ARSITEKTUR PASAR, DULU….

 

Pasar Sentral di pusat kota Medan

Pasar Sentral di pusat kota Medan

Kota memang berhulu pasar, dan pasar berhilir kota. Artinya kota memang dibentuk atas dasar adanya cikal-bakal pasar, dan pasar akhirnya mendorong terbentuknya kota. Begitulah misalnya Bukittinggi dan Surakarta.

Pasar-pasar yang dibangun di awal abad ke-20 di kota-kota besar Hindia-Belanda dirancang oleh arsitek terkemuka dengan penuh rasa hormat akan fungsinya sebagai ruang khalayak dan empati pada ekonomi rakyat. Pasar-pasar ini menggunakan teknologi termaju pada masanya, dan arsitektunya bukan sekedar bergaya kontemporer seperti art-deco, tetapi juga menunjukkan adanya upaya penerokaan bentuk yang kemudian menjadi bagian dari proses memajukan arsitektur di Indonesia ke masa depan.  Ditilik dari jenis barang yang diperdagangkan, dan cara-cara berdagangnya, semua ini dapat disebut pasar “tradisional”, tetapi kualitas intrinsik arsitekturalnya, yaitu bentuk ruang dan bentuk luar, serta rancangan unsur-unsurnya, sungguh maju dan modern, bahkan lebih terolah dengan baik dibandingkan banyak mall masa kini. Letak pasar-pasar ini di dalam kota pun menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap pasar sebagai pusat kehidupan khalayak ramai.

Pasar Gede Hardjonagoro, 1930, yang dirancang Thomas Karsten, seorang arsitek cendekiawan terkemuka pada jamannya dan hingga sekarang, peletak dasar-dasar tata kota Indonesia, terletak  berhadapan dengan Gubernuran (sekarang Balai Kota Surakarta). Keduanya dihubungkan oleh sebuah jembatan di atas Kali Pepe. Setelah kebakaran habis pada tanggal 28 April 2000, para pedagang meminta pasar ini dibangun kembali sesuai aslinya, sebagai yang sekarang kita lihat.

DSC02397 

Pasar Gede sebenarnya terdiri dari beberapa toko-blokken, selain blok utama yang langsung menghadap ke balaikota. Blok di sebelah kiri menarik karena memiliki selasar dan sudut-sudut lantai atas yang terbuka sehingga menjadi tempat warung kopi yang ideal untuk menonton kehidupan pasar di bawahnya, ke berbagai arah. Pada bangunan utama, lapisan terluar pada lantai bawah terdiri dari kiosk-kiosk yang bersikap positif terhadap kota, menghadap ke jalan, tidak seperti mall sekarang yang bersifat introvert, anti-urban, membelakangi jalan. Di atasnya terdapat pasar daging, tidak seperti umumnya pasar sekarang yang meletakkan pasar daging di bawah dengan alasan becek. Bau daging naik ke atas bersama pergerakan udara. Dinding lantai atas ini sebagian besar terbuka, terdiri dari anyaman kawat, sehingga terjadi arus silang udara (cross-ventilation) yang mengurangi bau dan mendinginkan udara di dalam. Sebuah halaman terbuka di dalamnya menyambut pengunjung setelah melewati pintu masuk utama yang menghadap ke balaikota. Di atas pintu masuk ini adalah sebuah balai besar dengan langit-langit yang tinggi, tempat berkantor pengelola pasar, yang dari ruangan ini dengan leluasa dapat melihat ke berbagai arah ke luar maupun ke dalam pasar.

Petak-petak para pedagang diberi ketinggian, sehingga mempermudah cara-cara berpasar pribumi: penjual duduk bersila di atas petak, dan pembeli berhadapan dengannya sambil berdiri. Petak yang berketinggian juga memudahkan pemikul menurunkan barang dagangan langsung dari punggungnya.

