Chairil Anwar: Subyek di dalam Landaan Modernisasi Kota

Makalah pada diskusi Charil dan Jakarta, Juni 2008, Dewan Kesenian Jakarta.

Chairil Anwar oleh Dede Eri Supria, koleksi Dewan Kesenian Jakarta.

Saya hanya akan menawarkan tafsir seorang pembaca, yang melihat Chairil Anwar sebagai subyek dalam landaan modernisasi[1], bukan sebagai aku “individu”, tetapi  sebagai aku “subyek”, bukan sebagai “aku” yang “dari kumpulannya terbuang”, bukan sebagai aku yang mencari kebebasan perorangan dari norma kolektif, melainkan aku yang merdeka dari segala, yang hendak meneguhkan kehadiran kepribadian yang kritis, ialah aku yang “akan bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak di sekelilingku,” sebagaimana ditulisnya dalam kartupos kepada H.B. Jassin, 8 Maret 1944. Lanjutnya: “dan garis-garis ku sudah kudapat”,  ialah “harga sebagai manusia (menselijke waardigheid) dengan kepribadian.”

Kepribadian inilah yang saya maksud sebagai subyek, yang terus menerus berupaya menegaskan kembali keberadaan otonom manusia terhadap “begitu banyak di sekeliling”nya.

Kemerdekaan yang dikehendaki Chairil Anwar bertujuan agar manusia dapat senantiasa terus bikin perhitungan dengan sekeliling yang, dalam proses modernisasi, terus menekan dan mendesak, berubah cepat mengasingkan subyek, atau sebaliknya menghanyutkan, meleburkan subyek ke dalam landaannya, menjadi obyek.

Kemerdekaan demikian itu ingin menciptakan jarak kritis antara subyek dengan sekelilingnya. Dengan demikian subyek tetap dapat mengada dan menggaya (ini juga kata-kata Chairil Anwar dari sajak Cerita kepada Darmawidjaja, 1943) terhadap, bukan tergantung, kepada sekeliling. Salah satu metoda subyek untuk menegaskan jarak itu adalah menyatakan keraguannya akan “begitu banyak” hal di sekelilingnya, membikin perhitungan dengan mereka. Harga yang harus dibayar adalah kesepian.

Bikin perhitungan dengan sesuatu berarti TIDAK tergantung kepadanya, tidak meng-identifikasi diri dengannya, tidak melebur diri ke dalamnya, melainkan berhadap-hadapan dengannya. Harga manusia terletak pada kualitas kepribadian dalam melakukan perhitungan berhadap-hadapan itu.

Chairil ingin merdeka bahkan “juga dari Ida”, bukan untuk bersama Ida (yang kalau demikian dapat berarti kemerdekaan liberal untuk berbuat sesuatu yang mungkin berlainan dengan norma masyarakat). Kemerdekaan Chairil bukan bertujuan untuk menjadi “lain”, melainkan untuk menjaga integritas eksistensi subyek. Ia juga ingin merdeka dari ideologi atau ikatan lain yang berdasarkan “sumpah”, maupun cinta. (Dalam sajak Merdeka, 1943: Pernah/Aku percaya pada sumpah dan cinta. Ketenangan dan ketiadaan badai kalah-menang adalah juga bahaya bagi kemerdekaan subyek, bukan karena dapat mencegah subyek mendapatkan atau melakukan sesuatu, melainkan karena dapat membuat subyek berhenti bikin perhitungan, menjadi obyek yang tertelan dalam ketenangan. (Dalam sajak Merdeka: Tapi kini/Hidupku terlalu tenang/Selama tidak antara badai/Kalah menang).

Selengkapnya sajak MERDEKA:

 

MERDEKA (1943)

 

Aku mau bebas dai segala

Merdeka

Juga dari Ida

 

Pernah

Aku percaya pda sumpah dan cinta

Menjadi sumsum dan darah

Seharian kukunya-kumamah

 

Sedang meradang

Segala kurenggut

Ikut bayang

 

Tapi kini

Hidupku terlalu tenang

Selama tidak antara badai

Kalah dan menang

 

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai

Mengapa kalau beranjak dari sini

Kucoba dalam mati.

Sajak-sajak Chairil yang heroik ( Aku, Diponegoro, dan Persetujuan dengan Bung Karno) merupakan hanya sebagian kecil dari keseluruhan kumpulan karyanya, yang sebagian besar justru menampilkan subyek yang ragu, berjarak, bukan subyek yang heroik. Chairil sendiri mengatakan bahwa ia tidak lagi ingin menulis sajak keperwiraan seperti Diponegoro, yang “menurut oom-ku (ialah Sutan Sjahrir), sajak itu pun tidak baik”.[2]

Sedang pada 1948, tahun yang sama ketika ia menulis Persetujuan dengan Bung Karno, ia juga menulis Perjurit Jaga Malam yan meragukan kepastian revolusi atau determinisme kesejarahan (ialah nasib waktu pada sajak tersebut).

