Bahasa Sang Pemimpi

Terbit sebelumnya di Kolom Bahasa! Majalah TEMPO, 11-17 Januari 2010

Bahasa Sang Pemimpi bukan film pertama yang membuat kita merenungkan kembali bahasa setempat. Sebelumnya, salah satu film dalam Perempuan Punya Cerita oleh Nia Dinata berbahasa Sunda hampir menyeluruh di dalamnya, sesuai dengan lingkungan ceritanya. Sarah Sechan dan Anisa Nurul Shanty, dua pemeran tokoh utama dalam film itu, kebetulan memiliki Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu-nya. Maka Bahasa Sunda di dalam film itu sangat berhasil.

Yang unik pada Sang Pemimpi adalah antara lain Landung Simatupang, keturunan Batak yang harus berbahasa Belitung di dalam film tersebut, padahal sehari-hari  di Jogja ia berbahasa Jawa. Begitu pula ayahnya, yang saya kenal sebagai guru di SMA De Britto, Yogyakarta. Kami memanggilnya Pak Sim, dipendekkan dari Simatupang. Beliau tidak seperti Pak Mustar yang diperankan Landung. Meskipun tegas, ia senada dengan bahasa yang beliau gunakan sehari-hari di rumahnya, Bahasa Jawa, yang kata orang lemah lembut. Bahasa Indonesianya pun kental, medhok, dengan aksen Jawa. Sedang Nugie, generasi yang sehari-hari berbahasa Indonesia “pusat”, nampak kesulitan melantunkan Bahasa Belitung.

Bahasa setempat mau tidak mau harus dipikirkan serius ketika dunia film Indonesia ingin bercerita tentang keadaan-keadaan di seluruh Indonesia. Sebab, kenyataannya di hampir seluruh Indonesia, kecuali di Jakarta dan sekitarnya saja, menggunakan bahasa setempat masih merupakan kelaziman di dalam kehidupan sehari-hari di ruang privat, semi-khalayak, maupun di ruang khalayak tertentu. Bahkan di sekolah-sekolah: Bahasa Indonesia memang digunakan di dalam ruang kelas, tetapi di halaman sekolah ketika jam istirahat, sebagian besar siswa berbahasa setempat. Jadi bagaimana?

Ada banyak pilihan. Saya hanya ingin tawarkan salah satu kemungkinan: perlakukan bahasa setempat sebagai suatu bahasa yang utuh dan bukan bawahan. Karena itu pertama-tama saya gunakan “bahasa setempat”, bukan “bahasa daerah”. Yang belakangan ini mengandung tafsir hirarkis dan siratan inferior, karena “yang daerah” adalah dibawah “yang nasional”. Secara asal-usul, bahasa-bahasa memang dapat dijelaskan seperti suatu pohon keturunan, atau dalam rumpun-rumpun.  Tetapi, makin lama, karena pergaulan yang tak henti dan makin kencang serta kental, setiap bahasa mengembangkan identitasnya sendiri melalui peramuan serapan yang unik.  Bukan hanya Bahasa Indonesia yang berhak dan telah menyerap kata dari bahasa-bahasa setempat di seluruh Indonesia. Bangka, sebuah pulau di sebelah Belitung, menurut Prof. Teuku Jacob (dalam percakapan pribadi) berasal dari Bahasa Aceh yang berarti pohon bakau. Pengaruh kesultanan Aceh memang pernah sampai di Bangka, dan pengaruh itu datang mungkin terutama dari arah barat. Pantai barat Pulau Bangka adalah hutan bakau lebat dan luas, setidaknya di masa lalu. Tidak heran kalau ditemukan beberapa kata Bahasa Bangka yang lebih menyerupai Bahasa Aceh daripada Bahasa Palembang atau Sumatera Selatan.

Oleh keserupaan gramatika dan kosa kata, bahasa-bahasa memperoleh identitas keserumpunan.  Tetapi bahkan di dalam bahasa-bahasa serumpun itu terdapat ungkapan-ungkapan khas, yang terkait dengan alam dan budaya setempat. Karena keadaan kepulauan yang terkadang terasing, yang setempat itu berkembang cukup kuat.  Inilah kekayaan tak terhingga yang seharusnya tak boleh hilang, dapat ditawarkan kepada siapa saja di masa depan.  Ia mengandung pengetahuan dan kearifan setempat. Menggunakan bahasa setempat semestinya bukan hanya menggunakan gramatika dan kosa kata, tetapi juga ungkapan-ungkapan khasnya itu. Melaluinya kita memelihara keanekaragaman budaya dan alam.

Apakah Bahasa Indonesia akan melemah, kalau kita memupuki bahasa setempat? Ah, Bahasa Indonesia adalah kesepakatan, yang sudah pula bertuah banyak dan disadari sepenuhnya. Tumbuh kembangnya bahasa-bahasa setempat akan memperkaya keanekaragaman budaya, yang terkait pula dengan keanekaragaman hayati. Lalu terserah bagaimana bahasa-bahasa itu mau bergaul dalam suatu kerangka interkulturalisme, bukan lagi multikulturalisme. Dalam interkulturalisme, tiap-tiap budaya tumbuh kembang sambil sengaja giat bergaul dengan yang lain, bukan sekedar membiarkan involusi di dalam diri masing-masing. Hasil akhirnya nanti kita tidak pernah akan tahu. Buat apa tahu? Apalagi khawatir? Tidak perlu ada fobi akan kebhinekaan.

Ringkasnya saya membayangkan makin banyak film Indonesia menggunakan bahasa setempat sesuai dengan keperluan lingkungan dan isi cerita, sepenuh hati tanpa tanggung-tanggung. Lalu adakan saja subtitle Bahasa Indonesia, yang dengan demikian berarti diperlakuan sebagai suaru bahasa tersendiri pula, bukan sekedar perkembangan dari Bahasa Melayu. Tidak perlu segan menggunakan tiap-tiap bahasa setempat sebagaimana ia digunakan lazimnya dalam kehidupan sehari-hari di tempat bersangkutan, kalau memang pendekatannya adalah realisme yang ingin mencerikan secara wajar kehidupan di tiap tempat. Bukankah kira-kira akan makin banyak bahasa dan budaya setempat yang kita hormati hidup dan tampilnya dalam ruang khalayak bernama Indonesia dan dunia, setidaknya mungkin melalui media yang bersifat massal seperti film?

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bahasa Sang Pemimpi

  1. Roy Thaniago says:

    Ya, saya kira memang ide seperti ini perlu untuk memperkaya khazanah budaya kita. Dan saya pikir, kalau pun bahasa setempat maju (istilah Anda), ini tidak berarti membunuh bahasa pusat. Justru sebaliknya: memperkaya bahasa nasional, yg kadang tampak congkak dan angkuh itu.

    Hanya sayang, mapannya kemalasan penulis dan wartawan, membuat bahasa setempat tidak dikenal luas. Karena mereka, penulis dan wartawan tersebut, tidak mau repot, dengan langsung menghamba pada istilah asing (trutama Inggris). Padahal, istilah asing tersebut lebih baik dicari padanannya dahulu dalam “bahasa daerah”, kalau tidak ditemukan di bahasa nasional. (terpaksa menggunakan “daerah”, karena sulit kalau menggunakan “setempat”. Saya pikir ini hanya untuk mempermudah definisi kerja untuk menjelaskan saja).

    Menarik, mas!
    Salam kenal!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s