Surat Kepada Kawan Arsitek. Hal: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2010-2030

Saya menulis email ini untuk memperjelas, bahwa tujuan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 bukanlah sekedar hasil akhir RTRW 2030 yang baik, melainkan (proses) tata cara penyusunan RTRW 2030 yang baik.

Kami percaya bahwa proses yang baik akan menghindarkan hasil yang buruk. Selain itu, proses yang baik, yang intinya mengandung proses partisipatif, punya peluang besar menghasilkan kota yang baik, karena proses yang partisipatif dapat menggerakkan rasa memiliki dan tindakan bersama.

Suatu RTRW yang baik secara normatif, tanpa proses yang baik, tidak akan menghasilkan kota yang baik. Hal ini sudah terbukti selama 30 tahun terkahir, bukan?

Lagipula kalau kita bertujuan “RTRW yang baik”, maka kita akan terjebak pada “yang baik menurut kita, arsitek”. Karena itu mengharapkan suatu RTRW yang fleksibel, sehingga nanti para arsitek punya peluang besar membuatnya lebih baik (menurut arsitek), sebenarnya adalah kesalahan berpikir yang Koalisi ingin hindarkan, karena akan mengembalikan kita kepada elitism Orde Baru.

Suatu RTRW 20 tahun ke depan adalah suatu konsensus bersama. Kalau ada perbedaan pendapat, sebaiknya diselesaikan dalam prosesnya, bukan sesudahnya.

Itulah sebabnya kami menganggap peran kita sebagai “warga” (dikatakan Danny Wicaksono dengan bagus) lebih mendasar daripada peran kita sebagai arsitek, dalam memperjuangkan proses yang baik ini.

(Tentu dalam hal lain, peran kita sebagai arsitek akan menonjol dalam kesempatan yang tepat).

Kalau kita semua kompeten sebagai arsitek, sudah pasti pertama-tama kita kompeten sebagai “warga”.

Ke-arsitek-an kita adalah plus point untuk membantu warga semua mencapai tujuan bersama.

Tetapi, kalau kita hanya menekankan kompetensi kita sebagai arsitek, maka kita akan terjebak pada tujuan “RTRW yang normatif baik”, bukan yang “proses penyusunannya baik”.
Padahal, pada saat ini, perjuangan kita adalah untuk mendapatkan “proses yang baik” sebagai syarat membangun kota yang baik.
Itulah sebabnya kita mementingkan wacana di ruang publik, meskipun tidak mengabaikan lobby di lorong-lorong balai kota, yang juga sedang dilakukan…Misalnya, tadi pagi beberapa teman menemui fraksi PKS di DPRD dan akan melakukannya dengan fraksi-fraksi lain juga.

Kalau tujuannya hanya “rtrw yang baik menurut kompetensi arsitek”, maka memang mudah mencapainya dengan lobby di balai kota.
Tetapi, itu akan berarti kita mengkhianati rakyat kita, rakyat Jakarta, yang sama sekali tidak mendapat peluang yang sama dengan kita (karena kita sarjana) untuk juga didengar di balai kota.

Kiranya ini dapat dipahami sebagai latar belakang mengapa saya menekankan pentingnya IAI Jakarta merumuskan dengan baik “tujuan” dari IAI Jakarta.
Tujuan substantif (dengan mengandalkan kompetensi kita sebagai arsitek) tidaklah bertentangan dan dapat berjalan seiring dengan tujuan proses (yang mengandalkan eksistensi kolektif kita sebagai warga).
Tetapi, penekanan pada yang pertama saja malah akan menjauhkan kita dari pembangunan kota yang baik, karena akan menjadi elitis. Padahal, kalau tujuan kedua (proses) tercapai dulu, maka dengan mudah kompetensi kita sebagai arsitek dapat digunakan secara terbuka untuk menghasilkan (obyek) RTRW yang baik. Jadi yang harus dicapai pertama adalah proses yang baik, di mana kita nanti sebagai apa saja bisa brperan penting.

Saya merasa sebenarnya generasi pasca-98, termasuk Danny Wicaksono dan yang lain dapat lebih mudah mengerti ini karena pada kalbu kalian terdapat kesadaran politik yang lebih matang. Saya malah belajar dari kalian, setelah mengamati 20 tahun kegagalan pembangunan kota-kota kita. Tetapi saya menulis ini hanya untuk memperteguh saja, apa yang saya yakin sudah ada di kalbu Bung dkk.

Semoga masukan ini berguna bagi Bung merumuskan tujuan IAI Jakarta yang bijak. Saya bersimpati dengan tugas mulia Bung, dan berharap semoga semua baik bagi IAI. Banyak terima kasih atas kesempatan membaca email saya ini.

Salam hangat, Marco Kusumawijaya editor, http://www.rujak.org mkusumawijaya@rujak.org http://www.mkusumawijaya.wordpress.com

This entry was posted in Jakarta, Urban Planning. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s