PERJURIT JAGA MALAM (1948)

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam,

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

 

Yang aku suka pada mereka, kata Chairil, adalah keberanian hidup dan masuk menemu malam, yang berwangi mimpi; tapi ditegaskannya bahwa  “aku tak tahu apa nasib waktu!” Chairil menolak kepastian apriori atas hasil atau tujuan dari tindakan heroik.

Yang heroik dari subyek Chairil adalah keraguan (atau apa yang disebutnya “perhitungan”) yang persisten, sampai akhirnya menyerah, tapi itu pun pada saat kematian. Inilah satu-satunya cara untuk tetap waras dalam jaman edan yang terlanda modernisasi. Sebab tanpa keraguan, subyek akan menjadi obyek, juga dari keyakinannya sendiri, ia menjadi digerakkan oleh—bukan menggerakkan—semesta di sekelilingnya, yang dalam landaan proses modernisasi menjadi tidak pernah stabil dan terus menerus mengalir. Matinya subyek nampak pada penganut-penganut ideologi atau agama yang fanatik dan menjadi sumber kekerasan. Kekerasan itu sebenarnya pertama-tama telah diterapkan bukan pada subyek lain, melainkan pada dirinya sendiri. Pada mereka yang kehilangan subyektivitas, kehilangan kemampuan untuk bikin perhitungan dengan ideologi dan agama, kita dapat melihat jejak-jejak yang ditinggalkan oleh kekerasan pada pandangan mata yang sayu dan takluk, pada seragam yang menyiksa tubuh, pada anggota tubuh yang bergerak reaktif tanpa kesadaran, tanpa kepribadian.

Subyek yang takut bikin perhitungan, takut pada keraguan, cenderung mencari pegangan,  antara lain dengan membangun keyakinan ilusif kepada mesianisme, tentang adanya penyelamat, dan sering kali merasa dirinyalah penyelamat itu, untuk mencapai tujuan yang pasti di penghujung sejarah yang linier.

Dalam landaan modernisasi, teranglah subyek dengan mudah goyah, lebur atau hancur sama sekali, atau merasakan kemendesakan untuk mencari pegangan yang dapat berupa keyakinan yang tertutup atau tujuan akhir yang final, determinisme sejarah, termasuk janji akan surga, dan menyerahkan dirinya sebagai obyek untuk semua itu. Ia akan berhenti bikin perhitungan dengan begitu banyak di sekelilingku, yang tidak lain berarti berhenti sebagai subyek.  Menghadapi landaan modernisasi, dalam sajak-sajak Chairil Anwar, subyek menjadi penuh luka, tidak tahu tempatnya di mana.

Pengalaman bangsa Indonesia akan modernisasi hampir identik dengan pengalamannya akan kota—dan juga penjajahan oleh bangsa asing—sebab proses modernisasi datang pertama-tama kepada kota, dan menyebar dari kota. Urbanisasi adalah salah satu unsur besar modernisasi. Kota-kota di Indonesia (dan mungkin juga semua kota di negara sedang berkembang dan banyak kota di benua AS seperti Los Angeles) berkembang pesat seiring dengan proses modernisasi, sehingga sebagian besar dari bentang-alam kota-kota itu benar-benar merupakan produk modernisasi, dengan sisa-sisa dari masa pra-modern hampir tidak berarti (dalam proporsinya terhadap seluruh kota). Lebih dari 80 persen (perkiraan kasar) kawasan Jakarta terbangun hanya dalam waktu 50 tahun terakhir, mulai dari Kebayoran Baru (1949-1955), Thamrin Sudirman dan ratusan komplek perumahan sejak tahun 60an (dimulai dengan Tebet, Grogol, dll.).  Padahal memang JP Coen membangun Jakarta Kota pada tahun 1619, sekitar 50 tahun sebelum New Amsterdam (kini New York) dibangun, dan muara Sungai Cliwung ini telah dimukimi manusia sejak 6,000 tahun lampau.

Proses membangun kota ini bersifat terputus-putus (discontinuous), bahkan meledak-ledak (disruptive) seiring dengan proses modernisasi dalam politik dan ekonomi. Ledakan-ledakan yang saya maksud bukan hanya dalam arti destruktif (seperti misalnya akibat kerusuhan dan bencana alam), tetapi juga dalam arti konstruktif (misalnya pada saat booming ekonomi), dengan siklus usaha tanah dan bangunan[3]  makin cepat dan meledak-ledak juga.

Proses urbanisasi jauh lebih kompleks daripada sekedar “perpindahan penduduk dari desa dan kota”, meskipun migrasi ini sendiri saja sudah menimbulkan kompleksitas yang luar biasa dalam bidang kebudayaan juga.

Proses yang kompleks ini bukan hanya berdampak pada “tata-kota”,  pada wujud fisik habitat kota, tetapi juga hubungan-hubungan antar-subyek, dan akhirnya pada habitus, pada watak manusia. Habitus melekat pada subyek. Hanya subyek yang sesungguhnya subyek (ialah yang merdeka), yang dapat mengembangkan sikap, wacana, teori, dan praktik yang kritis berhadap-hadapan dengan urbanisasi. Dalam proses ini  subyek mengembangkan urbanisme. Dan urbanisme dalam masyarakat kota-kota yang dimaksud di atas dengan sendirinya merupakan sebentuk modernisme.

