipulasi Garis Sempadan Bangunan, kini menjadi makin eksplisit dan tidak malu-malu, dianggap sebagai solusi pragmatis yang wajar saja—keadaannya begitu sih! Bersamaan dengan itu, seluruh muka rumah-rumah menjadi makin terutup, suram, bahkan cenderung cemberut terhadap jalan, terhadap kota.

Solusi pragmatik ini mungkin sekedar menerjemahkan gejala perubahan sosial: pembantu rumah tangga telah berubah dari “orang rumah” menjadi “buruh” industrial, telah kehilangan hubungan-hubungan yang biasa di masa dua puluh tahun lalu, dan sekarang mungkin tinggal nostalgia pada generasi yang dilayani oleh para arsitek muda.

Hal itu bukan karena tidak ada gagasan kreatif arsitektur yanng lebih progresif yang ditawarkan sepanjang sejarah arsitektur modern Indonesia. Gagasan tentang kampung susun yang sangat maju pada tahun 1983(?) telah dikemukakan sebagai tugas akhir dari Heri Muliono, mahasiswa di Universitas Katolik Parahyangan waktu itu. Tidak saja ia sangat jauh meneroka kemungkinan itu, tetapi juga sangat mendalam dan memperhitungan segala aspek secara realistis. Pada pameran ini kita akan melihat gagasan itu muncul kembali sebagai suatu keping utopis yang skematik. Gagasan tentang mewadahi pedagang kaki-lima di kaki-lima dan ruang khalayak lainnya, telah tanpa henti diajukan oleh arsitek Indonesia dalam empat puluh tahun terakhir. Terakhir, bulan lalu ada lokakarya, sayembara gagasan, dan diskusi penataan kaki lima di Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara. Bulan Juli nanti juga akan ada lokakarya dan diskusi hal yang serupa di Bandung, dalam rangka Temu Ilmiah Mahasiswa Arsitektur Indonesia ke-26 yang dinamai BDG26.

Kota-kota juga makin sadar tentang kepadatan yang harus makin ditingkatkan dan secara sengaja dirancang dan dikelola dengan baik. Banyak ide ditumpahkan pada bagaimana memadatkan volume penduduk, serentangan infrastruktur dan program pada bagian-bagian kota. Tidak semua ide ini baru, atau secara keseluruhan serta fundamental lebih maju daripada generasi-generasi sebelumnya. Tetapi, gagasan-gagasan ini tetap berharga karena memaparkan dua gejala yang menunjukkan sekaligus harapan dan desakan yang kuat: kembalinya utopia, serta kemungkinan yang lebih besar untuk sekarang diwujudkan.

Kota-kota di Indonesia juga sedang giat membangun infrastruktur baru dengan tuntutan langsung tumbuh dari masyarakat setempat dan kepentingan ekonomi pembangunan yang makin nyata. Ambisi proyek-proyek besar bukan lagi monopoli daerah khusus ibukota, tetapi juga daerah-daerah lain. Dampak desentralisasi dan otonomi daerah telah mulai menggigit.  Motif budaya, politik identitas, pertumbuhan ekonomi, bercampur baur.

Di dalam kota demikian api globalisasi persaingan dan konsumtif mendapatkan minyak-nya. Benih-benihnya jatuh ke atas lahan bertanah subur, berhara tinggi. Suatu cakrawala kehidupan kota yang baru hadir dengan dengan kelas menengah yang makin besar dan makin beragam dan meragam. Kelas menengah Indonesia makin terbuka dan berwawasan luas.

Terdapat rentang yang sangat besar dari yang dapat disebut “kelas menengah” di kota-kota Indonesia: mulai dari yang mampu memiliki tanah seluas 90 m2 dengan bangunan 75 m2, hingga yang mampu membeli tanah hingga ribuan meter persegi dengan bangunan hingga 500 m2, dengan nilai total property sebesar dua ratus juta rupiah hingga dua milyar rupiah atau lebih. Jumlah terbesar tentu saja berkisar pada kemampuan dua hingga sekitar lima ratus juta rupiah. Apakah yang mayoritas, dengan rentang kemampuan finansial yang sempit akan juga memiliki rentang pilihan rancangan yang juga sempit, dan sebaliknya yang kemampuan finansialnya makin besar akan memiliki rentang solusi kreatif yang lebih lebar? Apakah rumah kecil atau rumah besar mempengaruhi kreativitas arsitek?

