Warung, Kain, dan Ayu di Los Angeles

Artikel ini terbit di kolom Bahasa! Majalah TEMPO, Juli 2008

Warung, meskipun satu saja, telah ada di Los Angeles sejak belum lama. Kain dari lima abad lampau akan hadir sebagai karya seni berpakaian di kota itu mulai September 2008 hingga September 2009. Tiga bulan lampau, seorang bayi diberi nama Ayu oleh kedua orang tuanya yang pribumi Long Beach. Ibunya belajar bahasa Indonesia di Jogja dua dasawarsa lampau. Jadi hendaknya, “Ayu harus bisa bahasa Indonesia juga!” Dia sedang cari pengasuh pribumi Indonesia. Di Los Angeles? Ya, ada saja, tapi cerita tersendiri. Bahasa menunjukkan bangsa? Mungkin tak lama lagi.

Warung di 118 W, 4th Street, di antara Spring dan Main di Old Bank District di pusat kota Los Angeles itu memang tidak sajikan masakan Indonesia saja, melainkan segala Asian fusion. Pemiliknya menjelaskan bahwa ia menggunakan kata warung “Karena ia berarti usaha kecil (small establishment), tempat makan yang ramah dan informal, tempat orang bisa akrab satu sama lain”.  Warung memang belum jadi kosakata Bahasa Inggeris, tetapi ia telah jadi bagian perbendaharaan Los Angeles. Sedang Ramayani, rumahmakan Indonesia sesungguhnya di Los Angeles, telah menjadi lembaga di kota itu, setidaknya bagi para indofil yang cukup beragam asal usulnya, dan bertambah jumlahnya. Ibunda Ayu belajar menggendongnya dengan kain di situ. Nama rumahmakan Indonesia lainya, Indocafe, tidak menyenangkan saya, sebab kedengaran seperti makanan siap-saji, seperti Indomi. 

 Sedang kain akan mewarnai Los Angeles County Museum of Art (LACMA) dalam pameran berjudul sementara Five Centuries of Indonesian Textile Art  = Lima Abad Seni Kain Indonesia;  Masterworks from the Mary Hunt Kahlenberg Collection.

 Usul saya supaya kata “kain” digunakan juga pada judul bahasa Inggerisnya, alih-alih kata textile yang tidak spesifik itu, sementara ini ditolak karena “kain” belum ada dalam kamus bahasa Inggeris. Warung dan kain memang belum seperti batiksarong, dan amok (atau amuck) yang sudah masuk ke dalam kamus bahasa Inggeris. Mungkin warung harus menjadi warong, dan kain menjadi kaeen dulu?

 Usul saya lahir dari diskusi dengan kurator museum itu, yang membuat saya jadi tahu bahwa seni berpakaian Indonesia bersifat “hijau” berkelanjutan. Ha? Sebab, seperti juga pada India dan Jepang, seni berpakaian tradisi Indonesia tidak mengenal potong dan jahit, tidak menyisakan sampah perca, hemat dan efisien. Kain juga satu ukuran untuk semua ukuran tubuh. Sebab itu mudah diwariskan, bahkan dipusakakan. Kain juga serba guna. Kesederhanaan keutuhannya membuka peluang demikian. Seni berpakaian Indonesia terdiri dari sepotong kain utuh yang dilipat dengan berbagai cara membungkus tubuh. Sejak ditenun kain sudah dibayangkan, dirancang bagaimana ia akhirnya akan terjadi secara utuh dan bagaimana ia akan dipakaikan pada tubuh. Pola yang dibentuk melalui ikat, batik, atau teknik lainnya, dirancang dengan memperhitungkan bagaimana ia akan dipakai. Misalnya, bagian yang ketika dipakai tidak akan terlihat, tidak diberi pola, dibiarkan kosong. Bahkan fungsi dan makna kain ada yang menentukan pilihan bahan untuk dipintal jadi benang. Jadi kain adalah sebuah konsep seni berpakaian yang memadukan pilihan bahan dasar, pemintalan, penenunan, pola, dan pemakaiannya pada tubuh dalam satu tarikan nafas. Kain tidak dapat diterjemahkan dengan kata textile.

