Pendidikan Lingkungan, Catatan Pertemuan

Pendidikan Lingkungan[1]

Oleh Marco Kusumawijaya

0. Kota dan Lingkungan.

Hubungan antara ekologi dan kota perlu dipikirkan kembali dalam upaya mencari pembaruan-pembaruan yang mungkin untuk membuat kota dan wilayah menjadi lestari.

Urgensi: Pada tahun 2007 lebih dari separuh umat manusia telah tinggal dalam kondisi perkotaan, dengan kota-kota di negera sedang berkembang memiliki tingkat urbanisasi tertinggi. Kota akan menjadi tempat masa depan kemanusian ditentukan.

Kota adalah tempat manusia paling berkerumun, tempat produksi dan konsumsi paling intensif, dan tempat alam dan budaya bergumulan. Kota juga menyedot sumber daya dari wilayah sekitarnya. (ref. ecological footprint)

1. Lingkungan dan Kelestarian

Kesadaran akan degradasi dan bencana lingkungan membuka pemikiran tentang kelestarian (sustainability).

Kelestarian membuka kemungkinan memimpikan kehidupan yang lain sama sekali, ialah kehidupan yang lestari.

Kelestarian bukan hanya “selamat dari perubahan iklim dan/atau bencana alam lainnya” yang membuat kita menjadi hewan yang lebih pandai.

Kelestarian juga mencakup menyelesaikan masalah-masalah manusia modern seperti keadilan, kemiskinan, diskrimimasi, dll. Hanya  dengan demikian kita dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Hanya dengan menyelesaikan juga masalah-masalah seperti di atas kit dapat menjadi “manusia yang lebih baik”, bukan sekedar “hewan yang lebih pandai”.

Manusia sedang menyaksikan mobilisasi solidaritas  seluruh umat manusia yang luar biasa untuk selamat dari bencana ekologi. Dapatkan energi dan solidaritas yang sama ini juga kita arahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain di dunia?

Kemampuan kita dalam hal ini juga membuat kita sadar sekaligus akan kemampuan rasional kemanusiaan dan spiritualitas yang diperbaharui.

Kelestarian: ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi.

Perubahan dalam konsep pelestarian:

Minimum negative impactzero negative impactpositive impact (recovery atau regeneration, kelestarian: mengembalikan alam kepada “kemampuan semula”)

2. Merajut kembali hubungan antara manusia dan alam.

Alam bukan hanya :

1)bahan konsumsi (bahan kayu dan air dll) dan

2)jasa (menyerap CO2, dll);  tetapi juga sebagai

3)“guru” (alam takambang jadi guru), yang memerlukan kita melihat alam lebih secara mimetik ketimbang secara instrumentalis.

Dalam banyak ilmu-ilmu tentang lingkungan, kesadaran akan dua fungsi alam yang pertama di atas bagi manusia itu sudah mengarus-utama. Pentingnya terletak pada “jasa” lingkungan, sehingga manusia tidak boleh mengkonsumsinya berlebihan sebagai bahan mentah agar “jasa” nya tetap dapat berlangsung. Dan jasa itu bukan hanya penting untuk manusia, tetapi untuk seluruh ekosistem, termasuk species lain.

Hubungan ketiga antara manusia dan alam, hubungan mimetik, masih kurang digali, padahal hubungan ini dapat dikatakan telah melahirkan kebudayaan (dengan kesenian di dalamnya) dan sosialitas manusia. Keaneka-ragaman hayati berjalan seiring dengan keanekaan budaya (dalam bahasa, kesenian, dll). Alam bukan hanya guru ilmu pengetahuan, tetapi teman mengembangkan kreativitas dan inovasi.

Dalam kehidupan modern dan terutama di perkotaan, hubungan ini makin sedikit disadari, padahal tetap makin besar ketergantungan manusia akan alam (misalnya: air dan udara bersih, serta makanan segar, dan tentu saja sebenarnya seluruh bahan lain dalam kehidupan sehari-hari, dari laptop hingga tusuk gigi). Sebenarnya tidak ada satu pun materi yang tidak berasal dari “alam”. Yang membedakan adalah teknologi dan energi yang dipergunakan untuk mengolah materi itu, sehingga yang satu terasa lebih “jauh” atau asing (alien) dari alam, dibandingkan dengan yang lainnya. Tidak mengherankan bahwa keterasingan (alienasi) manusia kota dari alam sudah sedemikian rupa, tanpa disadari, sehingga baru-baru ini ada seorang arsitek yang sudah beberapa tahun berpraketk menganggap, “lebih baik memakai bahan aluminium daripada kayu, karena aluminium kan tidak merusak alam”. Alam telah direduksi sebagai sesuatu yang “langsung kelihatan di alam” (dalam hal ini pohon, dan bukan aluminium).