Yang kita lihat pada rancangan rumah-rumah tinggal—yang selalu merupakan indikator paling minimal dan penting bagi kreativitas arsitektur, seperti menu mendasar terjangkau yang paling disukai pada sebuah restoran—selain keragaman pada volume dan bahan, adalah keragaman pada program, dan pada keterbukaan terhadap ide-ide arsitektonik dalam hal susunan ruang serta bentuk-bentuk yang mengacu kepada lebih banyak sejarah, preseden, sebaran geografis dan budaya. Hal ini dapat dikatakan bahkan tidak mungkin dibayangkan duapuluh atau sepuluh tahun lampau.  Keragaman program serta keterbukaan terhadap ide arsitektonik menunjukkan keragaman gaya-hidup, yang kira-kira terbentuk dari campuran profesi, latar belakang pendidikan, warisan budaya, selera konsumsi, dan barangkali banyak hal lain. Tentu saja, mereka tidak terlepas dari apa yang ditawarkan oleh para arsitek. Para arsitek sendiri adalah representasi kelas menengah yang pertama-tama nampak hadir pada rumah-rumah ini.[5] Apakah ada pemikiran kritis yang progresif pada karya-karya ini? Apakah arsitek dapat menawarkan yang kritis pada ruang yang dihuni secara nyata oleh orang yang nyata pula? Jawabannya, seperti terpampang pada pameran ini, adalah berupa rentang kemungkinan.

***

Makin banyak arsitek Indonesia bekerja untuk proyek di luar negeri, memasuki arena globalisasi persaingan. Pada saat sama hubungan kolegial yang menghasilkan solidaritas dan produksi pengetahuan bersama juga terjadi di antara sesama arsitek muda di tataran internasional maupun nasional. Kunjung mengunjung di tingkat nasional dan internasional makin kerap dan mudah. Pertukaran ide, pinjam meminjam, curi-mencuri gagasan menjadi berskala global pula. “Penyair yang matang mencuri, penyair yang mentah meniru,” kata T.S. Elliot.[6] Di pameran ini kita juga akan menyaksikan rentang dari peniruan mentah hingga pencurian lihai itu.

Sayembara, yang pada dua (atau tiga) generasi AMI sebelumnya masih diperjuangkan dengan susah payah[7] kini telah menjadi kelajiman. Dengan teknologi, para arsitek muda mudah pula serta dalam sayembara internasional. Banyak yang memenangkan sayaembara, meskipun tidak selalu juara pertama. Lebih dari itu, sayembara telah dapat dikatakan produktif dalam arti ia telah menghasilkan ide-ide dan wacana ke dalam ruang publik. Atas dasar ini pula, makin tumbuh prakarsa sukarela—tanpa undangan atau sayembara—para arsitek muda untuk melakukan “intervensi”, yaitu mngusulkan gagasan-gagasan arsitektur kepada berbagai soal atau tempat di kota-kota. Namun, sayembara bukan tanpa resiko. Ancaman terbesar bagi arsitek oleh sayembara tidak kurang dari kemungkinan menggerus integritas arsitek itu sendiri, ialah ketika ia berupaya membayangkan keinginan, minimal apa yang dapat diterima, atau yang dapat dimengerti oleh para juri—bukan client—nun jauh di sana.

Apa yang dianggap baik oleh juri pertama-tama haruslah dapat dimengerti oleh nya. Berupaya membuat diri dimengerti oleh juri sama dengan berupaya menjadi bagian dari sistem nilainya. Dengan begitu saja, peserta sudah pertama-tama kalah. Kalau pun dia memenangkan sayembara—yang saya maksud terutama adalah sayembara yang konteksnya spesifik berada di luar ruang budaya peserta dan sayembara yang dibuat sangat universal (berupa tema generik)—maka ia mungkin telah takluk karena dinilai melalui sistem nilai yang belum tentu dianutnya. Ada perbedaan pada karya-karya yang dihargai setelah selesai dibangun, karena dibuat tanpa antisipasi menghadapi juri. Di sini ada integritas (relatif) penciptaan. Sebaliknya, sayembara mengandung kelebihan berupa kemungkinan bagi pencipta membebaskan diri dari batas-batas pesanan, andai saja dia berani membebaskan diri dari spekulasi tentang juri.

Kemampuan komunikasi visual lalu menjadi penting, dan dibantu oleh ketersediaan teknologi kontemporer. Pada sisi positif, tentu saja sayembara dapat memeras arsitektur menjadi pemikiran, ketimbang sekedar proyek perancangan, terutama ketika jarak antara juri dan arsitek peserta sayembara, dan antara konteks nyata dengan yang tertera di dalam Kerangka Acuan, menjadi makin besar. Kemampuan teknologi memungkinkan arsitek memvisualisasikan lebih realistis rancangannya, sekaligus juga lebih dapat membuatnya lebih palsu dengan lebih meyakinkan. Bahaya lain adalah penekanan berlebihan pada “yang nampak”, bukan “yang terasa” atau “yang teralami”.