Banyak orang Indonesia, saya kira juga banyak orang dari negeri-negeri sedang berkembang lainnya, merasa lebih nyaman di Los Angeles, ketimbang, misalnya di kota-kota Eropah atau New York. Kemenjadian yang terus menerus di LA sama seperti kota-kota atau sub-kota kita di Indonesia. Tidak ada yang selesai. Semua masih dalam pembentukan. Ruangnya cair, orang bisa navigasi dan merasa diundang untuk serta menyumbang pada pembentukannya. Sebagian orang merasa ini buruk, bahkan “bukan kota”, dan putus harapan untuk dapat mengubahnya. Padahal, dapat ia menjadi kesempatan, bila kita menganggapnya belum selesai, sementara, tidak seperti urbanitas kota-kota Eropah yang sudah jadi, selesai dan sama sekali tidak memberi cukup peluang untuk kontribusi subyektif.  Inilah urgensi perlunya subyektivisme dalam bentuk modernisme dan urbanisme. Kota-kota tidak bisa hanya “sekedar jadi” sebagai obyek modernisasi. Subyeknya harus mengembangkan modernisme dan urbanisme untuk meneguhkan keberadaan subyek di dalamnya, dan mengambil kendali atasnya.

Urbanisasi tanpa urbanisme sama berbahayanya dengan modernisasi tanpa modernisme. Dan urbanisme, sama halnya dengan modernisme, bukan urusan para spesialis semata, meskipun pada pundak mereka ada tugas tertentu. Semua orang yang ingin bertahan sebagai subyek, tidak dilanda begitu saja oleh modernisasi dan urbanisasi, harus mengembangkan urbanisme dan modernismenya sendiri, harus terus bikin perhitungan dengan sekelilingnya.

Bagaimana landaan modernisasi yang dialami Chairil Anwar itu?

Indonesia dan Jakarta pada masa hidup Chairil Anwar (1922-1949) mengalami pertumbuhan fisik yang jauh di bawah tingkat sekarang, tetapi pada masa itu sudah tergolong sangat besar, dan dramatis bila dibandingkan dengan masa sebelumnya. Puluhan pemerintahan kota otonom (gemeente) dibentuk sejak terbitnya Desentralisatie Wet 1903. Perluasan kota dibangun di seluruh Indonesia: Menteng pada tahun 1920an, dan kemudia Kebayoran Baru dimulai (pada tahun 1949) di Jakarta; Bandung Utara, Kawasan Ijen di Malang, Darmo di Surabaya, kawasan Candi di Surabaya, Kota Baru di Jogjakarta, kawasan Lapangan Merdeka di Medan, dan lain-lain.

“Kota-kota baru” ini dirancang dengan telah membayangkan mobil pribadi sebagai alat angkut utama.

Inilah juga pertama kali usaha tanah-dan-bangunan berskala besar secara swasta diperkenalkan. Inilah pertama kali di bumi nusantara kapitalisme menghitung tanah, menjadikannya barang dagangan (komoditi) massal, dengan dukungan terpadu dari keseluruhan sistem ekonomi, dengan kredit bank, teknik-teknik pemasaran, dan tentu saja ada bantuan negara dalam hal pembebasan tanah. Pada tahun 1918 Abdul Muis berpidato mengecam ganti-rugi pembebasan tanah yang tidak memadai dalam pembangunan Menteng serta permukiman Eropah lainnya.

Kampongs Verbetering Program, yang kemudian diulang oleh Ali Sadikin menjadi Program Perbaikan Kampung (Proyek M.H. Thamrin) pada awal tahun 1970an, dimulai pada tahun 1925. Ada kesadaran dan program tentang perumahan yang sehat. Ada survei dan kongres yang luas tentang masalah perumahan.

Birokrasi kolonial membesar. Prasarana dan fasilitas kota modern dibangun besar-besaran: pelayanan pos dan kantor-kantor pos di titik-titik penting kota, hotel, bank, jalan dan stasiun kereta api dan bandar udara, pelabuhan,  sekolah-sekolah, rumah sakit, sekolah tinggi, trem dalam kota (yang kemudian dicopot oleh Jepang), dan lain lain.

Lalu Perang Dunia ke-2. Lalu Proklamasi. Masa PD II dan sesudahnya menandai kota-kota besar Indonesia dengan pertambahan penduduk pendatang yang luar biasa. Jakarta yang sebelumnya berpenduduk lebih sedikit daripada Surabaya, menjadi melebihi Surabaya. Kota-kota besar lain seperti Medan, Bandung, Jogjakarta dan Surabaya sendiri mengalami pertambahan penduduk pada tingkat yang belum pernah dialami sebelumnya. Tiga dasa warsa masa hidup Chairil Anwar sungguh gegap gempita. Maka tulisnya, Sedang tahun gempita terus berkata, dalam sajak Aku Berkisar antara Mereka (1949).

