Catatan atas Gerakan Kebudayaan melawan Lupa Kekerasan

Disampaikan pada pembukaan pameran Grafis Melawan Lupa, Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 3 Juni 2009.

Kawan-kawan lama dan Saudara-saudara budiman,

Sesungguhnya kata “gerakan kebudayaan” menakutkan saya. Gerakan sosial saja, ketika membayangkan bukan saja suksesnya tetapi juga harganya, telah membuat saya gentar. Apalagi gerakan kebudayaan. Gerakan sosial memperjuangkan perubahan sosial, implementasi dari nilai-nilai yang kurang lebih telah beredar dan dipercayai oleh masyarakat, pada tatanan sosial. Sedangkan gerakan kebudayaan ingin mengubah nilai-nilai yang dianut, atau setidaknya memperluas penerimaan, meng-arus-utaman-kan nilai-nilai itu di dalam masyarakat.

Bukankah berbagai macam gerakan kebudayaan, dalam berbagai samaran, telah kita kenal dalam sejarah menimbulkan harga yang mahal: Cina dan Iran adalah contoh yang belum lama berselang di abad lalu. Di abad sebelumnya, abad ke-19, modernisasi pendidikan yang sentralistis dan “dari atas” di masa Bismarck di Jerman, diperdebatkan sebagai salah satu faktor pembentuk suasana hati galau yang mendorong bangsa Jerman mendukung Hitler. Memang diperdebatkan, bahwa bukan pendidikan itu sendiri yang menjadi faktor, tetapi modalitas programnya yang sentralistis dan memaksa dari atas ke bawah. Revolusi Kebudayaan Cina telah menimbulkan sesal tidak terkira atas hilangnya pusaka budaya yang kaya: Ketika apa yang sisa dipandang melalui mata yang berlinang air-mata, semuanya tidak lagi tampil benar atau salah, melainkan memantulkan perjuangan manusia hidup berjalan dalam waktu dan dunia yang fana. Sedangkan di Iran, sisa-sisa itu menjadi gerakan bawah tanah.

Di Indonesia, dengan caranya yang khas, Orde Baru menanamkan nilai-nilai baru dengan cara yang halus, barangkali juga tidak dengan desire to harm, meminjam definisi Mahatma Gandhi atas “kekerasan”. Barangkali juga tidak dengan sadar pada tataran nilai itu, tetapi sadar pada tataran pragamatis dan praksisnya. Salah satu teori kebudayaan memang mengatakan lebih efektif mengubah “nilai” kebudayaan melalui pengubahan pada praksisnya.

Satu hal kiranya benar pada semua kasus: gerakan kebudayaan tidak pernah berhasil sepenuhnya mengganti yang lama dengan yang baru. Yang lama dan yang baru selalu berbincang menghasilkan yang lain.

Saya tahu, bukan “gerakan kebudayaan” seperti itu yang kita kehendaki. Kita dapat berdebat, bahwa gerakan kebudayaan tidak harus revolusioner. Selain itu, kita dapat memberikan arti lain pada gerakan kebudayaan: gerakan yang justru berbasis pada kebudayaan itu sendiri. Tetapi, kuatkah imajinasi kita membayangkan sesuatu yang lain dari gerakan kebudayaan? Bahkan, benarkah sudah terang apa yang dimaksud dengan “gerakan yang berbasis kebudayaan” itu?

Prasangka baik saya memberitahu, bahwa kemungkinan besar penggunaan (pendekatan) “gerakan budaya” ini adalah justru dengan maksud menghindari kekerasan. Bekerja pada tataran nilai-nilai, kesadaran, dengan persuasi, dengan dialog, memberitahu, dianggap tidak perlu melukai siapapun. Selain itu nampaknya ada kepercayaan bahwa perubahan pada nilai-nilai pada akhirnya akan mengalir sampai kepada perubahan lain-lain. Kepercayaan pada kemungkinan perubahan damai ini terutama ditekankan pada keinginan bernegosiasi dengan sejarah: Kesudian bernegosiasi berarti mengakui eksistensi pihak yang diajak bernegosiasi. Perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang bukan memutuskan diri dengan sejarah, tetapi perubahan yang mengakui sejarah.