Bagaimana pun juga ada sebersit kebebasan yang nampak pada imajinasi bentuk-bentuk yang ditawarkan oleh generasi ini, meskipun karena abstraksi dan formalisme yang dipinjam dan dicuri itu yang, syukurlah, masih sehat, bahkan ketika atap vernakular Indonesia digunakan seperti pada rumah-kantor di Kendangsari, Surabaya. Abstraksi dan formalisme ini sehat karena metodis, ada maksud, dan sebenarnya secara puitis mengingatkan kembali bahwa, pada arsitektur, akhirnya bentuklah yang berbicara.

Kemudahan “bermain-main dengan bentuk” ini mungkin sekali terbantu oleh teknologi yang sangat memudahkan mengendalikan bentuk-bentuk geometris secara tiga dimensional seketika. Tentu saja, tetap saja sangat diharapkan otentisitas—kalau bukan orijinalitas—akan makin kental di masa datang, melalui metoda-metoda yang dapat dijelaskan maupun melalui proses kotak-hitam di dalam proses perancangan arsitektur. Meskipun percaya bahwa arsitektur adalah produk dari segala sesuatu yang terjadi saat ini kita percaya selalu ada celah untuk terobosan, untuk pembaruan, sebagaimana telah selalu terjadi dalam sejarah. Sejarah, selain ditulis oleh yang menang, juga dibentuk oleh yang tidak mau tunduk kepada pembatasan oleh keadaan terberikan.

Untuk keperluan itu, mau tidak mau, pemikiran harus menyertai perancangan sebagai teman sejalan yang dialektis. Sebab, seperti dikatakan oleh  Louis I. Kahn pada tahun 1957: “Arsitektur berarti menciptakan ruang dengan cara yang benar-benar direncanakan dan dipikirkan….Pembaharuan arsitektur yang berlangsung terus menerus sebenarnya berakar dari pengubahan konsep-konsep ruang.”

Memang “baru” itu relatif dan terikat konteks. Tetapi, bagaimana pun juga sesuatu yang “baru” dapat dikenali karena memiliki kejutan dan energi untuk menggugah, mempengaruhi pemikiran, mengubah cara pandang. Adolf Loos bukan hanya anti-ornamen; dia menciptakan hubungan dan susunan ruang baru. Meskipun bentuk massanya bagi banyak orang sulit dipahami, bentuk ruangnya sangat kuat berbicara khas. Demikian juga Le Corbusier pada masanya. Karya-karya Koolhaas, setidaknya hingga lima belas tahun lampau, menghadirkan susunan ruang yang sangat mengejutkan. Bentuk massa yang mengesankan muncul dari bentuk ruang yang khas.  Arsitek muda Jepang, Sou Fujimoto, mencoba mengabaikan kolom-kolom biasa, slab-slab beton, tangga-tangga, dan elemen lain untuk menyusun arsitekturnya. Alih-alih, ia menggantinya dengan elemen multi guna yang bisa menggantikan semua fungsi di atas. “Primitive Future House” sepenuhnya tersusun dari balok-balok kayu yang bisa berfungsi sebagai tangga, struktur, bahkan furniture. Ia ingin mengingatkan kita, juga tubuh kita, untuk beradaptasi pada ruang – bentukan maupun alami, seperti dulu ketika kita masih tinggal di gua-gua. Junya Ishigami meniadakan dinding. Tetapi, berbeda dengan ruang Mies, bangunannya tidak kosong atau seperti tak berpenghuni. Kita dapat merasakan kehadiran dan adanya perubahan jarak yang terus menerus karena perbedaan kepadatan dan orientasi dari kolom-kolom.

Setelah belajar meniru, memperdalam dan memperhalus, arsitek kita perlu membat terobosan, yang “baru” tersebut, serelatif apapun artinya. Ada tiga wilayah yang perlu diarahkan kembali, yang syukurlah mulai nampak sebagai kuncup yang sedang mau mekar pada arsitek generasi pasca-1998 ini. Pada pendidikan, perlu ada dorongan untuk berpikir kritis dengan wawasan yang diperluas melalui membaca atau akses informasi lain yang tidak terbatas. Arsitek muda kita nampaknya juga perlu jernih membedakan pembaharuan pada (karya) arsitektur dari pembaharuan dalam menjalankan praktik arsitektur. Ketiga, praktik berwacana perlu mendalami pemikiran di balik karya-karya secara radikal. Berwacana harus melampaui dikusi tentang bagaimana “proyek” arsitektur ini terjadi dan berlangsung, tentang manajemen proyek itu. Berwacana harus radikal bertanya—bahkan mempertanyakan—tanpa basa-basi. Radikalitas berbeda dengan ekstrimitas. Radikalitas mencari akar, esensi, baik pada suatu preseden maupun pada suatu masalah. Ia merupakan metoda untuk sampai kepada loncatan kreatif. Ekstrimitas hanya pergi sejauh mungkin yang sering kali reaktif seperti gerak pendulum, tetapi tidak sedalam mungkin. Ia bisa melanjutkan radikalitas, tetapi sebaiknya tidak mendahuluinya.  Hal ini penting diingat ketika kita melihat munculnya kembali wacana tentang “arsitektur nusantara”. Hanya dengan kedalaman kita dapat lebih maju dari posisi tahun 1983.[8]