 

Dalam sajak-sajaknya, modernisasi di kota itu gempita tapi membisukan, kelam tapi menggelisahkan, mendesak menekan tapi tidak mendengarkan, membawa banyak hal baru tapi mengasingkan.

Kita baca misalnya sajak Kesabaran berikut ini.

KESABARAN

 

Aku tak bis tidur

Orang ngomong, anjing ngonggong

Dunia jauh mengabur

Kelam mendinding batu

Dihantam suara bertalu-talu

Di sebelahnya api dan abu

 

Aku hendak berbicara

Suaraku hilang, tenaga terbang

Sudah! Tidak jadi apa-apa!

Ini dunia enggan disapa, ambil perduli…

Selain itu, tempat orang menjadi tidak tentu, misalnya kita baca pada sajak Perhitungan ini.

PERHITUNGAN

Langit bersih-cerah dan purnama raya…

Sudah itu tempatku tak tentu di mana.

Hembus kau dan aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi…!?

 

Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

Kota-kota makin menjadi, makin terkonsolidasi, tetapi sekaligus makin asing.

SELAMAT TINGGAL

….

Segala menebal, segala mengental

Segala tak kukenal…

Modernisasi juga membuat perubahan terasa kencang, hadir betul seperti tetangga.  Memang perubahan sudah diwacanakan sebagai sesuatu yang abadi oleh filsafat ribuan tahun lalu, tapi kini, dengan landaan modernisasi, menjadi jauh lebih kerap dan intens, dn bahkan sampai ke akar-akarnya soal dan benda-benda, sehingga betul terasa sebagai pengalaman subyektif, bukan sebagai wacana intelektual atau filsafat.

Kesementaraan ditulis Chairil pada sajak:

KEPADA PELUKIS AFFANDI (1946)

adalah karena kesemantaraan segala

yang mencap tiap benda, lagi pula terasa
mati kan datang merusak

Bagaimanakah keadaan subyek dalam landaan modernisasi ini?

Subyek dalam sajak-sajak Chairil adalah muka yang berubah tak dikenal, penuh luka, hilang bentuk, berkelana terus menerus, peragu kepastian.

Kita baca misalnya sajak Selamat Tinggal

SELAMAT TINGGAL

 

Aku berkaca

Bukan buat ke pesta

Ini muka penuh luka

Siapa punya?

Atau pada sajak

DOA

“aku hilang bentuk/remuk”

Sedang pada sajak Kepada Penyair Bohang (1945) subyek adalah “Kelana tidak bersejarah”

Bagi Chairil Anwar, subyek menikmati perjalanan itu sendiri sebagai tujuan. Laut biru adalah tujuan itu sendiri, bukan perantaraan ke pulau tujuan. Bahkan,…berlepas kemudi pada angin (dalam sajak Situasi, 1946). Dan kalau bisa, perjalanan lebih panjang lagi, bukan cuma selenggang, dan seabad pun terasa hanya sekerdip saja. (dalam Dua Sajak Buat Basuki Resobowo, 1947)

Pada sajak KEPADA PELUKIS AFFANDI (1949) kita membaca kekaguman Chairil Anwar kepada subyektivitas Affandi yang transendental melalui praktik kesenian.

KEPADA PELUKIS AFFANDI (1946)

 

atas keramaian dan dunia cedera,

lagak lahir dan kelancungan cipta,

kau memaling dan memuja

dan gelap-tertutup jadi terbuka!

Kesunyian kesendirian diungkapkan pada:

 

SENJA DI PELABUHAN KECIL (1946)

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa
terdekap.

Kesendirian itu adalah konsekuensi dari pilihan untuk merdeka, untuk senantiasa berada di perjalanan, di laut tidak bernama.

PEMBERIAN TAHU (1946)


Aku memang tidak bisa lama bersama

Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!

Dua sajak untuk Basuki Resobowo (1947) mengajak subyek untuk menikmati perjalanan ruang dan waktu secara bebas, tak usah pikirkan tujuan, dan bahkan meragukan tujuan itu sendiri, termasuk surga (sebagai tujuan akhir).

DUA SAJAK BUAT BASUKI RESOBOWO (1947)

 

I

Adakah jauh perjalanan ini?

Cuma selenggang!—Coba kalau bisa lebih!

Lantas bagaimana?

Pada daun gugur tanya sendiri,

Dan sama lagu melembut jadi melodi!

 

Apa tinggal jadi tanda mata?

Lihat pada betina tidak lagi menengadah

Atau bayu sayu, bintang menghilang!

 

Lagi jalan ini berapa lama?

Boleh seabad…aduh sekerdip saja!

Perjalanan karna apa?

Tanya rumah asal yang bisu!

Keturunanku yang beku di situ!

 

Ada yang menggamit?

Da yang kehilangan?

Ah! jawab sendiri—Aku terus gelandangan…

 

II

Seperti ibu + nenekku juga

tambah tujuh keturunan yang lalu

aku minta pula supaya sampai di sorga

yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai

       susu

dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,

nekat mencemooh: Bisakah kiranya

berkering dari kuyup laut biru,

gamitan dari tiap pelabuhan gimana?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

Di situ memang ada bidari

Suaranya berat menelan seperti Nina, punya

       Kerlingnya Yati?

