Bukittinggi, Desember 2003

Selebar Alam/Sekecil Biji Bayam/Bumi dan Langit ada di dalamnya

 

Bagaimana menggambarkan Bukittinggi bagi orang Jakarta yang terbiasa dengan skala serba besar? Kalau digelar selebar alam, kalau digumpal sebiji bayam, langit dan bumi ada di dalamnya. Begitu saja sih, ringkasnya.

 

Kok dikambang saleba alam

Kok dipulun sagadang biji bayam

Bumi jo langit ado di dalamnyo.

 

Pepatah di atas sebenarnya menggambarkan sifat dari “adat yang sebenarnya adat”, ialah tingkatan paling dasar dari falsafah Minangkabau yang tak lain adalah hakekat alam itu sendiri. Tapi begitu jugalah kota Bukittinggi: isinya padat, lengkap beragam dan berlapis-lapis dalam ruang yang sangat terbatas.

 

Bagian utama kota itu, bersama Ngarai Sianok dan Kotagadang di seberangnya, muat di dalam Medan Merdeka, atau Lapangan MONAS, di pusat Jakarta. Bayangkan Ngarai Sianok membujur meliuk-liuk di tengah-tengah lapangan itu, membelahnya menjadi dua bagian, barat dan timur. Kotagadang ada di bagian barat. Di bagian timur, terbentang bagian utama Kota Bukittinggi, terdiri dari “Atas” yang berbukit-bukit di sekitar Jam Gadang, dan “Bawah” yang datar di sekitar Lapangan Olahraga KODIM Wirabraja. Atas dan Bawah berhubungan melalui suatu lereng sempit di antara rel kereta api di timur dan Ngarai Sianok di barat. Luas Medan Merdeka adalah 80 Ha. Sedang luas kedua bagian itu tak lebih dari 50 Ha. Medan Merdeka kosong tak berpenghuni, sedang kedua bagian utama Bukittinggi itu berpenghuni lebih dari 5.000 jiwa. Meskipun merupakan kota kedua terbesar di Sumatera barat, Bukittinggi yang luas seluruhnya 2.500 Ha dan berpenduduk 93.000 jiwa memang hanya sebiji bayam bila dibandingkan dengan Padang yang luasnya 62.700 Ha dan penduduknya lebih dari 800.000 jiwa. Yang membuatnya istimewa adalah kepadatannya, yang rata-rata tiga kali kepadatan Padang. Kepadatan ini meninggi di kedua bagian utama tersebut, bukan hanya dalam arti jumlah, tetapi juga dalam arti keragaman dalam segala hal –kegiatan, bentukan alam, suku-bangsa, makanan, dan interaksi antara semuanya.

 

Di dalam Atas terdapat setidaknya empat bukit yang mudah dikenali. Bukit Kubangan Kabau adalah cikal-bakal Kota Bukititnggi, tempat pasar tertua ditegakkan, yaitu Pasar Serikat atau Pasar Kurai atau Pasar Atas. Perlengkapan pokok kota lainnya terdapat di sekitar pasar ini. Mesjid Raya terletak di ujung utaranya, sebelah barat. Lapangan Jam Gadang di ujung selatan. Kampung Cina terletak di lereng baratnya. Di seberang Jam Gadang berdiri terawat baik Istana Bung Hatta, yang dulu merupakan kedudukan pemerintah RI di Sumatera c.1947, bersebelahan dengan Hotel Novotel. Lebih ke utara terdapat dua bukit yang hampir kembar bentuknya, mengapit jalan raya kota sebagai poros utara-selatan, ialah Jalan A. Yani. Sungguh aneh mengapa jalan sepenting ini mendapatkan nama yang tidak begitu penting. Kedua bukit ini adalah Bukit Jirek di barat dan Bukit Sarang Gagak di timur. Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh, sebuah jembatan gantung dengan kabel baja untuk pejalan kaki, melintas pada ketinggian 20 meter di atas Jalan A. Yani.

 

Di Bukit Jirek dulu terdapat Fort de Kock yang dibangun Belanda pada tahun 1835 untuk menghadapi Perang Paderi (1821-1837). Kini ia sebuah taman kota yang rindang dengan pohon pinus. Di kakinya, sebelah barat, terdapat Rumah Sakit Achmad Mochtar, bersebelahan dengan unit transfusi darah Palang Merah Indonesia dan Perpustakaan Umum Bung Hatta. Bukit Sarang Gagak di sebelah timur adalah sebuah taman bunga di masa kolonial. Kini ia sebuah taman margasatwa mini dengan sebuah museum etnografi Minang. Pada lereng utaranya, sepanjang Jalan Pemuda,  berderet kediaman keturunan Keling, sehingga disebut Kampung Keling. Nama-nama tokonya terbaca antara lain Fariz, Ravi, Shaan dan Rahman.

