Kehilangan Kata-kata

Artikel ini terbit pada kolom Bahasa! Majalah TEMPO, April 2009

 

Yang saya maksud bukan kehabisan kata-kata, melainkan benar-benar terancam hilangnya kata-kata bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua ancaman, ialah hilangnya realitas yang diacu oleh kata, dan hilangnya makna dalam penerjemahan yang tidak memadai—lost in translation. Semuanya berdampak pada berkurangnya kebhinekaan.

 

Layar, misalnya, makin menghilang dari kehidupan kelautan kita. Para nelayan makin jarang menggunakan layar karena tersedianya mesin, dan karena harus makin jauh pergi ke laut untuk mendapatkan ikan, sebab perairan yang dekat pantai telah tercemar. Di suatu pantai di Sulawesi Tenggara, tempat terdapat banyak tambang nikel, pantainya telah tercemar sedimentasi. Perahu-perahu nelayan bukannya berlayar, melainkan berbendera partai peserta pemilu, serta bergerak karena tenaga mesin yang membakar bahan-bakar fosil, bukan karena layar yang berdayakan angin bersih dan terbarukan.

Perahu Berbendera

Apa yang akan terjadi dengan kata “berlayar” dalam arti pergi ke laut? Apa yang akan terjadi dengan ungkapan “layar terkembang”?

 

Mungkin kata itu akan bertahan, meskipun mungkin nanti terlupakan asal muasalnya.

 

Kata rumah-tangga tidak banyak diketahui asal-muasalnya. Mengapa kata rumah dan tangga itu harus disandingkan? Saya punya dugaan berdasarkan pengalaman di Aceh. Ketika sedang membantu membangun rumah di Aceh, ada satu gagasan menempelkan dua rumah menjadi satu pada satu sisi, seperti kembar-siam, sehingga halaman dari masing-masing rumah di sisi berlawanan akan lebih lebar. Ini pemecahan untuk lahan sempit. Konsekuensi logisnya, kami kira, adalah juga menyatukan tangga naik ke rumah-rumah yang memang kami rancang berpanggung (atau bertungkat, kata orang di Siak, Riau). Kami mendapat reaksi yang keras. Hal itu tidak bisa diterima sama sekali, meskipun rumah yang menempel dapat diterima. Setiap rumah harus memiliki tangga tersendiri. Boleh saja bersebelahan, tetapi harus jelas berbatas. Setiap rumah-tangga harus terdiri dari rumah dan tangga.

 

Kini kita tetap gunakan kata rumah-tangga meskipun rumah makin tidak bertangga, karena tidak lagi bertungkat, atau kalaupun bertangga, maka bertangga bersama seperti pada gedung rumah susun.

 

Kampung-halaman adalah contoh lain. Kata halaman di sini dapat diduga bukan berarti halaman masing-masing rumah yang saling terpisah. Sebab, di kampung halaman sering tidak berbatas tegas dan sambung menyambung menjadi tempat bermain atau lalu-lalang sehingga bersifat publik. Ketika urbanisasi telah mencapai beberapa generasi, maka kampung-halaman tidak lagi menjadi tempat tujuan pulang atau mudik di hari lebaran. Sebab, mungkin rumah dan tanah nenek moyang di sana sudah dijual. Pada tahun 50an ada gerakan sukarela di kalangan para sosialis di Jakarta membagikan tanahnya di kampung-halaman kepada petani setempat, sehingga akhirnya mereka menjadi sepenuhnya orang Jakarta yang tidak lagi punya tujuan mudik. Akankah kata kampung halaman bertahan seratus tahun lagi, ketika bangsa Indonesia sudah menjadi penghuni kota beberapa generasi?

 

Kehilangan kata karena lost-in-translation harus dicegah, karena mengancam keanekaragaman hayati maupun budaya.

 

Di halaman hotel Hyatt di Yogya pohon duku diberi nama dalam tiga bahasa: Lansium domesticum, Langsat, Duku. Maksudnya, yang pertama itu bahasa Latin atau ilmiahnya, yang kedua bahasa Inggeris, dan yang ketiga bahasa Indonesia. Padahal langsat sangat berbeda dengan duku. Kulit langsat berwarna kuning kental, maka ada kata kuning-langsat, sedang kulit duku berwarna kuning pucat, keputihan, tentu tidak bagus kalau kulit perempuan dibilang berwarna “kuning duku”.  Tetapi, langsat banyak terdapat di Semenanjung Malaya (dan Sumatera!). Mungkin dari sinilah orang Inggeris mengambil kata langsat itu. Sedangkan KBBI memadankan Lansium domesticum baik untuk langsat maupun duku.

 

Kain bisa jadi kehilangan makna spesifiknya bila hanya diterjemahkan sebagai Indonesian cloth atau textile.

 

Kata saujana berarti bidang pandangan antara subyek dan horizon (sejauh-jauhnya), seperti pada saujana mata, yang berarti sejauh mata memandang (KBBI). Menurut Badudu-Zain (Kamus Umum Bahasa Indonesia), ia berasal dari kata seyojana yang berakar kata yojana, yang digunakan untuk menyatakan jarak yang jauh. Kini ia dipakai oleh sebagian kalangan pelestarian pusaka dalam kata “pusaka saujana” dengan maksud menerjemahkan konsep cultural landscape. Konsep cultural landscape ingin menyatukan benda terbangun (misalnya Borobudur) dengan lingkungan sekitarnya.  Tetapi, cara menggunakan kata secara seenaknya ini, selain menjadi ngawur, bisa menghilangkan arti sesungguhnya dari kata saujana. Mengapa tidak menggunakan kata yang sudah lama dikenal, alam-budaya, sehingga menjadi “pusaka alam-budaya”?

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s