Subyek Chairil Anwar terasing di antara dunia yang berubah cepat, sehingga subyek menjadi gamang dan tidak lagi mengenali dunia yang berubah radikal. Kita baca misalnya sajak Aku Berada Kembali:

AKU BERADA KEMBALI (1949)

Aku berada kembali. Banyak yang asing:

air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang

serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

 

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah

juga disinari matari

lain.

 

Hanya

Kelengangan tinggal diam saja.

Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan;

Lebih lengang pula ketika berada antara

Yang mengharap dan yang melepas.

 

Telinga kiri masih terpaling

ditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang

       guruh.

Bahkan hal-hal yang tidak mungkin berubah telah terasa berubah (air laut, matahari, katulistiwa)[4], sehingga subyek seperti mendarat di planet lain. Tapi Telinga kiri masih terpaling/ditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang/guruh. Ini menandai subyek masih berada kembali, tapi sangat gelisah dan tidak pasti. Ini tanda perjuangan menjadi subyek.

Subyek memang terus menerus memperjuangkan kehadirannya dengan menggunakan keraguan sebagai alat untuk membangunkan kesadarannya. Tapi kesadaran subyek yang terakhir adalah bahwa ia akhirnya akan menyerah. Dalam Derai-derai Cemara (1949) Chairil Anwar menulis larik yang terkenal itu: “Hidup hanya menunda kekalahan/…/sebelum akhirnya kita menyerah”. Keraguan yang terbesar dan terakhir justru adalah: Karena kekalahan pada akhirnya itu, apakah ada gunanya kita meragukan sampai tibanya akhir itu?

Aku Berkisar antara Mereka

Bagi pembelajar kota (urbanis) modern, karya Chairil Anwar yang paling mengena tentu saja adalah sajak Aku Berkisar Antara Mereka.

Di dalam ruang kota, sajak itu bicara tentang jaman. Kota memang adalah tempat segala serentak terjadi. Chairil Anwar membangun keserentakan segala itu baik pada isi maupun bentuk bangunan sajak itu sendiri.

Banyak hal dengan kontras dan dimensi berbeda hadir dengan tempo yang cepat, beralih dari satu larik ke larik berikutnya, dalam jarak yang rapat. Juxtaposition adalah istilah yang sering digunakan dalam hal ini. Pada Aku Berkisar, juxtaposition ini menyangkut benda dan bukan-benda, luar dan dalam subyek, subyek dan sekelingnya, inidvidu dan keseluruhan kemanusiaan, waktu dan ruang, kefanaan dan keabadian, yang besar dan yang kecil, macrocosmos dan microcosmos. Pada keseluruhannya, subyek hadir di dalam ruang kota sesejatinya (par excellence), ialah jalan, sebagai tempat dan bingkai segala terjadi dan mengada. Di dalam ruang jalan, ruang kota itu, pembaca diajak untuk merasakan sensasi bergerak-gerak terus menerus, mungkin ulang-alik, sebagai subyek, sambil mengalami dan merenungkan banyak hal sekaligus. Inilah semacam “meditasi berjalan.”

Di ruang jalan itu subyek terus menerus berada dalam dialog dan perhitungan berhadap-hadapan dengan banyak hal di sekelilingnya: keanekaragaman rupa, mereka, pandangan (mata mereka), bencana, budaya pop (film dan musik), mesin (trem), lampu jalan (metafor yang kerap dalam banyak wacana tentang kota), penderitaan, tanda jaman, revolusi (tahun gempita), perasaan subyek sendiri, dan lain-lain. Puncak dari sajak ini adalah penegasan, bahwa apapun yang ada, termasuk patologi modernisasi, bagaimanapun juga, adalah bukti kedaulatan subyek.

Dalam 21 larik, isi sajak ini menggambarkan intisari kota modern dan kelana subyek di dalamnya. Bentuk sajak ini—21 larik yang kental menyatu, tanpa terbagi dalam bait-bait, perpindahan gagasan yang cepat dan kontras dari satu larik ke larik berikut, bersama bunyi sanjak “a” pada akhir semua larik—adalah juga metafor grafis dan musikal dari kekotaan modern itu sendiri.[5] Jangan-jangan, kekuatan sekaligus dari metafor grafis dan musikal inikah yang kita sebut “puitis”?

AKU BERKISAR ANTARA MEREKA (1949)

 

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa

Larik pertama ini langsung membawa kita kepada pemahaman subyek yang berada di kerumunan, juga kaya dengan gerak, mobilitas, navigasi sosial, juga negosiasi (sejak terpaksa).

 

Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata

         mereka

 

Inilah sosiologi kota dalam satu dua larik. Inilah barangkali yang diinginkan oleh Chairil Anwar sebagai suatu kernbeeld, sebagimana ditulisanya dalam kartupos kepada H.B. Jassin, 8 Maret 1944. Lalu cepat kesadaran kita dibawa ke ruang kota, ialah jalan, sebagai gelanggang dinamika sosial itu, yang nanti akan juga menjadi gelanggang dinamika fisik kota juga.