 

Bukit ke-empat, yaitu Bukit Cangang adalah sebuah kawasan hunian di tepi Ngarai Sianok, pada sisi barat perbatasan antara Atas dan Bawah. Namanya mungkin menunjukkn bahwa disini adalah tempat orang tercengang melihat panorama Ngarai Sianok dengan Gunung Singgalang di belakangnya dan Gunung Merapi di sebelah kiri. Menyusuri ngarai dari kampung ini ke arah barat orang akan sampai ke Taman Panorama, sebuah ruang terbuka kota hijau terpenting selain Bukit Jirek dan Bukit Sarang Gagak. 

 

Di Atas ini, atau menempel pada lerengnya, terdapat lagi lima pasar dari seluruh tujuh pasar di Kota Bukittinggi, yaitu Pasar Bawah, Pasar Banto, Pasar Aur Tajungkang, Pasar Lereng dan Pasar Ateh Ngarai. Hanya Pasar Aur Kuning yang terletak agak jauh di sebelah tenggara kota. Di dekat Pasar Ateh Ngarai terdapat Stadion Ateh Ngarai. Kalau ada grup musik dari Jakarta, manggungnya disini. Mesjid Raya, Mesjid Agung, dan beberapa mesjid besar lainnya berada di antara pasar-pasar dan bukit-bukit tersebut.  Sebuah Vihara Buddhis mengambil tempat di Kampung Cina, Jalan A. Yani bagian selatan sekarang.

 

Sedang tetenger paling terkenal di Bawah adalah bekas Sekolah Raja, sekolah guru atau Kweekschool kedua (tahun 1873-1908) di Hindia Belanda setelah yang di Surakarta (1852). Gedung-gedung di sebelah barat Jalan Sudirman sekarang dipakai oleh SMA Negeri 2, sedang yang di sebelah timur oleh kepolisian resor Bukittinggi. Selain itu terdapat perlengkapan kota lainnya seperti Balai Kota, lapangan olahraga KODIM Wirabraja, gereja katolik St. Petrus Clavert dengan sekolah dan tempat penitipan anak (day-care centre) St. Fransiskus, sebuah gereja protestan, sebuah rumah sakit TNI, Rumah Sakit Islam Ibnu Sina yang diresmikan Hatta pada tahun 1977, bersama-sama dengan sejumlah kantor pemerintah kota, berbagai hotel, kantor perwakilan Garuda Indonesia yang baru dibuka beberapa bulan terakhir, serta reservoir dan pusat distribusi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Di salah satu bekas rumah dinas perusahaan kereta api di Jalan Melati, baru saja dibuka sebuah tempat kursus dan terapi khusus untuk anak-anak autis. Ini adalah suatu sarana yang sangat langka di Indonesia. Kota ini memang punya tradisi pelopor dalam hal pendidikan. Disini Roehana Koeddoes membuka sekolah kepandaian putri pertama c.1917.

 

Semua itu muat di dalam luasan Medan Merdeka di Jakarta, bahkan cukup separohnya saja.

 

Lagi pula, di antara semua itu terselip fragmen-fragmen yang masing-masing memiliki cerita sendiri, antara lain: pohon-pohon kayu manis (Cinnamon dalam Inggeris, atau Cinnamomum zeylanicum dalam latin), Museum Bung Hatta, Pandai Sepatu Yak Yek yang berusia 75 tahun, jenjang-jenjang dan rumah makan Monalisa yang menyajikan 25 jenis buah tropis.

 

 

Ngarai

 

“Agus Salim dulu biasa lewat sini”, kata Pak Akang menunjuk pada jalan pasir itu.

 

Djaharuddin Tamin St. Rangkayo Sati, nama lengkap Pak Akang, menjaga jalan setapak yang menuju ke Jembatan Babuai di atas Ngarai Sianok. Ia memasang penghalang di tengah jalan setapak itu, dan meletakkan sebuah kotak dengan tulisan “sumbangan untuk merawat jalan” di salah satu ujungnya. Biasanya orang memberikan seribu rupiah.

 

Rumah Pak Sati hanyalah gubuk berdinding papan-papan bekas pakai dengan atap seng dan lantai tanah pasir, sebagaimana semua tanah di kawasan ini. Itulah miliknya setelah puluhan tahun merantau, antara lain ke Jakarta, dan kembali lagi ke kampung halaman. “Meski namanya pakai rangkayo, begini saja kami ini”, kata isterinya sambil terkekeh kecut.

 

Jembatan Babuai adalah jembatan susunan papan selebar 1.5 meter, sepanjang 25 meter, yang menggantung pada kabel baja, yang dijangkar oleh kaki-kaki beton di kedua ujungnya. Kaki-kaki ini dicat warna merah jambu. Jembatan ini “babuai”, berayun ke kiri-kanan bila dilewati. Makin ke tengah, makin hebat buaian ini, bisa membuat mual bagi yang tak biasa, mengingat pula tingginya sekitar 20 meter di atas dasar ngarai.

