Introducing Rujak Center for Urban Studies (RCUS)

RCUS didirikan untuk mengisi kesenjangan dalam proses peralihan masuk ke dalam abad ekologi. Semboyannya adalah “Menuju kelestarian kota dan wilayah”.

Namun, perlu ditegaskan bahwa menjadi lestari bukan hanya berarti selamat dari perubahan iklim dan bencana ekologis lainnya, tetapi juga menyelesaikan berbagai masalah perkotaan lainnya yang telah mendahului kesadaran kita tentang tentang masalah-masalah ekologis. Tetapi, kami percaya bahwa kesadaran akan ekologi, dan produksi pengetahuan yang dipercikkannya, telah memberikan perspektif dan kesempatan untuk merumuskan tindakan secara berbeda dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah perkotaan yang telah lama menunggu kita seperti misalnya kemiskinan, keadilan, pluralisme dan keberagaman, dan lain-lain. Sesungguhnyalah, semua itu telah memungkinkan suatu cara baru dalam membangun kota.

RCUS bermaksud memusatkan kerjanya pada kota-kota sebagai wilayah manusia yang merangkum kebanyakan, kalau bukan semua, persoalan masa kini dan masa depan manusia. Pada tahun 2007 dunia telah mencapai tingkat urbanisasi 50% karena terutama tingkat-tingkat urbanisasi tertinggi di kota-kota negeri sedang berkembang.
RCUS memandang keluar ke seluruh Asia Tenggara dan Timor Leste sebagai wilayah kerjanya, sementara mulai dengan berpijak kuat di Indonesia.

RCUS dibangun di atas pengalaman dan latar-belakang berbeda dari para pendirinya yang telah melakukan berbagai kegiatan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan secara tersebar di dalam dua dasawarsa terakhir, seringkali tanpa dukungan organisasi apa pun, karena mereka melakukannya sebagai “individu yang tidak terlembaga”, sebagai sukarelawan warga. Dalam perjalanannya, kami juga perlahan mengumpulkan dukungan yang tidak teratur, kadang dari orang perorang, kadang dari lembaga-lembaga. Para pendiri juga memiliki beberapa pengalaman profesional yang berhasil dalam bidang kepemerintahan yang baik, seni dan budaya, pusaka budaya, strategi pembangunanj, dan pembangunan kemabli pasca bencana (di Aceh).

Ketika kami belajar sambil berbuat, akhirnya kami sadar bahwa perubahan memerlukan rancangan langkah-langkah, skala dan kerjasama yang lebih besar, komitmen jangka panjang, daya tahan, dan karena itu peng-organisasi-an yang sungguh-sungguh. Kami berharap menggabungkan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan di bawah satu atap RCUS untuk membuat upaya kami lebih efektif.

Orientasi tetap kami adalah terus menerus memperluas kepemilikan perubahan lestari oleh warga, melalui prakarsa dan partisipasi aktifnya dalam membangun kota dan wilayah. Optimisme kami didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun bertemu dan bekerja dengan makin banyak prakarsa bebas dan otonom warga di tingkat akar-rumput. Dalam semua kerja kami, kami ingin selalu membangun prasarana, ruang dan kebiasaan bagi prakarsa dan partisipasi warga, bukan sebagai produk-sampingan, tetapi sebagai tujuan itu sendiri. Kami mendudukan diri kami sebagai fasilitator agar beragam pemangku-kepentingan dapat melanjutkan pekerjaan yang dimulai bersama-sama.

Hari lahir RCUS adalah 1 Mei 2010.

Mohon doa restu dan dukungan.

RCUS is founded to fill the gaps in the necessary process of transition into the ecological age. Our tag-line is “Towards sustainability of cities and regions”.

However, it must be emphasised that by sustainability we mean also solving other urban problems that have predated our awareness about ecological problems. Nevertheless, we do believe that the awareness about ecology, and new production of knowledge that it sparked, have created a new perspective and opportunities for conceptualising our actions differently to solve those other outstanding urban problems such as poverty, justice, pluralism and diversity, etc.  Indeed, they make possible a new way of building cities.

RCUS wishes to focus on cities as human territories that amalgamate most, if not all, of contemporary and future human problems. In 2007 the world has passed the irreversible 50% urbanisation rate, due mostly to the highest rates in cities of developing countries.

RCUS is looking out to the whole South East Asia and Timor Leste as it area of works, while starting firmly in Indonesia.

We are building on different experiences and backgrounds of RCUS’s co-founders who have been doing a multitude of research, capacity building and policy advocacy sporadically in the past two decades or so, often without any organisational support, as they did so as “non-institutionalised individuals”, as voluntary citizens. In the process we have gathered a lot of sporadic supports, too, sometime from individuals, sometime from institutions. They have successful proffesional working experiences in the fields of good governance, arts and culture, heritage, development strategy, and post-disaster reconstruction (in Aceh).

As we learned by doing, however, we realised that changes require designed steps, bigger magnitude and collaboration, long-term commitments, perseverence, and hence serious organising. We wish to combine research, capacity building and policy advocacy under one roof of RCUS to make our efforts more effective.

Our persistent orientation is towards ever expanding ownership of sustained changes by citizens, through their initiatives and active participation in city- and region-building. Our optimism is based on many years of encountering and working, at grass root levels, with growing number of citizens’s independent and autonomous initiatives. In all our works we wish to always build infrastructures, spaces, and habits for citizens’ initiatives and participation, not as by-products, but as the very goal itself. We envision ourselves as facilitators for multi-stakeholders to carry on works that we start together.

On May 6-9, 2010, we will conduct “foundation workshop” to shape RCUS’s vision, mission, and challenges map. It will be attended by 14 key players in urbanism and community development.

Marco Kusumawijaya

Suryono Herlambang

Elisa Sutanudjaja

This entry was posted in Arts, Language and Culture, News, Uncategorized, Urban Development, Urban Planning. Bookmark the permalink.

2 Responses to Introducing Rujak Center for Urban Studies (RCUS)

  1. aditya sani says:

    kalo boleh kasih saran: mungkin akan lebih baik, kalo tulisan ini berbahasa Indonesia, mas..:) biar lebih banyak yang tahu dan mengerti..

    Salam,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s