 

pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:

kenyataan-kenyataan yang di

dapatnya.

(bioskop Capitol putar film Amerika,

lagu-lagu baru irama mereka berdansa)

Subyek mengalami pergaulan yang ramai. Film dan musik merupakan unsur budaya pop dan sekaligus asing yang paling kuat pada waktu itu. Adorno dan Horkheimer menulis Dialectics of Enlightenment, yang antara lain mengandung fragmen tentang industri budaya (The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception) pada tahun 1944 di Los Angeles.

Larik berikutnya dengan seketika menegaskan subyek berjarak yang menegasikan pengalaman itu:

 

Kami pulang tidak kena apa-apa

Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga

“Tetangga” adalah metafor penting dan sarat makna. Sebab, dalam kota yang terlanda modernisasi, “tetangga” adalah hubungan sosial yang problematik, yang terus menerus berubah hingga kini. Apakah tetangga berarti keakraban, dengan konsekuensi ajal berarti menjadi akrab? Ataukah tetangga berarti “dekat di mata jauh di hati,” jadi tidak akrab, seperti sudah makin menjadi dalam masyarakat kota kita sekarang? Tetangga bisa juga berarti sesama warga yang duduk di sebelah subyek di dalam sarana kota, misalnya trem, atau sesama warga yang sedang menunggu trem di halte. Tetangga adalah suatu konsep sosiologis sekaligus politis. Karena itu, dalam larik-larik berikut, bayangan “tetangga” masih terus hadir.

 

Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota

 

Sedang pada larik berikutnya tetangga dan aku di dalam “kami”, di dalam gerbong trem sebagai ruang bersama yang bergerak, dihadapkan pada konsep tentang jaman—tentang kesejamanan (contemporaryness). Trem adalah ruang khalayak masa depan. Angkutan umum telah hadir sebagai bayangan ruang khalayak alternatif yang makin dominan di kota-kota modern.

 

Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.

 

“Gigi masa”  adalah metafor yang merujuk kepada Jagannatha/Juggernaut, suatu metafor yang sering digunakan para teoris modernisasi untuk melambangkan landaan modernisasi, atau landaan jaman secara umum. Ia berasal dari salah satu ritual Hindu di India, dengan patung Shiwa raksasa di atas roda raksasa yang ditarik dalam suatu parade.  Sesudah trem dan Jakarta Kota, “gigi masa” membawakan dimensi waktu dan ruang makro yang melampai kota dan kekinian. Kata “gigi” juga mengandung asosiasi bunyi yang meneruskan bayangan akan roda pada trem dan Jagannatha itu.

 

Larik berikut secara cepat dan kontras kembali kepada subyek yang terlanda Jagannatha modernisasi:

 

Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji

       juga

Sandarkan tulang belulang pada lampu jalan saja,

 

Sedang “lampu jalan” mengembalikan kita kepada ruang mikro perkotaan (jalan). Lampu jalan adalah sesuatu yang diam, kontras terhadap “gigi masa” yang bergerak, berbunyi dan makrokosmik. Subyek di bawa lampu jalan adalah metafor kehadiran manusia di dalam ruang kota yang kelam dan tidak peduli.

Tetapi, di luar kelam jalan kota yang diam, dengan lampu jalan yang terang sendirian, dunia sedang berubah pada skala besar, melampaui kota. Suatu kehendak jaman sedang mendatang, perubahan terus mendesak:

Sedang tahun gempita terus berkata.

 

Sedang alam hadir hanya sebagai interupsi, namun mengusik hati juga untuk mengingat yang spiritual.

Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.

Ah hati mati dalam malam ada doa

Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta

       mereka

 

Larik-larik ini menghadirkan beranekaragam keadaan dan perasaan yang dengan cepat beralih dari satu ke yang lainnya: alam (ialah hujan), orang bersama (kami) menunggu, mesin dan ruang kota (ialah trem dari kota), waktu dan warna (malam) dan subyek dengan hati dan spiritualitas,  doa untuk yang tercinta (Bagi yang baca tulisan tanganku…).

 

Sudah itu suatu dimensi global dan fana lagi:

 

Semoga segala sypilis dan segala kusta

(Sedikit lagi bertambah derita bom atom pula)

 

Larik-larik di atas adalah tentang patologi modernisasi, yang mau tidak mau paling terasa bergelanggang di kota. Tapi bahkan ini adalah bukti otonomi (termasuk tanggung-jawab) subyek manusia, secara bersama-sama. Sebab itu larik berikutnya:

 

Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama

 

Pada larik ini subyek hadir dalam kolektivitas (“kedaulatan kami bersama”), melampaui aku “individu”.