 

“Baru empat tahun jembatan ini dibikin, menggantikan jembatan kayu lama dari jaman Belanda, tapi sudah rusak lagi. Beberapa papannya lepas. Tepi-tepinya keropos. Maklumlah, kontraktor jaman sekarang lain…” sindir pak Sati, yang masih saja mengagumi Belanda.

 

Dulu, menurut pengalaman masa kecil Pak Sati, Ngarai Sianok tak sedalam ini. Bila duduk di jembatan yang dulu, kaki dapat bermain air Batang Sianok, nama sungai yang mengalir di dasar ngarai. Boleh jadi ingatan Pak Sati cenderung melebih-lebihkan, atau letak jembatan yang dahulu memang lebih rendah daripada yang sekarang; tetapi memang fakta bahwa dasar ngarai makin dalam. Ngarai Sianok memang bukan patahan tektonis yang tiba-tiba dalam, tetapi terbentuk oleh penggerusan terus menerus oleh air Batang Sianok dan oleh ulah manusia. Baru tahun 2001 orang dilarang menambang pasir di ngarai. Tapi sifat pasirnya itu akan tetap saja menyebabkan ia tergerus selama-lamanya oleh air di masa mendatang. Selain makin dalam, ia juga makin lebar, karena longsor terus berulang. “Belum delapan bulan saya tinggal di sini, tetapi sudah beberapa kali dengar gemuruh longsor”, cerita seorang ibu dari Jawa yang tinggal di sebuah kampung di tepi ngarai.

 

Kerusakan ngarai tak berhenti pada dinding dan dasarnya. Isinya juga. Sampah kota dibuang secara resmi di batas paling utara kota dengan Ngarai Sianok. Tanpa pemisahan atau pengolahan apapun, open dumping saja, langsung ke lereng ngarai, yang tentu saja perlahan-lahan akan turun ke dasarnya. Untuk mencapai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini, memang harus melewati kawasan berhutan lebat. Hanya saja jaraknya sebenarnya hanya 4.5 kilometer dari pusat kota. Kalau Jam Gadang dibayangkan di dalam Medan Merdeka, Jakarta, maka TPA itu kira-kira terletak di Jembatan Semanggi. Itu yang resmi, yang tidak resmi terjadi di sepanjang Ngarai yang berbatasan dengan kota. Begitu juga air kotor kota ada yang langsung dibuang ke Ngarai, misalnya di daerah Belakang Balok.

 

Sampah ini memang perkara yang bandel. Hampir semua pihak masih melihatnya dengan cara yang sangat primitif: dibuang saja. Nama “Tempat Pembuangan Akhir” mencerminkan persis mentalitet demikian. Prinsip-prinsip reuse, recycle, reduce (3R) hanya dibicarakan, tak sampai jadi kenyataan, karena tak ada kemauan dan kemampuan membangun institusi yang berkelanjutan, karena keengganan untuk berubah. Dengan desentralisasi/otonomi, timbul pula soal lintas-batas. Semua orang mengatakan “not-in-my-backyard” (NIMBY). Bukittinggi membuang sampahnya di “halaman-belakangnya” yang paling jauh, sejauh masih dalam batas administratifnya. Tetapi dampaknya akan mengikuti aliran Batang Sianok sepajang puluhan kilometer ke hilir.

 

Penambang pasir memang pindah, tapi malah ke dalam wilayah kota Bukititnggi sendiri, misalnya di Guguk Bulek dan Gulai Bancah. Lereng di Gulai Bancah memang ditanami rumput sehabis bukit pasir di papas, karena di atasnya sedang dibangun kantor walikota yang baru. Susahnya, membangun memang memerlukan pasir. “Semua itu, dari jaman Belanda sampai sekarang, dibangun bahan dari sini”, kata Pak Sati sambil menunjuk ke Bukitinggi yang beberapa lampunya mulai dinyalakan menjelang magrib.

 

Ngarai Sianok memang sunyi-senyap, sebagaimana arti dari namanya, kecuali suara gemericik air, kicau burung dan derit serangga, misalnya kumbang kayu  (Scolytidae) yang besar hitam itu. Maka tak heran ada dongeng bahwa ia dibentuk untuk melerai pertikaian antara Urang Kurai, penduduk asli Bukittinggi, dengan penduduk di seberangnya.

 

Dibandingkan Grand Canyon di Amerika, memang Ngarai Sianok “milik awak ini jauh lebih kerdil”, banding H. Marthias Dusky Panoe, wartawan senior KOMPAS, dalam Memoar Seorang Wartawan: A Nan Takana (Apa yang Teringat), 2001. Panjang Sianok hanya 30 km, paling dalam 120 m, paling lebar 300 m, sedang pada bagian paling sempit lebar dasarnya hanya empat meter saja. Grand Canyon berpanjang 380 km, lebar 6 hingga 30 km, kedalaman 800-1500 meter.