Dengan rancangan morfologis demikian, Karsten berhasil menciptakan suatu pasar kota yang bersih dan modern, meskipun kegiatannya tradisional. Pada tingkat artistik, Karsten meneroka penggunaan atap vernakular nusantara, meskipun bentuk akhirnya, termasuk badan utama bangunan, tidaklah se-eksotik karya-karya arsitek Hindia-Belanda lain yang sejaman dengannya. Karsten memang dikenal lebih rasional ketimbang romantik, mencoba-coba bentuk-bentuk nusantara secara lebih dingin dan rasional.

 

DSC02504

Thomas Karsten juga merancang Pasar Johar (1933) di Semarang. Pasar ini memajukan penggunaan teknologi beton bertulang sampai ke batas terjauh yang mungkin pada jaman itu. Kolom-kolom bebas yang berbentuk jamur melebar di puncaknya, membentuk atap yang menyisakan lubang-lubang cahaya yang menegaskan bentuk ruang tinggi di bawahnya. Konstruksi kolom jamur ini bahkan mendahului bangunan lain yang menggunakan bentuk dan teknologi serupa yang jauh lebih terkenal dalam sejarah arsitektur dunia, yaitu Johnson Wax Administration Center, di Racine, Wisconsin, karya Frank Lloyd Wright pada tahun 1936, tiga tahun setelah Pasar Johar. Sedang pada bentuk ruang dengan atap melengkung di bagian tengah, ekspresi bahan beton telanjang, garis-garis dan tekstur industrial yang lebih tegas, serta pencahayaan yang menerawang menembus dinding, kita dapat merasakan inspirasi dari karya August Perret, Le Raincy Church, dekat Paris, 1922-1923.

Progresivitas seperti di atas tidak hanya kita temukan pada bangunan pasar, tetatpi juga di hampir semua bangunan khalayak lainnya pada masa itu. Penerokaan teknologi struktur maju untuk membentuk ruang arsitektur yang mengesankan terjadi juga misalnya pada aula kampus ITB oleh McClaine Pont. Contoh lain, yang kini mendesak untuk diperhatikan karena terancam oleh mall, adalah Stasiun Jakarta Kota, yang menggunakan pelengkung baja tiga sendi, yang nenek moyangnya dapat kita telusuri hingga karya C.-L.-F Dutert, yaitu Galerie des Machines, Paris, 1889. Komponen-komponen struktur demikian harus difabrikasi secara khusus hanya untuk bangunan tersebut. Ide tentang “menyatunya” struktur yang dimungkinkan oleh teknologi termaju dengan ruang arsitektur yang sebanding kualitasnya, adalah sekaligus modern dan arkitipal, yang tidak kita temukan lagi dalam banyak bangunan baru sekarang.

DSC02370

Di Medan, proyek pasar yang terbesar adalah Pasar Sentral seluas total 10 ha lebih. Dirancang oleh J.H. Valk, kompleks ini terdiri dari  toko-blokken bergaya strakke nieuw-zakelijkeheid yang kontemporer pada masa itu di lapisan terluar, dan empat los pasar, yang masing-masingnya “sebesar katedral” dengan atap susunan genteng, bergaya Amsterdamse School. Oleh penulis Beeld van een Stad, Medan, M.A. Loderichs, pasar ini disebut “sebuah pesona seni bangunan yang bergaya dan berani”. Letaknya pun di tengah kota, hanya dua blok dari Esplanade, Lapangan Merdeka sekarang, yang pada masanya adalah sebuah pusat kehidupan khalayak yang ramai. Pada Esplanade ini menempel stasiun, dalam situasi serupa Stasiun Gambir yang menempel Koningsplein (Lapangan MONAS sekarang) di Nieuw Batavia. Di seberangnya terdapat balai kota dan hotel terbaik. Pada sisi utara terdapat kantor pos besar. Jalan Kesawan yang terkenal itu, dengan rumah Tjong A Fie padanya, bermuara ke lapangan ini. Situasi serupa ini terdapat di hampir semua pusat kota awal abad ke-20: suatu pusat kota yang jelas dengan ruang terbuka, simpul angkutan umum, pelayanan perdagangan dan administrasi, serta kemajuan-kemajuan mutakhir dari jamannya. Akan halnya pasar, jelas ia dianggap layak berada dekat dengan kegiatan lain di pusat khalayak yang modern, meski isinya, baik barang maupun tata-caranya, jelas “tradisional”.

