Pikiran dan Seni

Sambuatan pada Pameran Hasil Workshop “Ruang Tinggal Kota”, Galeri Salihara, 9-16 September 2009.

Kita hanya dapat berpikir tentang kota, tidak merancang dengan ambisi mewujudkan kota sepenuhnya sesuai spesifikasi kita.

Kota terlalu kompleks untuk dapat sepenuhnya dikenali oleh suatu metoda atau disiplin. Kota terlalu liar untuk dapat sepenuhnya dikendalikan oleh suatu rencana. Kita bersyukur. Sebab, ketika sebagian atau suatu fragmen kota terkadang memang dapat diwujudkan sepenuhnya sesuai spesifikasi rencana, biasanya itu adalah tanda dari suatu momen tragis dalam sejarah. Sebab, bahkan ketika suatu kota memberi kesan “teratur” karena ada kerangka besar, struktur garis-besar yang nampak oleh turis, ada lebih jamak gejala-gejala yang tidak hentinya berubah dan membentuk hubungan-hubungan baru secara “tidak teratur” di luar rancangan, mengagetkan para perencana kota, menelikung skenario, tetapi membuatnya dicintai penghuni dan pengunjung serius yang punya waktu menelusuri jalan kecil dan menyesatkan diri di dalam jalinan ruang-ruang kecilnya.

Tetapi hal itu tidak berarti orang berhenti membayangkan bentuk kota visioner untuk masa-depan yang bisa jauh bisa dekat. Biasanya ada tantangan atau kekurangan masa kini yang harus secara radikal dijawab, dan kecenderungan ke masa depan yang sejak sekarang harus diantisipasi.

Tujuannya? Mendesak pemikiran baru tentang kemungkinan baru.

Mengapa harus dini? Supaya ada persiapan, supaya ada pengolahan, supaya kita tidak diterpa masa depan begitu saja, dan dapat membayangkan sebuah tempat baru yang semuanya sempurna—suatu Utopia (Thomas Moore, 1516).

Suatu utopia tentu saja tidak pernah dapat dicapai. Seperti horison, ia pun bergerak terus. Tetapi, ia menarik orang untuk terus menerus bersikap antisipatif dan memikirkan apa yang mungkin diperbuat. Ia memberikan harapan di ufuk. Sebaliknya, suatu distopia, “mematikan” orang menjadi setidaknya hanya mampu bersungut-sungut saja, seperti banyak orang yang melihat Jakarta sudah menjadi distopia.

Sejarah arsitektur penuh dengan kemunculan utopia dan distopia yang menandai babak-babak dalam pemikiran dan, pada gilirannya, wujud seni arsitektur.

Utopia menjadi jembatan antara pemikiran dan seni arsitektur. Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir “menyempurnakan” masa depan untuk semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama,  karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif.

Hampir dua puluh tahun lalu AMI mencoba menyelenggarakan program serupa tentang kota –disebut Kotak-Katik-Kota-Kita—dan gagal, tidak bergerak, tidak menghasilkan apa-apa. Lima tahun lalu, Imagining Jakarta (2004) mengerja-samakan para arsitek dan seniman, dan mewujudkan pertama kalinya imajinasi visoner tentang beberapa ruang kota Jakarta, karena menyalurkan energi pada masyarakat yang setelah 1998 mulai sangat sadar akan kualitas hidup di dalam kota. Sekarang, melalui rangkaian bengkel-kerja yang menghasilkan pameran ini, para arsitek sendiri menunjukkan pemahaman yang jauh lebih dalam dan jauh lebih terampil dibandingkan yang seumur mereka dua puluh tahun lalu.

Ada kemajuan.

Jakarta, September 2009. Marco Kusumawijaya (Ketua Pengurus Harian, Dewan Kesenian Jakarta).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s