 

“Milik awak” ini bagaimanapun juga menjadi ruang terbuka yang menjadi hiburan banyak orang. Dari tepi kota Bukittinggi, ada setidaknya tiga tempat untuk mencapainya. Yang paling mudah adalah menuruninya dari jembatan kendaraan yang meneruskan jalan raya dari Bukittinggi ke Kotagadang melalui Pasar Ateh Ngarai. Dari utara kota, ada Janjang Seribu –jumlah anak tangganya sih sebenarnya hanya 343— yang dapat dicapai melalui kampung Jambak Dalam. Yang lainnya adalah Jenjang PDAM, karena dibuat oleh PDAM sebenarnya untuk mencapai Water Intake Plant dan menarik pipa darinya ke Water Treatment Plant di daerah Belakang Balok, diujung Jalan Perwira. Jumlah anak tangganya adalah 488, dan jarak vertikal 120 meter. Dari Taman Panorama ada jalan setapak ke arah utara, menuruni Jenjang Panorama sampai ke Jalan Ateh Ngarai, lalu belok kiri ke jalan setapak yang menuju ke Jembatan Babuai, melalui palang tol Pak sati.

 

Hujan melimpah di kota ini, tetapi tak demikian halnya dengan air minum ke rumah-rumah, yang umumnya berhenti mengalir mulai sore sampai pagi hari. PDAM hanya sanggup sediakan sekitar 95 l/detik untuk 12,000 rumah tangga pelanggan terdaftar. Ini berarti baru separoh saja dari seluruh penduduk kota yang terlayani. Tiap rumah yang sudah berlangganan itupun hanya kebagian rata-rata 300 l/hari. Suatu keluarga dengan empat anggota seharusnya memerlukan sekitar 400 ampai 600 l/hari. Belum terhitung keperluan hotel dan industri.

 

Yang lain yang melimpah di kota ini adalah pohon Kayu Manis, yang tumbuh di mana saja baik secara liar maupun sengaja ditanam karena bernilai ekonomis. Ke arah manapun mata memandang ia nampak, dengan daun-daun mudanya yang berwarna merah muda yang manis dipandang.

 

Kotagadang

 

Setelah Jembatan Babuai, jalan setapak yang mendaki menghantar ke Kotagadang dalam waktu tak lebih dari setengah jam, melewati kebun-kebun jeruk Limau, Kayu Manis  dan  Gada Munggu, salah satu rempah utama untuk masakan Minang. Memasuki Kotagadang, jalan ini bertemu Jalan St. Sjahrir. Ujungnya, pusat Kotagadang, adalah sebuah persimpangan yang ditandai sebuah mesjid besar, sekolah, kantor penghulu nagari, balai adat, dan sebuah lapau yang merangkap toko perhiasan perak.

 

“Meskipun kecil, kota ini disebut big, gadang, apalagi sejak seorang kelahiran sini menjadi terkenal dan dikagumi karena pandai banyak bahasa”, kata seseorang di lapau itu sambil mengajak minum kopi. Orang yang dia maksud adalah H. Agus Salim.

 

“Mungkin gadang maksudnya great, pak, bukan big”, kata saya, yang paham bahwa saya sedang dikira orang asing. “Great seperti ‘akbar’, sebab kota ini banyak lahirkan orang great, bukan orang big”, tambah saya.

 

Dari persimpangan ini memencar empat jalan. Dua jalan lagi mengabadikan pribadi penting kelahirian nagari ini.  Jalan Agus Salim menuju ke tenggara, ke rumah keluarga Salim yang terawat baik. Jalan Amai Setia yang menuju ke utara mengabadikan nama sekolah kerajinan perempuan pertama di Sumatera Barat. Nama Rangkayo Siti Roehana Koeddoes, pendiri sekolah itu, diabadikan pada sebuah jalan yang menghubungkan Jalan St. Sjahrir dan Jalan Amai Setia. Jalan keempat yang memancar dari pusat kotagadang bernama Gantiang-Kotagadang, menuju ke Selatan. Deretan pohon pinus membentuk perspektif ke Gunung Singgalang.

 

Alangkah lapang hati terasa berada di sebuah tempat yang jalan-jalannya penuh kenangan tentang tempat dan orang setempat itu sendiri. Setidaknya, tidak ada nama jenderal korban 1 Okober 1965 yang selama Orde Baru telah menjadi dominan di seluruh kota di Indonesia, menghapus nama-nama setempat yang dilahirkan oleh masyarakatnya sendiri dari dalam kandungan sejarahnya sendiri. Di Jogja nama Jalan Dr. Yap, dokter mata pertama Indonesia dan pendiri rumah sakit mata pertama yang terletak pada jalan itu, diganti. Tidak diketahui apatah ada nama jalan Dr. Yap di tempat lain sebagai penggantinya.