Tetapi hakekat sejarah yang juga ilusif telah menjadi argumen dari mereka yang dianggap bertanggung jawab atas bencana sejarah: “Nyatanya proses hukum telah membebaskan saya,” katanya. Sejarah itu apa? Sejarah tidak lain adalah konstruksi hukum.

Saya kira kita juga layak kembali berpikir melanjutkan gerakan sosial. Kita tidak boleh berpikir telah gagal. Kita telah berhasil dalam beberapa hal, tetapi belum berhasil dalam beberapa hal lain. Kita justru harus hati-hati terhadap godaan yang sama, ialah ingin hasil cepat permanen, yang mungkin telah mendorong kita berpikir meninggalkan gerakan sosial dan ingin gerakan kebudayaan. Pada akhirnya nilai-nilai harus diterjemahkan ke dalam praksis sosial dan akhirnya dikukuhkan dalam lembaga-lembaga.

Yang dapat diubah secara nyata adalah praksis dan lembaga-lembaga itu. Arusnya terbalik. Bentuk diubah supaya nilai menjadi nyata, dan kemudian mngaarus-utama. Sebagian reformasi mungkin gagal karena ketika proses perubahan praksis dan lembaga terjadi, kita tidak berhasil memandunya dengan lampu yang terang menunjukkan nilai-nilai itu secara konsisten. Mungkin juga kita kekurangan pemimpin yang konsisten dalam berbagai lembaga yang perlu kita ubah. Tetapi di sana-sini selama 5 tahun terakhir kita mulai mendengar, dan tidak boleh mengabaikan, adanya perubahan-perubahan yang persisten dan konsisten didorong. Tetapi kerja ini belum selesai. Tidak bisa dihindari, dan kita bahkan tidak boleh mundur kembali hanya membahas nilai-nilai, apalagi mau mengubah nilai-nilai secara langsung tanpa melalui proses simultan mengubah praksis dan lembaga-lembaga.

Saudara-saudara budiman,

Suatu ketika, saya terkesima ketika seorang seorang intelektual Austria terkemuka, seorang direktur museum utama di Vienna, “Dalam kebudayaan Anda masih ada “kebenaran”, ada norma yang diterima tanpa dipertanyakan. Di kami hal itu sudah tidak ada. Yang ada hanya kalkulasi. Itulah modernitas. Itulah rasionalitas.”

Saya merasa ragu, sebab terang bahwa modernisasi bukanlah satu-satunya kambing hitam yang layak dituding.

Bangsa-bangsa Asia Tenggara memang enikmatik. Bangsa-bangsa ini umumnya bangga mengakui religiositas—setidaknya spiritualitas—mereka. Terhadap orang asing mereka ramah dan selalu menjamu. Tetapi sejarah modern pasca-kolonialnya penuh kekerasan di antara mereka sendiri. Hingga kini. Tidak usah menyebut yang telah lalu. Yang masih berlangsung pun banyak. Di Burma, misalnya. Di Thailand, beberapa bulan sebelum pemerintahan Thaksin jatuh (saya, para pengikutnya melempari kantor suatu media massa yang pemiliknya berubah dari sahabat menjadi oposisi Thaksin, dengan kotoran babi. Perusahan-perusahaan pertanian dan pertambangan, dengan atau tanpa dukungan pemerintah, melakukan kekerasan terhadap penduduk yang bahkan berteriak pun sudah tidak sanggup. Sehari-hari bangsa-bangsa ini tampil penuh pesona dan penuh kehangatan. Stan Sesser mengulas enigma ini 20 tahun lalu dalam buku dengan judul yang sesuai, ialah The Lands of Charm and Cruelty. Bahkan Singapura adalah Prisoner in the Theme Park, menurut Sesser. Meskipun tidak sama dengan bayangan kita akan Khmer Rouge, tentu saja, suatu kengerian bagaimana pun terasa hadir dalam suatu bentuk yang aneh, enigmatik, di balik senyum-senyum dan kesejahteraan yang damai.

