Sari Jeruk dan Roti Lapis di Kampung Banda Aceh

 

Pasar di Banda Aceh

Artikel ini terbit di kolom Bahasa! Majalah Tempo, 2006

Belakangan ini saya makin rajin memesan sari jeruk alih-alih orange juice, atau teh-es alih-alih iced tea, dan roti-lapis isi kalkun alih-alih sandwich with turkey.  Saya menikmati suasana pramugari Garuda tertegun sejenak, dan biasanya bertanya kembali untuk meyakinkan dirinya, “Maksudnya orange juice, pak?” atau “Juice jeruk?”  Di Banda Aceh, yang kini bertaburan kedai dengan daftar makanan yang seringkali berbahasa asing semata, pernah pesanan saya tidak datang setelah hampir satu jam, sehingga saya harus ke dapur untuk mengambil sendiri. Pelayan rupanya tidak menyadari bahwa “sari-wortel” dan “roti-lapis isi ayam”  adalah sama dan sebangun dengan carrot juice dan sandwitch with chicken.

 

Memang kata “jus” sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi selain berarti “sari buah”, ia juga berarti  1) perhitungan (angka setara) di permainan bulu tangkis (yaitu apabila kedua pemain bersama-sama mencapai angka 13 atau 14, mereka masih mendapat kesempatan untuk mengumpulkan 3 atau 5 angka lagi)…dari kata deuce (inggeris), atau deus (Perancis Kuno) atau duos (latin); dan 2) juz, yaitu bab atau bagian (1/30) dari Alquran.

 

Jadi supaya tidak bingung, saya memilih tetap menggunakan kata sari-jeruk ketimbang “jus-jeruk”.

 

Kembali ke Aceh, dalam kosa-kata rekonstruksi, sekarang orang sibuk sekali dengan village planning. Bahkan kata-kata ini muncul dalam surat-menyurat resmi berbahasa Indonesia. Padahal kata tata-kampung atau rancangan-kampung lebih tepat, sebab “kampung” dalam budaya kita tidak serta merta berlingkungan pedesaan (rural), tetapi dapat juga di dalam lingkungan perkotaan (urban). Hanya kepada orang asing kita perlu menerjemahan kampung di kota menjadi urban villages, tidak kepada orang Indonesia sendiri, apalagi orang Aceh, yang sejak dulu mengerti bahwa kampung lebih bermakna lingkungan hunian tempat asal-usul atau nenek moyang berada, bisa di kota, bisa di desa. Kalau orang mengatakan “pulang kampung”, tidak serta merta ia menuju ke suatu kawasan pedesaan, sebab mungkin saja ia bermaksud menuju ke sebuah tempat tinggal di dalam kota.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia pun sedikit tercemar. Ia mendefinisikan kampung antara lain sebagai “kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah)”.  Definisi tersebut lumayan, seandainya tidak ditambah dengan yang di dalam kurung itu. Untunglah ada yang berani melawan definisi cemar itu. Walikota Yogyakarta, dengan gagah berani baru-baru ini mengatakan dalam suatu seminar, bahwa kampung itu bagian dan ciri utama kotanya, dan kota yang baik hanya terjadi kalau kampung-kampungnya sejahtera.

 

Orang Aceh saya berharap akan juga berani, tak malu-malu menunjukkan bahwa orang-orang kayanya tinggal di kampung, setidaknya dulu sebelum tsunami, misalnya di Kampung Pie, yang letaknya benar-benar di dalam kota Banda Aceh, di dekat Mesjid Ulee Lheue yang terkenal itu. Mereka juga mestinya tidak perlu kecil hati menggunakan  “kedai” sebagai ganti kata“restoran” atau café.  Sebab, nyatanya “kedai kopi” bisa saja sebesar lantai sebuah rumah-toko, selebar 8 hingga 10 meter, bukan sekedar warung yang biasanya dianggap berarti kecil-kecilan. Di Medan masih ada yang setia menggunakan kata “rumah-makan” , padahal lengkap dengan pelayan berseragam di dalam ruangan yang lapang dan mewah, dengan hidangan masakan melayu, tanpa merasa perlu menggantinya dengan kata “restoran” atau café. Ini peninggalan bersejarah dari masa jaya Medan di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

 

Sayapun kini sedang memberanikan diri, dengan juga memesan “sari tomat” atau “buah campur” di hotel berbintang lima, dan dalam penerbangan Singapore Airlines, asal berangkat dari atau menuju ke Jakarta.