 

Nama-nama jalan di kota-kota Indonesia memang kehilangan logika toponim sejak Orde Baru, sebab redefinisi “pahlawan” untuk menunjuang Orde Baru telah melahirkan daftar nama wajib, yang utamanya adalah nama sejumlah jenderal ataupun pejuang bersenjata lainnya. Nama-nama sipil diganti, seolah-olah tak ada sipil yang berhak menjadi “pahlawan” yang pantas menjadi nama jalan.  Yang keterlaluan, mungkin malah kualat, adalah digunakannya pada tahun 1980an nama seoarang jenderal yang masih hidup sebagai nama salah satu jalan utama di Kota Kupang, ialah Suharto, yang menyambung dengan Jalan Jenderal Sudirman. Permainan kekuasaan atas nama jalan memang melahirkan ironi yang kadang-kadang lucu. Misalnya Jalan Teuku Umar di Jakarta dulu bernama Van Heutz, ialah jenderal Belanda yang berhadapan dengan Teuku Umar,  dan di masa Jepang diberi nama seoarang admiral Jepang. Memang Jepanglah yang pertama kali secara besar-besaran mengganti semua nama jalan yang kebelanda-belandaan. Jepang juga mengganti nama Batavia menjadi Jakarta, dari nama Pangeran Jayakarta.  Namun, seperti di Kotagadang, di banyak kota kecil lain di Indonesia, ada banyak nama Jalan Haji X dan  legenda lokal lainnya. Semoga bertahan! Siapa tahu, semangat yang menolak “cerita besar” dari “atas” dapat menjadi ilham untuk bertahan. Setidaknya di sebuah jaman otonomi dan desentralisasi.

 

Yang menjadi pemandangan umum di Kotagadang bukanlah rumah bergonjong, melainkan rumah-rumah bergaya Eropah, dengan beberapa motif ukiran setempat yang sudah disesuaikan.

 

“…masyarakatnya pun lambat laun, mulai meniru kehidupan gaya Belanda, termasuk tata ruang perkampungan hunian. Rumah-rumah penduduk dibangun dengan ukuran cukup luas sesuai dengan kemampuan ekonominya dan ruangan dalam rumah ditata sebagaimana halnya rumah orang Belanda, demikian juga dengan halaman yang luas serta ditanam aneka bunga-bunga berwarna cerah.” 

 

Gambaran tentang Kotagadang di masa awal abad 20 ini diberikan oleh Fitriyanti, penulis “Roehana Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat” (Yayasan Jurnal Perempuan, 2001).

 

Dinding rumah umumnya terdiri dari susunan papan yang rapat dan dicat tebal sehingga celah-celah sambungan semuanya tersumpal, menjadikannya tak lekang kena panas tak lapuk kena hujan. Beberapa dinding samping terbuat dari anyaman bambu.  Warna-warna terang –kuning, hijau muda, merah jambu—banyak terpilih. Ada juga yang menggunakan warna-warna pastel yang lembut dan sedikit pucat. Bagian depan rumah dikuasai deretan jendela yang umumnya selalu membuka. Tirai terawang selalu menghiasi setidaknya bagian bawah semua jendela, dari sebelah dalam. Tirai terawang yang penuh, dari atas sampai bawah jendela besar , diikat ditengah, sehingga memberikan  irama pada wajah rumah.  Di sebelah luarnya kadang-kadang masih ditambah tirai yang tak tembus pandang. Jendela-jendela masih umum terdiri dari dua lapis daun jendela: yang di sisi dalam berkaca, yang di luar ber-jalousie. Yang pertama menahan angin, memasukkan cahaya; yang lain menahan cahaya, memasukkan udara. Dua-duanya memberikan kemudahan pengaturan, mengingat cuaca yang berubah-ubah di dataran tinggi ranah Minang ini, pada kira-kira 950 meter di atas permukaan air laut.

 

Tokoh dalam buku Fitriyanti, Siti Roehana Koeddoes yang lahir pada 20 Desember 1884, mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada tahun 1911. Sekarang sekolahnya sudah tidak ada. Tinggal lah sebuah toko kerajinan. “Yang dahulu diajarkan sudah menjadi kepandaian turun temurun di dalam setiap rumah di Kotagadang, jadi tak perlu lagi ada sekolah yang mengajarkan”,  kata pengurus toko kerajinan terbesar di Kotagadang ini.  Belakangan ditambahkan sebuah museum di belakang toko

 

Roehana Koeddoes  dikenal luas sebagai wartawati  pertama asal Sumatera Barat. Senang menulis, di buku hariannya pada hari Jumat tanggal 5 Maret 1909 ia menulis: “Siti Robiah melahirkan seoang anak laki-laki diberi nama Sutan Sjahrir”. Roehana adalah saudara se-ayah  St. Sjahrir.

