Bahasa Jalan

Terbit sebelumnya di Majalah Tempo, 1-7 Juni 2009

Apa salahnya aspal–?/Di kota aspal aku betah, demikian tulis Bertold Brecht. Dengan aspal, permukaan jalan untuk mobil telah menjadi lebih halus daripada kaki-lima untuk pejalan kaki, bertentangan dengan UU abad ke-18 di Inggeris yang memberikan syarat permukaan untuk pejalan kaki harus lebih halus daripada yang untuk kendaraan. Sejak itu selamanya makna jalan menyempit jadi sedikit. Padahal, jalan memberikan struktur pembacaan tentang kota. Ia ruang khalayak sesejatinya. Karena itu, perilaku di jalan mencerminkan watak bangsa.

Kata sederhana “pejalan-kaki” makin menghilang, digantikan oleh pedestrian. Entah apa gunanya menyerap kata baru yang tidak memperkaya makna, tetapi sekedar lagak berbahasa Inggeris saja. Ada makin banyak orang pula yang mengartikan “kaki-lima” sebagai kaum “pedagang kaki lima”. Kaki lima adalah tempat, bukan orang yang berdagang, di sisi jalan. Pada asal usulnya, pasar dan jalan memang tidak terpisah. 

Kini memang pejalan kaki menjadi yang paling lemah, padahal dia lah yang paling menentukan budaya berkota dan meng-kota. Pejalan kaki adalah ahli kota yang sesejatinya. Ia kritikus paling jitu dan sahih atas proses pengotaan yang tidak memanusiakan, tapi malah menyerigalakan. Pada irama lamban ia menemukan momen-momen kritis dari semua masalah kota, merasakan lebih nyata semua polusi, bau sampah, ketidakrataan jalan, ketidakadilan, tanda-tanda kepunahan kebudayaan otentik atau peradaban yang manusiawi. Ia mengalami himpitan, ketersingkiran, reduksi dan represi oleh rencana-rencana, kehilangan ruang-ruang kecil, ruang-ruang pribadi dengan rahasia-rahasianya, karena paksaaan rejim ruang teknokratis yang cartesian. Ia mengalami kota tanpa terbiaskan oleh status sosial, kuasa kecepatan dan tenaga mesin. Kualami kelam malam dan mereka dalam diriku pula,  tulis Chairil Anwar dalam Aku Berkisar antara Mereka (1949).

Selain sebagai tempat lewat yang menghubungan dua tempat, kota, dan sebagainya, jalan juga berarti berlangsungnya sesuatu,  misalnya pada ‘jalannya pertemuan’ atau ‘jalannya cerita,’ atau berarti kelangsungan hidup, misalnya dalam ‘jalannya organisasi menjadi susah karena tekanan politik Orde Baru.’ Ia juga dapat berarti runtunan dan tatanan seperti pada ‘jalan pikiran’ dan ‘jalan bahasa;’ atau berarti nasib seperti pada ‘jalan hidup,‘ atau kesempatan untuk maju pada ‘jalan naik.’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).

Ada sejumlah ungkapan dengan kata jalan, misalnya: jalan buntu, jalan pintas, jalan simpang (persimpangan jalan), jalan tengah, jalan terbuka (yang berarti kesempatan), jalan lurus (yang berarti cara yang benar, jujur), jalan-jalan (bersenang-senang, bertamasya), menjalani (yang berarti menempuh, melalui suatu peristiwa atau prosedur seperti operasi, pemeriksaan), menjalankan (melaksanakan, mengamalkan, mematuhi ajaran tertentu); jalanan (bermutu rendah), orang jalanan, besar (atau tua) di jalan, membawa masalah ke jalan, kita sejalan (sepaham, se-visi), dan bahasa jalan(an).

Ada juga banyak pepatah dengan kata ‘jalan’, misalnya dalam Badudu dan Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 2001: Sedepa jalan ke muka, setelempap jalan ke belakang (kalau mempertimbangkan sesuatu, jangan hanya melihat manfaatnya saja, mudaratnya juga harus dilihat; selalu berhati-hati di sebarang pekerjaan); berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah (haruslah selalu berhati-hati pada sebarang pekerjaan agar tak beroleh kesusahan); berlayar bernakhoda, berjalan bernan tua (mengerjakan segala sesuatu harus selalu mengikuti petunjuk orang yang sudah berpengalaman, yang lebih tahu); jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak yang dirasai (orang yang merantau banyak pengetahuannya dari yang dialaminya); jalan mati lagi dicoba, ini pula jalan binasa (orang yang sangat berani tak takut menghadang bahaya); sesat di ujung jalan, balik ke pangkal jalan (kalau pembicaraan sudah menyimpang, kembalilah ke pokok pembicaraan semula); jalan raya titian batu (adat yang lazim sejak dahulu kala); dan jalan diasak orang lalu (atau orang menggalas) (adat kita diubah oleh pendatang, orang asing).

Kita kenal juga kata “jalan raya.” Kata ‘raya’ memberi arti sesuatu yang dimeriahkan dan dimuliakan, lebih daripada sekedar berarti lebar untuk lewat mesin-mesin.

Jalan punya sejarah makna yang kaya, karena berperan sebagai ruang bermasyarakat yang kompleks. Jalan dihidupi dan hidup di dalam budaya, di dalam bahasa kita. Mungkin karena budayanya maka orang Indonesia menyebut ‘lampu merah’ (dengan warna!), ketimbang menyebutnya secara teknis sebagai ‘lampu lalu-lintas’. Dan, yang dipilih adalah ‘merah’, bukan ‘hijau’ atau ‘kuning’.

This entry was posted in Arts, Language and Culture and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s