Memang naïve menanggalkan teknologi sama sekali; dan utopis untuk kembali ke alam 100 %. Tetapi karena pengertian “teknologi” (membuat alat sebagai perpanjangan akal dan tubuh manusia) dan “alam” tidaklah saling meniadakan, bahkan saling tergantung, selalu mungkin mengembangkan kreativitas untuk “teknologi” yang tepat.

Komposting, meskipun “tua”, ada cara-cara baru.

Banyak orang kini membuat yoghurt sendiri.

Bill McDonough membuat “carpet tiles” dari campuran rami dan wool. Hanya bagian yang rusak yang perlu diganti. Lebih jauh, sedang dikembangkan “ekonomi hijau”, misalnya hanya “menyewakan” carpet tile, lalu produsen bertanggung jawab untuk men-daur ulang.

Prinsip-prinsip “reduce, refuse, reuse, recycle” sedang dikembangkan menjadi “ekonomi hijau” (bahkan: kapitalisme hijau) dengan tujuan “menggantikan produk dan sistem produksi serta konsumsi” yang membantu alam memperbaiki diri (recovery/regeneration).

Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah: Sumber energi.

3. Tantangan: Pendidikan Aktif

Pendidikan tanpa contoh: Jangan meniru yang kebanyakan.

Karena dalam hal ini guru tidak/belum lebih pandai daripada guru. Munginkh ini justru peluang menggalakkan metoda yang justru inovatf: guru dan murid belajar bersama dari alam yang terkembang (mahaguru untuk semua). Bahkan bersama masyarakat luas.

Kenyataannya, perkembangan dunia mutakhir dengan desentralisasi produksi pengetahuan yang pesat, memang membuat sikap “guru dan murid belajar-bersama” ini tidak terelakkan. Hal ini bahkan mulai terasa menekankan perlunya perubahan dalam pendidikan perguruan tinggi dan bahkan kepemerintahan atau kepengurusan masalah publik pada umumnya.

Ini juga kesempatan mengajak anak didik aktif bersama masyarakat. Hal baik harus dilakukan karena baik, bukan karena ada atau tidak ada contoh.

Pendidikan tanpa contoh berarti mendorong “kepemimpinan” untuk tidak menunggu dan tergantung pada orang lain dalam memulai perubahan.

Mahatma Gandhi, “You ought to be the change you wish to see in this world”.

Pendidikan kepemimpinan mendapat urgensi dan perspektif baru, sekaligus ladang-kerja baru bila dihubungkan dengan pendidikan lingkungan.

Urgensi memang terletak terutama pada soal “perubahan iklim” (climate change).

Nyatanya, banyak “kebiasaan” baru yang baru saja kita petik dan harus kita tanggalkan lagi hanya dalam satu generasi (25 tahun). Misalnya minum air dari botol plastik: kebiasaan ini baru kita petik sekitar 15-20 tahun, dan harus egera kita tanggalkan lagi.

Membentuk habitus baru tanpa habitat yang mendukung.

Habitat yang sesuai juga masih harus dibentuk. Ini bisa juga dilihat sebagai peluang “pendidikan yang aktif”, yang mendorong siswa aktif membentuk habitat baru.

Pengelolaan lingkungan memang telah berkembang dari “berdampak negatif minimal” ke “berdampak negatif nol” hingga “berdampak positif”.

Berdampak positif: membantu alam memulihkan diri, yaitu ke keadaan semula, sebagaimana terkandung pada kata “lestari’[2]. Karena alam sudah rusak berat selama 250 tahun terakhir, maka tersirat bahwa kita tidak bisa “membiarkannya” lagi sekalipun tanpa tambahan dampak negatif, melainkan harus membantunya kembali ke “keadaan semula”, melalui suatu proses pemulihan yang berliku, pelik, sangat rentan, tapi sungguh mencengangkan ketika kita belajar dari alam terkembang.

Sikap aktif siswa dapat ditumbuhkan mulai dari “habitat” sekolahnya: memulihkan seluruh sekolah sebagai alam-guru: halaman, gedung, pemakaian ruangan dan fasilitas, cara memperlakukan tanaman, sampah, wc, dll.

Pembentukan habitat dan habitus baru yang integral di sekolah secara bersamaan ini mungkin dapat menjalar ke satuan-satuan atau tingkatan habitat serta habitus lain: rumah, lingkungan rumah, kota, dan seterusnya.

Kalau kita percaya pada hubungan yang tidak terpisahkan antara habitat dan habitus, maka menjadikan sekolah sebagai habitat baru sungguh perlu dilaksanakan juga, sebagai prasyarat bagi pendidikan lingkungan, maupun bagi bagi proses pembentukan habitus anak didik secara umum.