Pasar Beringharjo, Yogyakarta

Pasar Beringharjo yang dari masa yang sama di Malioboro, Yogyakarta, memang tidak spektakuler seperti Pasar Sentral atau Pasar Gede dari segi ukuran. Tetapi rancangannya menunjukkan kesungguhan dan keterampilan yang bernilai tinggi pula. Kualitas konstruksi struktur yang baik memungkinkannya untuk telanjang ditunjukkan apa adanya sebagai pembentuk ruang. Pencahayaan alami sangat memadai dan bahkan artistik. Rancangan penyekat kiosk pada barisan terluar yang menghadap jalan Maliboro disesuaikan dengan barang yang diperdagangkan, yaitu perhiasan.

Yang perlu dicatat adalah bahwa  bukan hanya pasar yang dirancang dengan baik, progresif, menggunakan teknologi termaju pada jamannya, oleh arsitek terkemuka, tetapi juga hampir semua bangunan fasilitas umum seperti stasiun, sekolah, balaikota dan lain-lain. Sekarang seringkali kita tidak tahu siapa arsitek bangunan penting seperti balai kota, stasiun dan mall, yang satu sama lain tidaklah menunjukkan keistimewaaan apapun kecuali kilap cahaya dan bahan pelapis sintetiknya. Sebuah kota baru di Kabupaten Tangerang menjual habis los pasar seluas lebih dari satu hektar tanpa gambar rancangan, melainkan hanya atas dasar sketsa pembagian kiosk saja, tanpa arsitek. Pembedaan kategori “pasar tradisional” dan “pasar modern” (yang mana?) juga menunjukkan stigmatisasi diskriminatif. Kelihatannya kemerosotan arsitektur bangunan dan ruang khalayak sejalan dengan kemerosotan kehidupan kekhalayakan itu sendiri, ketika warga sibuk menjejali ruang pribadinya dengan segala rupa konsumsi sehingga rumah-rumah menjadi introvert, dan pengelola kota menjejali menjarah ruang khalayak untuk keperluan komersial semata.

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to ARSITEKTUR PASAR, DULU….

  1. Pasar Johar selesai tahun 1939, tapi memang mulai dibangun sejak tahun 1931. Tahun 1933 mungkin pasar unit 1 nya mas Marco?

    Like

  2. Reblogged this on Ruang Kota Ruang Kita and commented:
    Add your thouPasar Beringharjo yang dari masa yang sama di Malioboro, Yogyakarta, memang tidak spektakuler seperti Pasar Sentral atau Pasar Gede dari segi ukuran. Tetapi rancangannya menunjukkan kesungguhan dan keterampilan yang bernilai tinggi pula. Kualitas konstruksi struktur yang baik memungkinkannya untuk telanjang ditunjukkan apa adanya sebagai pembentuk ruang. Pencahayaan alami sangat memadai dan bahkan artistik. Rancangan penyekat kiosk pada barisan terluar yang menghadap jalan Maliboro disesuaikan dengan barang yang diperdagangkan, yaitu perhiasan.ghts here… (optional)

    Like

  3. amelia says:

    kadang saya merasa meski teknologi dan zaman bertambah maju, tapi seringkali arsitek sekarang kehilangan semangat arsitektur seperti pada zaman Karsten atau McClaine Pont atau Silaban menghasilkan bangunan yang lebih dari sekedar estetis tapi memiliki “jiwa” sebagai wadah kehidupan dan aktivitas manusia di dalamnya.

    Like

  4. nia says:

    wah, mantabh nih marco🙂
    saya menikmatinya..
    apa amsi ada pasar lainnya? misal di ternate atau indonesia timur?😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s