 

Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa

Kualami kelam dan mereka dalam diriku

      Pula

 

Menerima, dan mengalami kelam, serta membiarkannya ke dalam diriku pula, apakah ini tanda peleburan subyek ke dalam sekeliling, sehingga subyek kehilangan jarak dan daya kritis? Barangkali ini menghantar Chairil Anwar kepada kesadaran tentang makin melemahnya subyek di dalam sajak-sajak berikut pada tahun terakhir hidupnya, 1949? Barangkali sesudah habis-habisan bikin perhitungan dengan kelam, dengan masuk menemuinya berhadap-hadapan, akhirnya subyek paham sepenuhnya tentang kelam itu, sehingga “mereka dalam diriku pula”? Ini bukan berarti subyek yang kalah kepada kelam, tetapi subyek yang menguasai kelam, dengan internalisasi kelam itu ke dalam diri subyek, bukan sebaliknya, bukan subyek yang larut ke dalam kelam. Subyek “mengalami” mengandaikan subyek yang memiliki kesadaran sendiri, bukan menjadi obyek.

 

***

 

Catatan I: Subyek di dalam Jalan Kota

 

Subyek di dalam jalan kota berulang di dalam beberapa sajak CA yang lain: BUAT NYONYA N. (Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satu/…/Jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi);  CERITA (Di pasar baru mereka/Lalu mengada-menggaya/…); KAWANKU DAN AKU (Kami sama pejalan larut/)

Kadang ia merupakan metafor yang sebanding dengan “laut”. Misalnya dalam “Aku memang tidak bisa lama bersama/Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama! Dalam PEMBERIAN TAHU, 1946; Tidak perempuan! yang hidup dalam diri masih lincah mengelak dari pelukanmu gemas gelap,/bersikeras mencari kehijauan laut lain,/dan berada lagi di kapal dulu bertemu,/berlepas kemudi pada angin; dalam SITUASI, 1946  dan juga KABAR DARI LAUT.

Kota dan laut bertemu di pelabuhan: inilah juga metafor yang sering muncul dalam sajak-sajak CA, misalnya pada BUAT ALBUM D.S.,  “SENJA DI PELABUHAN KECIL”; juga pada “KAWANKU DAN AKU”

 

Catatan II: Modernisasi, Modernitas, Modernisme

Modernisasi adalah proses obyektif yang terjadi sejak abad ke-18 di Eropah, dengan terutama berdasarkan perkembangan pesat dari rasionalitas yang mewujud dalam ilmu-pengetahuan dan teknologi.  Perkembangan ini menimbulkan serangkaian perubahan hubungan-hubungan sosial, ekonomi dan politik. Perubahan ini dasyat karena sekaligus radikal, cepat, dan melanda segala bidang kehidupan.

Marshall Berman (All That’s Solid Melts into the Air, the Experience of Modernity,1982): Unsur-unsur yang terdapat dalam proses modernisasi adalah temuan-temuan besar dalam ilmu fisika, industrialisasi dalam pola produksi, goncangan hebat dalam kependudukan, makin berkuasanya negara nasional, gerakan sosial yang bersifat massal, pasar dunia kapitalistik yang fluktuatif.

Sebenarnya itu semua bagi kita kini merupakan pengalaman sehari-hari, sehingga kita lupa bahwa mereka sebenarnya “baru” hadir kencang sekitar dua ratus lima puluh tahun terakhir, dan sangat berbeda dengan masa sebelum abad ke-18.

Jürgen Habermas (Modernity—an Incomplete Project, dalam H. Foster, The Anti-Aesthetics, Essays on Postmodern Culture, 1983) menyebut proses ini societal modernisation, yang merupakan perkembangan kemasyarakatan yang melibatkan industrialisasi, kemajuan ilmu-pengetahuan, dan meningkatnya urbanisasi serta rasionalitas. Sedangkan cultural modernisation adalah  proses subyektif yang mengembangkan tangapan kultural terhadap proses obyektif (modernisasi, atau societal modernisation) tadi. Modernisme adalah hasil dari proses ini, ialah dalam bentuk berbagai gagasan, visi dan karya.

Modernitas adalah pengalaman sehari-hari perorangan akan proses-proses tersebut.

Yang penting dari pemahaman di atas adalah bahwa modernisme, dengan demikian, bersifat subyektif dan majemuk. Marshall Berman menceritakan hal ini dengan mengambil kasus sastra Rusia, yang di abad ke-19 adalah “negara sedang berkembang” dalam konteks Eropa, karena relatif terlambat dalam mengalami modernisasi, dan mengembangkan modernisme yang khas dan beranekaragam di dalamnya sendiri.

Hilde Heynen (Architecture and Modernity, 1999) menyarikan dua sifat dasar dalam spektrum modernisme yang ada, setidaknya dalam arsitektur dan urbanisme: programatik, dan transitoris.

Pada yang pertama gagasan yang dominan adalah bahwa proyek kemajuan dan emansipasi adalah inheren dalam modernitas.

Pada yang kedua tekanannya kuat pada transformasi permanen yang ditimbulkan oleh modernisasi obyektif, dan karena itu bersimpati pada kesementaraan dan kefanaan, serta yang serba cepat berlalu (transcient).

Marshall Berman:

To be modern is to find ourselves in an environment that promises us adventure, power, joy, growth, transgormation of ourselves and the world—and, at the same time, that threatens to destroy everything we have, everything we know, everything we are.