Agak ke barat, di Srilangka, dengan penduduk mayoritas percaya kepada Buddisme, tidak mungkin dikatakan kekerasan berasal dari agama itu. Kita mungkin harus dapat menerima dengan sikap waspada, bahwa benih-benih kekerasan—desire to harm—senantiasa ada di dalam kita. Gerakan sosial kita perlukan untuk menghasilkan tatanan dan lembaga-lembaga yang mencegah benih-benih itu mewujudkan dirinya.

Mungkin juga persoalannya lebih sederhana, ialah bahwa kekerasan itu tertanam dalam kepentingan-kepentingan yang masih sulit kita cerabut akarnya. Perubahan, betapa pun, menimbulkan kesulitan. Tidak semua orang mendapat keuntungan seketika dari perubahan. Sebagian merugi. Dari yang merasa merugi ini, bilang berkuasa, akan menggunakan kekuasaannya untuk mempertahankan perubahan kondisi yang selama ini telah memudahkannya. Batas dari penggunaan kekuasaan, kita tahu, seringkali kabur, sebenarnya sama kaburnya dengan ilusi dari kekuasaan itu sendiri, yang juga sering kabur, bahkan salah menafsir kehendak dari perubahan yang sedang terjadi, sehingga merasa harus melawan habis-habisan. Kekerasan, bagi mereka, hanyalah pilihan yang logis, penuh kalkulasi. Jangan dikecilkan makna kesulitan ini, sebagai bagian dari keharusan beroperasi secara rasionalnya suatu negara-bangsa modern.

Modernisasi terkadang menghasilkan kalkulasi yang dingin dan tidak mengenal norma. Mungkin juga kekerasan itu inheren di dalam setiap perubahan.

Perubahan, dan pencerahan, tidak pernah sekali jadi. Ia terus menerus merupakan tantangan yang memerlukan kerja. Siddharta, setelah mencapai apa yang disebut pencerahan, setelah mengalahkan nafsu yang dilambangkan oleh ketiga perempuan puteri Mara, pada awalnya sempat menolak Ibu tirinya untuk menjadi pengikut sangha, karena ia perempuan. Insiden ini, yang jarang diungkapkan, membuat kita berpikir, bahwa pencerahan mungkin memang bukan suatu peristiwa sekali jadi, tetapi tidak pernah selesai dan terus menerus harus diupayakan. Sebab itu Siddharta terus bersemedi sepanjang sisa hidupnya pasca-pencerahan di taman. Tidak ada tujuan lain dari semedi kecuali untuk pada akhirnya mencapai pencerahan. Mungkin hal itu juga berarti bahwa pencerahan terakhir adalah pembebasan dari kungkungan kebudayaan yang menghasilkan tatanan ilusi, yang dalam hal Siddharta, anggapan tentang perempuan. Pengetahuan saya yang terbatas tentang argumentasi Siddharta tidak memungkinkan saya menafsir lebih jauh.

Saudara-saudara budiman,

Saya menutup sambutan ini dengan menegaskan, bahwa memahami tidak sama dengan memaafkan atau membiarkan. Jauh dari itu, saya ingin mengajak kita semua terus bekerja keras membat perubahan menjadi nyata, dalam tatanan dan kelembagaan sosial kita. Tidak boleh ada ilusi bahwa semua sudah selesai. Tidak boleh ada ilusi bahwa kita telah gagal. Kita hanya belum berhasil secara cukup tuntas. Kita semua lelah, tetapi tidak boleh patah.

Sejarah kita ajak berunding. Sudah itu kita ajak berjalan lagi, disamping kita.

Selamat bekerja.

This entry was posted in Arts, Language and Culture. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s