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Sari Jeruk dan Roti Lapis di Kampung Banda Aceh

  1. indri juwono says:

    sampai sekarang, saya kesulitan menjelaskan kata ‘ramp’ kepada teman yang baru akan naik bis transjakarta. jadi menjelaskannya dengan gambaran jalan ‘chequer plate alumunium’ (nah, istilah baru lagi kan) yang miring landai. susah menjelaskannya via tulisan (sms).
    dan kata ‘ramp’ ini pernah jadi kuis waktu kuliah dulu, ‘menurut anda, apa padan kata bahasa indonesia terbaik untuk ramp?’

    padahal menulis dalam bahasa indonesia itu lebih enak loh, apalagi untuk bahasan umum atau yang sudah dikenal bahasa indonesianya.
    sejauh ini, saya hanya nyaman memakai istilah bahasa inggris untuk istilah2 engineering dan komputer.

    Like

  2. farah amini says:

    Pak Marco,
    membaca artikel ini mengingatkan saya pada dosen saya, Dede Oetomo, yang waktu itu (1991) menceritakan pengalamannya nge tes petugas airline di airport juanda dengan menggunakan bahasa jawa. Hasilnya dia mendapatkan pandangan ‘merendahkan’ dari petugas. Lain halnya ketika dia menggunakan bahasa inggris saat berbicara dengan mereka. ‘It does feel different,’ katanya. “Saya seperti lebih dihargai”.

    Sekarang 2009, kalau saya memesan es teh kepada pelayan cafe (maksudnya : kedai), mereka akan mengulang order saya dengan ‘ice tea’. Tapi ini kan memang sudah ditetapkan secara formal, bahwa pelayan kedai ini harus menyampaikan dengan istilah yang sesuai dengan istilah yang dipakai menu kedai. Ini terkait dengan imej, marketing, personality, etc .. etc..

    Tapi saya senang karena istilah nasi goreng dan kecap manis sudah sedikit mendunia, jadi menggunakan istilah original terbukti masih layak dipertahankan. Karena orang asing, yang anggapan sebagian masyarakat lebih maju dari orang kita, tetap menggunakan istilah itu.. meski bisa diganti dengan fried rice dan sweet soy sauce..

    Like

    • Farah, terima kasih sudah membaca blog saya.
      1999 saya pernah menulis surat kepada GM sebuah hotel di Mataram, Lombok, karena staffnya menjawab pertanyaan saya “pisang ada?” dengan “o, banana ada pak”.
      Harus terus menerus diingatkan, rasanya.
      Mungkin ada waktu membaca tulisan tentang bahasa lainnya, seperti “Ayu, Warung dan Kain di Los Angeles” di blog ini?
      Mohon komentar. Terima kasih.
      Salam,
      marco

      Like

  3. Tamara yb.
    Terima kasih telah membaca dan memberi komentar.
    Baik dan buruk rupanya akan selalu ada saja. Jadi kalau kita merasa ada yang baik dalam arti perlu diperjuangkan, harus kita perjuangkan saja terus.
    Pasti ada banyak hal lain juga.

    Ayo kita terapkan sesuai kemampuan dan minat masing-masing!

    Sekali lagi terima kasih.

    salam hangat, marco

    Like

  4. tamara says:

    tamara likes it!
    seandainya ini ditulis di facebook, pasti saya sudah meng-klik “like”, Pak Marco.

    Saya termasuk orang yang seringnya masih kolot dan suka dengan hal-hal berbau “idealis-mengakar” seperti ini Pak, walaupun seringnya dengan terpaksa terkikis oleh norma-norma modern acak adut tidak beridentitas yang dicap sebagai “masa kini”.

    Sepertinya budaya untuk memikirkan kembali darimana asal kita dan bagaimana wujud asal kita, memang perlu disebarluaskan. Seperti halnya contoh pemilihan diksi yang Bapak terapkan.

    Saya sendiri belum pernah berpikir mengenai hal ini sebelumnya, namun sepertinya akan merupakan ide bagus jika hal ini mulai dicoba diterapkan juga oleh masing-masing pribadi yang lain. Semoga kelak ide dasar ini berkembang menjadi sebuah identitas besar bangsa dari akar budaya kita.

    salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s