 

Sebelum menjadi wartawati, penulis dan penerbit, sebenarnya karir beliau yang paling penting adalah dalam memelopori pendidikan perempuan, dimulai dengan pendidikan ketrampilan yang bernilai ekonomis. Sulam Terawang dari Kotagadang memang sudah terkenal sebelum Roehana mendirikan Amai Setia. “Hanya perempuan di Kotagadang saja yang pintar membuat Sulam Terawang”,  tulis Fitriyanti. Tapi jasa Roehana adalah melembagakan home-industry di Kotagadang, menjadikan sulaman dan keterampilan lain sebagai basis ekonomi Kotagadang hingga sekarang. Ini dapat dibandingkan dengan jasa Sapto Hudoyo di Kasongan, Yogyakarta, pada tahun 1970an.

 

Upaya pemasaran Roehana nampak pada salah satu  koleksi di museumnya, ialah sejumlah piagam penghargaan karena kesertaan pada berbagai pasar malam di Jawa dan Sumatera:  Pakan Malam Fort de Kock: 3e Pasar Malam: 2 t/m 8 Juni 1926; Tjoeroep: 2e Tentoonstelling “Redjang-Lebong”, Juli-Augustus 1928; Pasar Malam Gambir: 18 Augustus – 9 September 1928; Pasar Malam Padang: 27 tot en met 10 Augustus 1929; Pasar Malam en tentoonstelling Mandailing: 1929; Pasar Keramaian Padang-Pandjang: 4 t/m 8 Juli 1935; Pasar Malam Fort v/d Capellen (Batusangkar): 1935; Pasar Keramaian Pajakoemboeh: 30 April t/m 6 Mei 1941; dan 24 t/m 30 Maart 1937; dan Pasar Keramaian Loehak L Kota: 13-19 April 1938.

 

Koleksi ini memberikan sebuah gambaran tentang seni grafis pada masa itu. Piagam dari Pasar Malam Gambir (1928) dan Pakan Malam Fort de Kock (1926) merupakan puncak yang menarik. Yang pertama berukuran besar, di antara A3 dan A4, berbingkai lebar terdiri dari motif-motif nusantara –mungkin Sumatera Utara– yang dirancang dalam gaya art-deco, dengan warna-warna blok hitam, hijau tosca, kuning dan merah. Sedang yang kedua menggunakan teknik etsa dengan warna tunggal hijau pucat. Ruang tulisan di tengah-tengah hanyalah 20 % dari seluruh bidang piagam. Selebihnya adalah bingkai yang terbentuk dari gambar-gambar eksotis alam Minangkabau dalam gaya Raden Saleh Bustaman (1814-1880). Di atas sekali, di tengah-tengah, terdapat sebuah kepala kerbau yang tanduknya panjang belebih. Dikiri kanan nama “Pakan Malam Fort de Kock” mengaum dua harimau Sumatera. Di kiri kanan tulisan utama, ialah nama penerima piagam, tegak gambar Jam Gadang yang tak serupa benar dengan aslinya. Sedang di kedua sudut bawah mekarlah bunga bangkai Rafflesia arnoldii, mengapit sawah ladang berlatar belakang gunung berasap.

 

Pasar Malam merupakan ajang promosi yang sekaligus menyediakan hiburan rakyat yang penting dalam kehidupan kota-kota Hindia Belanda di masa sebelum Perang Dunia II.  Ini adalah peristiwa  sosial untuk penduduk pribumi dan Eropah bertemu secara terbuka, sama-sama sebagai khalayak kota, meskipun tentu terdapat kesenjangan di sana sini. Tradisi ini berhasil dihidupkan kembali oleh Ali Sadikin dalam bentuk Jakarta Fair di tempat dulu Pasar Gambir diadakan, di bagian selatan Medan Merdeka. Ketika menjadi Jakarta “International”  Trade Fair,  ia mulai surut sebagai ruang pertukaran sosial, dan makin menjadi sekedar ruang komoditi. Ia akhirnya sama sekali kehilangan status dalam kenangan kolektif khalayak Jakarta ketika dipindah ke bekas bandara Kemayoran.

 

Pasar Malam Gambir penting bagi arsitektur Indonesia, karena merupakan kesempatan menampilkan eksperimen para arsitek kelahiran Belanda yang mendirikan jurusan arsitektur di Bandung. Mereka untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia menghidupkan bentuk-bentuk arsitetur tradisional suku-suku bangsa Nusantara, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta teknologi modern. Arsitektur indische, demikian secara popular periode dan gaya ini disebut, misalnya menghasilkan puncak-puncak yang mengagumkan seperti Aula Barat kampus Institut Teknologi Bandung (c. 1915), karya Maclaine Pont, salah satu tokoh utama gerakan ini. Ia juga membuat Gereja Pohsarang di dekat Blitar pada tahun 1936, sepuluh tahun setelah arsitek pribumi Yazid dan St. Gigi Ameh merancang Menara Jam Gadang yang beratap kubah runcing bergaya renaissance. Maclaine Pont menggunakan bentuk-bentuk yang sangat diilhami bentuk arsitektur dan seni kriya tradisional.  Atapnya dominan, mencuat ke atas. Tiap bidangnya melendut melengkung seperti pada atap bagonjong. Untuk mencapai bentuk ini genteng-gentengnya tidak dipasang pada kayu reng yang kaku, melainkan dicantolkan pada kabel-kabel baja yang melendut.