Ada momen-momen dalam arsitektur Indonesia ketika kita merasakan pencapaian yang demikian menyerupai ideal di atas itu, ialah misalnya momen Mangunwijaya. Momen ini terjadi bukan karena Mangunwijaya membayangkan juri internasional akan memahaminya, bukan karena ia punya agenda memajukan arsitektur nusantara, bukan karena ia ingin menghubungkan dirinya dengan wacana arsitektur modern Eropa dan mendapatkan pengakuan dalam sistemnya, meskipun beliau belajar dalam tradisi Bauhaus yang kuat. Momen Mangunwijaya terjadi karena ia berupaya semaksimal kemampuannya menjawab soal di depan matanya secara radikal dengan penuh integritas, dengan memanfaatkan semua pengetahuannya yang diarahkan untuk keperluan itu.  Mangunwijaya jelas melakukan radikalisasi—yang tidak sama dengan asal aneh—pada penggunaan kriya, pada bentuk atap nusantara, pada tekstur dan susunan material, pada sususnan ruang yang sederhana.

Kita bukannya perlu menarik perhatian ke kita yang merasa di “pinggiran”, dengan menggambar-gambarkan diri dengan bahasa orang lain. Tetapi kita perlu menghasilkan yang terbaik untuk menjawab soal-soal yang justru merupakan “kesempatan” kita  di hadapan kita, sedemikian baik pertama-tama untuk diri kita sendiri, sehingga dapat ditawarkan kepada siapa saja sebagai “yang dapat di-universal-kan”.[9] Kita perlu bersikap khidmat terhadap setiap kesempatan di hadapan kita, dan memusatkan semua perhatian dan upaya seperti “ini hanya sekali seumur hidup.”[10]

Kita juga berharap akan lebih besar kepekaan para arsitek yang sedang tumbuh ini terhadap soal-soal kelestarian dan proses-proses sosial, seperti keterlibatan warga dalam penyelenggaraan proyek-proyek publik. Ada banyak  karya yang menyebut alam, yang menyatakan bermaksud ramah-lingkungan dalam berbagai hal: ventilsai silang horisontal dan vertikal, orientasi memanfaatkan cahaya alam, AC minimum, bahwa pohon-pohon alami lebih penting daripada posisi instrumentalnya sebagai “scupture in the park” dan seterusnya. Tetapi, radikalisasi masih sangat diperlukan di sini untuk membawa kita melampaui aplikasi yang sporadis dan asal ada, untuk sampai pada konsekuensi wujud bentuk yang “baru”.

Jakarta, 26 Juni 2010

Marco Kusumawijaya, Suryono Herlambang, Avianti Armand.


[1] Belum diperoleh analisis yang penting tentang seberapa besar dan signifikannya kelas menengah Indonesia saat ini.

[2] Banyak “anggota” yang kemudian melanjutkan penerbitan secara sendiri-sendiri, tentang dirinya sendiri, ketika tingkat penghasilannya memungkinkan hal itu sebagai kebutuhan dokumentasi, pemasaran, dan ideologi (sebagai manifesto!).

[3] http://jongarsitek.com/ sejak Februari 2008.

[4] Khusus untuk perdagangan kaki-lima, beberapa solusi yang diperoleh melalui proses negosiasi yang sehat mulai nampak di kota Solo dan sebagian kota Jakarta.

[5] Sebagian dari rumah-rumah dalam pameran ini dirancang oleh arsitek untuk dirinya sendiri dan/atau keluarganya.

[6] “Immature poets imitate; mature poets steal.”  Thomas Stearn Eliot (1888-1965), dikutip melalui Sri Wresti Avianti, yang mendapatkannya di Facebook.

[7] Generasi AMI merintis dengan banyak benturan dan konflik dengan korban hingga anggota majelis etik IAI, dan generasi 1990-2000an memantapkannya.

[8] Pada tahun 1983 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyelenggarakan kongres dengan tema tentang identitas “Arsitektur Indonesia” yang banyak sekali acuan pada penggalian arsitektur nusantara.

[9] Meminjam istilah Mohamed Arkoun: universalizable.

[10] Meminjam cara minum teh Jepang “Ichigo, ichi’ye” (Hanya di saat ini, di tempat ini)

This entry was posted in Arts, Language and Culture. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s