 Melalui kata, yang adalah konsep yang memuat praktik budaya serta falsafahnya, pergaulan antar-bangsa memperkaya setiap pesertanya. Seorang petani Los Angeles, sahabat baru, mengatakan “Pengetahuan yang universal dan obyektif menjadi know-how yang partikular subyektif melalui praktik perorangan, pada kerja tubuhnya.” Sedang pengetahuan menjadi gagasan yang operasional, dapat dikelola, melalui kerja kata. Melalui kata, pengetahuan menjadi gagasan yang hidup.

Kita juga tidak perlu memaksa-maksa mengekspor kata-kata Indonesia kepada bahasa mana-pun. Tetapi kalau memang ada konsep, praktik khas budaya kita yang tidak bisa diterjemahkan, dan lagipula baik bagi seluruh dunia, mengapa tidak menganjurkannya? Setidaknya konsep atau praktik yang khas itu jangan hanya yang negatif seperti amok yang masuk ke dalam kamus bahasa asing. Ada yang tahu cara mengusulkan kata ke dalam kamus bahasa Inggeris?

This entry was posted in Arts, Language and Culture and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Warung, Kain, dan Ayu di Los Angeles

  1. Hi Farah,

    Terima kasih mengikuti saran saya membaca.🙂

    Menjual eksotisme menjadi gaya hidup…seperti Coffee Luwak?

    Jadi ingat film Basket List

    Like

  2. farah amini says:

    Hi Pak Marco,

    Saya meneruskan membaca artikel ini, sesuai anjuran Pak Marco.

    Dan bagaimana memasukkan kata dalam bahasa inggris, itu juga pertanyaan saya. Apa harus sepopuler google dulu sehingga istilah “di-google’ juga masuk kamus dan digunakan secara global? Kayaknya malah Pak Marco yang bisa menjawab.

    Teman saya asli orang washington juga sedang demam batik, seperti layaknya saya yang juga mesti punya baju batik untuk ngantor, karena ternyata gak kalah keren kalau modelnya oke. Dia bilang sekarang di washington lagi demam batik, utamanya ‘ikat’, mahal pula katanya. Selain batik, istilah ‘ikat’ pun tetap dipakai. Bangga campur senang ketika ada istilah ‘ikat’ diasosiasikan pada sesuatu yang trendi dan mahal di washington. Jadi mungkin lewat jualan ‘lifestyle’ kata asli bisa dipelihara.Dan jualan lifestyle biasanya lebih gampang.

    Supaya istilah asli tetap ada, mungkinkah ‘ambassador- ambassador’ non formal : misalnya pemilik kedai, perancang busana, penulis, wartawan, atau siapapun, bisa mengabadikan bahasa asli sehingga populer dan awet sepanjang masa? Caranya gimana?

    Kalau bahasa inggris sekarang harus dipakai dalam menjaga ‘kualitas pelayanan’ di bidang apa saja, ini mungkin karena standard internasional sama dengan bahasa inggris. Dan orang secara terstruktur memasukkan bahasa inggris didalamnya. Kayaknya mengalahkan bahasa Inggris kan gak mungkin ya, jadi mesti ada perombakan terstruktur untuk bisa mempertahankan bahasa Indonesia. Bisa gak ya?

    Pernahkan semua bahasa inggris dihilangkan di Indonesia dan diganti dengan bahasa Indonesia – tahun berapa itu ya? 80an mungkin. Tapi tenggelam lagi, karena jadi aneh. Plus tidak keren.

    Mungkin beberapa tahun ke depan, bahasa akan semakin campur aduk karena semuanya mengglobal (betulkah?).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s