 

Sako dan Bako

 

Kedudukan Siti Roehana Koeddoes dalam sejarah perjuangan perempuan menjadi penting karena konteks kebudayaan matrilineal yang ternyata sama sekali tidak memudahkannya.  Pendukung terpentingnya adalah justru ayahnya. Perempuan memang pemilik pusaka, tetapi sama sekali tidak berkuasa. Entah kalau ini sejak dulu demikian, atau sudah terkikis oleh kecenderungan patriarkat agama-agama semawi.  Sedangkan ekses dari matrilinealisme, misalnya nenek yang lebih menyayangi cucu dari anak perempuan, diingatkan juga oleh Roehana Koeddoes. ”…(matrilinealisme) dalam hal warisan, mungkin baik, tapi dari segi kasih sayang hendaklah jangan dibedakan cucu dari anak lelaki dan dari anak perempuan”, ucap beliau menurut buku Fitiyanti. Darman Moenir, penulis kelahiran Sawahtangah, Batusangkar, 27 Juli 1952, dalam novelnya Bako (Balai Pustaka, 1983) yang sangat indah, yang memenangkan Hadiah Utama Sayembara Roman DKI 1980, menggambarkan konsekuensi-konsekuensi getir dari keluarga yang tidak tinggal di rumah sako (keluarga ibu), melainkan di tumah bako (keluarga ayah). Ia juga memprotes ketidakadilan, mengingatkan bahwa nilai-nialai kemanusiaan yang lebih dasar tak boleh terperangkap adat, dan bahwa watak serta perilaku orang per orang lah yang menentukan nilainya, bukan keturunan, sistem adat, atau bawaan alamnya. Meskipun berada dalam kungkungan adat, pilihan-pilihan pada akhirnya tetap merupakan tanggung-jawab otonom setiap orang. Indahnya novel ini terletak pada dibangunnya pemahaman secara bertahap dan berlapis, melalui lima tokoh eksplisit di luar si pencerita, dan secara implisit juga melalui tokoh keenam, ialah si pencerita sendiri.

 

Islam memperkenalkan warisan melalui garis laki-laki, sehingga akhirnya terjadi perumusan baru: pusaka yang turun temurun sebenarnya bukan warisan, karena tak dapat dibagi-bagi, melainkan milik bersama; sedang warisan adalah hasil keringat sendiri (ayah dan ibu), yang karena itu boleh diwariskan melalui garis laki-laki. Kata “warisan”  sendiri berasal bahasa Arab. Sedang kata “pusaka” adalah asli dari khasanah budaya Melayu pra-Islam.

 

Seperti di banyak kebudayaan lainnya, ibu Minang juga mendapat julukan yang indah-indah: limpapeh rumah nan gadang, tunggak tuo, dan amban puruak (pegangan kunci bilik dalam). Limpapeh adalah nama sejenis kupu-kupu yang sangat indah, setia menunggui rumah bergonjong. Tetapi apakah ini tidak sama dengan “domestikasi”, karena semuanya merujuk rumah sebagai tempatnya? Dengan kecurigaan yang sama, muncul pertanyaan: bukankah matrilinealisme  dalam penurunan pusaka  itu sendiri sebenarnya  fungsional untuk “memaku” perempuan di rumah dan darek (“darat”)-nya  demi  menjaga pusakanya, sementara para lelaki menikmati pergi ke rantau, menjadi kolonialis meskipun tidak imperialis? Jangan-jangan matrilinealisme itu sendiri adalah produk dominasi wacana laki-laki pula, sama sekali tidak dimaksudkan untuk memperkuat posisi perempuan –dan kenyataannya memang tidak, selama kekuasaan yang nyata tidak dimilikinya.

 

Posisi perempuan sebagai penjaga pusaka terdapat juga dalam masyarakat Belu Selatan, di Timor Barat, pada perbatasan dengan Timor Leste. Pusaka klan berupa benda bergerak (bukan tanah) bahkan dikumpulkan dalam sebuah rumah pamali yang dibedakan dari lainnya dalam hal letak dan/atau tingginya. Perempuan tertua dalam klan bertugas menjaga rumah ini beserta segenap isinya. Sedang pusaka keluarga disimpan di atas langit-langit rumah di atas beranda depan yang tak berdinding, tempat para laki-laki tidur. Namun pusaka ini hanya dapat dicapai melalui bagian dalam rumah yang tertutup dinding, tempat para perempuan. Para laki-laki, ketika berbaring di beranda, tetap mengawasi langit-langit di atasnya, tetapi tak dapat menggapainya.