Sapardi Djoko Damono (“Chairil Anwar Kita”, kata penutup dalam Aku ini Binatang Jalang, 1986):

Ia (Chairil Anwar) “tumbuh di zaman yang sangat ribut, meneganggkan, dan bergerak cepat”.

Suatu karya yang berhasil mungkin akan merupakan ekspresi dari ketegangan antara tujuan dan transformasi abadi. Bagaimanapun, dalam banyak kasus ada penyimpangan yang meletakkan yang satu di bawah yang lainnya. Dalam kasus emansipasi dan kemajuan diletakkan sebagai tujuan akhir, dan pengalaman akan transformasi abadi hanya dianggap merupakan jalan sementara saja untuk mencapai yang pertama tadi, maka hasilnya adalah rejim totaliter. (Dan inilah yang umumnya dikritik sebagai “modernisme”, seolah-olah ia cuma satu-satunya modernisme).  Seni dalam keadaan ini sering kehilangan otonominya dan kualitas internalnya, karena menjadi tidak penting dan sekedar alat untuk mencapai tujuan. Dalam kasus yang kedua dianggap sebagai semangat jaman yang harus dirayakan (atau diumbar), dan kesadaran akan yang pertama (tujuan) ditanggalkan, hasilnya adalah sepenuhnya “seni untuk seni” dan kesenian kehilangan relevansinya dengan kehidupan.

Diskusi tentang modernisme sekarang tentu saja jauh lebih kompleks dengan munculnya kritik-kritik baru. Pasca-modernisme, bagi para revisionis modernisme seperti Habermas, hanyalah kritik dan perkembangan lebih lanjut dari modernisme, dan merupakan kritik terhadap bentuk pertama modernisme (yang menekankan tujuan emansipasi dan kebebasan).

Bagi rasionalis tak tergoyahkan seperti Sutan Takdir Alisjahbana, munculnya kritik apa saja justru memperkuat tesis bahwa “akal” itu mencukupi, karena ia sanggup mengritik dirinya sendiri.

Tapi critical reason membawa instabilitas pada kebenaran, pada tujuan. Octavio Paz (dalam Children of the Mire, hal. 26):

Critical reason, by its very rigor, accentuates temporality. Nothing is permanent; reason becomes identified with change and otherness. We are ruled not by identity, with its enormous and monotonous tautology, but by otherness and contradiction, the dizzying manifestations of criticism. In the past the goal of criticism was truth; in the modern age truth is criticism. Not an eternal truth, but the truth of change.

Banyak penulis juga melihat bagaimana modernisasi seringkali direduksi, disunat, oleh rejim-rejim yang berkuasa, oleh elit, dan oleh kondisionalitas terkendali lainnya. Kita mengalami modernisasi yang mau dibatasi hanya pada ekonomi pada masa Orde Baru, misalnya. Begitu juga Singapura dan Malaysia, dan China kini, setidaknya untuk sementara ini. Modernisasi disempitkan menjadi hanya “pembangunan ekonomi” Paham redusksionis ini disebut antara lain dengan istilah developmentalisme.

Kritik lain terhadap modernisme programatik datang dari antropologi yang menentang konsekuensi evolusionisme (kebudayaan) dari modernisme demikian.


[1] Pemahaman tentang modernisasi, modernitas, dan modernismesaya batasi pada catatan di bagian belakang tulisan ini.

[2] Dalam kartupos kepada H.B. Jassin, 10 Maret 1944.

[3] Property business

[4] Kini ternyata memang perubahan sedang terjadi pada kedalaman itu, karena pemanasan buana.

[5] Ada risalah Aldo Rossi, seorang arsitek Italia yang mengembalikan kepercayaan diri arsitektur dalam urbanisme pada awal tahun 1980an di Eropah, melalui analogi fragmen. Setiap arsitektur adalah sekeping fragmen arkeologis. Fragmen punya makna pada dirinya sendiri, dalam dimensi ruang dan waktu, karena ia mengandung informasi tentang ruang dan waktu di sekelilingnya. Tetapi, ia juga memungkinkan imajinasi akan suatu keseluruhan yang lebih besar, yang sendirinya memiliki makna pada tingkat lebih tinggi, yang pada gilirannya juga memberi makna khusus pada fragmen karena perannya di dalam keseluruhan tersebut. Tepian-tepian keping fragmen ini, dengan ketidak-beraturannya yang longgar, justru berhubungan erat dengan sekelilingnya.  Tiap larik dalam Aku Berkisar antara Mereka seperti sekeping fragmen, seperti sekeping “arsitektur” dalam keseluruhan “kota” berupa keseluruhan bangunan sajak itu. Tiap fragmen larik berhubungan dengan keseluruhan bangunan sajak melalui tepian bergerigi dan rumpang.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Chairil Anwar: Subyek di dalam Landaan Modernisasi Kota

  1. syam says:

    Menarik sekali puisi Merdeka…

    bagi info lebih banyak dong tentang Ida
    atau buku apa yang bisa saya baca untuk tahu itu

    trims

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s