Metoda: Green Map, Arsitektur Hijau, Green Building, Edible                                                 Estates, “Regenerative Science” … Rujak Center for Urban Studies                                     (RCUS): membangun pengetahuan baru bersama dan untuk                                                 masyarakat.

Memang habitat dan habitus baru yang lestari bukan hanya soal “tanam-menanam” saja, tetapi, menurut beberapa ahli, mulai dari hal ini sangat baik.

Intinya kita perlu membawa kembali alam ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang wajar, tidak eksotik, dan juga tidak mistik.

Kegiatan membawa anak didik mengunjungi alam (liar/aseli) adalah baik juga; tetapi alangkah lebih baik kalau alam dihadirkan lebih dekat ke dalam kehidupan sehari-harinya.

Dari alam orang belajar tentang irama, kesabaran, harapan sekaligus kewaspadaan pada yang tak terduga, pada hubungan antara berbagai hal saling terkait.

Dari alam kita juga belajar tentang sosialitas dan kolektivitas: “tragedy of the commons” (di mana orang berlomba-lomba menghabiskan sumber daya karena merasa rugi kalau tidak) hanya dapat dihindari kalau orang mengembangkan kerjasama kolektif dan menjalin hubungan sosial yang erat antara sesama pemakai alam.

Pertanian organik ternyata kini mengembangkan hubungan baru antara “produsen”  (orang desa, petani) dan “konsumen” (orang kota), karena mata rantai distribusi dikurangi bahkan dihapus, dan tumbuh sikap “saling-menghormati” yang baru berdasarkan keterbukaan/kejujuran. Konsumen harus menerima saja apapun yang dihasilkan petani sesuai keadaan musim. Petani harus jujur dengan cara dia bertani.

Menumbuhkan Nilai-nilai baru dan menggali nilai-nilai lama dengan praktik baru.

Dalam banyak kebudayaan yang berbeda masa dan geografi, selalu ada nilai dan praktik yang sesuai dengan habitus baru yang diperlukan.

Nilai dan praktik itu bisa “umum” (nilai baik untuk semua hal, bukan hanya terhadap lingkungan) seperti hemat, memanfaatkan sumber daya tanpa ada yang tersia-siakan (mottainai di Jepang).

Tapi ada juga yang spesifik: misalnya membuat kompost.

Ada kebiasaan lama yang sudah tergantikan oleh yang baru, dan dianggap kuno: menjemur pakaian, tidur tanpa AC dan dengan kelambu, memelihara ayam dan menanam sayuran sendiri.

Tantangannya: memaknai kembali nilai dan praktik lama yang disesuaikan dengan masa kini dan masa depan. Ini adalah kesempatan membangun perspektif pengetahuan yang lebih panjang-historis dan mengakar-dalam pada budaya dan bumi, sebagai bagian dari unsur pembentuk habitus baru.

Prinsip hidup lestari yang berlaku di sini adalah “hidup dekat dengan alam sekitar terdekat”: makan makanan menurut musim, menggunakan energi yang tersedia di sekitar (matahari, angin, air), sampah diserap oleh halaman sendiri, dst.nya.

Tantangan dalam hal ini antara lain terletak pada “kota” sebagai suatu habitat tersendiri, dengan sifat-sifatnya yang khas: keterasingan dengan alam, kepadatan yang bisa baik bisa buruk, dst.nya. Polusi kota dihasilkan terutama oleh kendaraan bermotor, yang di Jakarta bisa menyumbang hingga 70 % polusi udara.

Dari Habitus ke Habitat Baru, dari Kesadaran ke Tindakan Perubahan

Kesadaran umum tentang perubahan iklim sebenarnya telah mencapai tahap yang menggembirakan. Al Gore boleh jadi adalah suatu fenomenon yang melambangkan hal itu. Kita sekarang perlu secara sadar masuk dan merancang serta melaksanakan tahap berikutnya: Tindakan Perubahan. Mungkin memang masih perlu disertai suatu upaya meng-konsolidasi-kan visi, meng-internalisasi-kannya ke dalam habitus individual maupun habitus kelembagaan, sehingga tindakan perubahan dapat terjadi berupa peri-laku orang perorang serta kebijakan kelembagaan.

Pendidikan Lingkungan ada dalam rangkaian ini, kelihatannya.


[1] Bahan Diskusi dengan pengurus Asosiasi Sekolah-sekolah Jesuit Indonesia, 14 Mei 2010.

[2] Melestarikan: menjadikan (membiarkan) tetap tidak berubah, membiarkannya tetap seperti keadaan semula. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002)

This entry was posted in Nature and Environment and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pendidikan Lingkungan, Catatan Pertemuan

  1. Pingback: Merawat Jakarta dengan Hadirnya Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Publik yang Seha | Catatan Progresif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s