 

Roehana Koeddoes sendiri, dalam memperjuangkan pendidikan perempuan, menghadapi tentangan yang besar, termasuk dari kaum perempuan sendiri. Ia pernah memutuskan pindah ke Bukittinggi, dan kemudian Medan, karena kerasnya tentangan tersebut, termasuk adanya fitnah yang tidak pantas dibicarakan. Roehana yang meninggal 17 Agustus 1972 pada usia 88 tahun dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Pada 17 Agustus 1974 ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Pada 9 Februari 1987 ia menerima gelar penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia dari Pemerintah Republik Indonesia. Beliau belum menerima penghargaan yang menunjukkan beliau sebagai perintis pendidikan atau kemajuan perempuan Indonesia.

 

Di bidang jurnalisme dia mendirikan dan memimpin Soenting Melajoe,  Koran khusus perempuan, yang diterbitkan tiga kali seminggu oleh harian umum Oetoesan Melajoe  sejak 10 Juli 1912 hingga 1921. Inilah media perempuan ketiga yang terbit di Hindia-Belanda. Menurut Pia Alisyahbana dalam tulisan berjudul Media Perempuan Indonesia, majalah perempuan pertama di Hindia Belanda adalah Tiong Hwa Wi Sien Po, yang terbit pada tahun 1906, diasuh oleh seorang wanita peranakan bernama Lien Titie Nio. Sesudah itu terdapat Poetri Hindia yang terbit 1908. Setelah Soenting Melajoe, terbit pula Poetri Mardika (1915) yang “memperhatikan keadaannya pihak perempoean boemi poetra di Insulinde” dan “Hesti Oetama” (1918), dwimingguan dalam bahasa Jawa.

 

Sulaman Terawang bukan satu-satunya kriya orang Minang. Kepandaian orang Minang dalam hal mengukir telah dicatat oleh penulis-penulis barat di abad ke-16. Manuel Ghodino e Eredia dalam Description of Malacca and Meridonial India and Cathai menulis: “rakyatnya….memanfaatkan waktu untuk keterampilan teknik yang memperoleh penghasilan. Mereka umumnya menjadi pengrajin atau pengukir ulung…” (Dikutip oleh M. Nur dalam Sastri Yunizarti Bakry dan Media Sandra kasih, eds., Menelusuri Jejak Melayu-Minangkabau, 2002). Rumah bergonjong pada dasarnya berlapis panel-panel kayu berukir berwarna di sekujur tubuhnya. Kebiasaan ini masih berlaku kadang-kadang pada rumah yang tidak bergonjong. Maka dengan sendirinya tersedia pasar untuk keterampilan ukiran hingga kini. Pandesikek, sebuah tempat hanya belasan kilometer di selatan Bukittinggi dikenal sebagai pusat kerajinan tenun. Sikek, atau sikat, adalah gerakan dalam menenun. Sebenarnya ia juga pusat kerajinan ukir yang sangat menentukan keberlanjutan arsitektur tradisional Minang.

 

 

Pasar Berhilir Kota; Kota Berhulu Pasar

 

Produk dan jasa memerlukan pasar. Bukittinggi adalah kota pasar terbesar di dataran tinggi Minang. Kota pasar terbesar di pantai adalah Padang. Dari genesisnya, kota ada dua macam saja: yang terbentuk secara egaliter dari proses perdagangan, dan yang terbentuk karena keinginan sepihak seorang penguasa. Yang pertama biasanya di pantai; yang kedua biasanya di pedalaman, terutama di Jawa. Bukittinggi adalah kota pasar di pedalaman, yang kabarnya dibentuk sebagai pasar sarikat milik bersama nagari-nagari di sekitarnya. Tradisi federalis Minang memang tercermin dari tidak adanya kota sebagai pusat imperium yang besar. Besar kecilnya kota benar-benar tergantung kepada kemampuannya sebagai pasar.

 

Enam dari tujuh pasar di Bukittinggi berada didalam dan dekat kawasan Atas. Di dalam Pasar Atas terdapat bangunan pasar tertua yang masih berdiri tegak, bertanda tahun 1917. Bentuknya monumental, terdiri dari dua blok lurus sepanjang lebih dari 60 meter, berlantai dua dengan arkade pada lantai bawah. Banyak jendela di lantai atas terbuka dan lagi-lagi berlapis tirai terawang, pertanda ada yang tinggal di dalamnya, di tengah-tengah pasar yang ramai dan rapat ini. Di kedua ujung Pasar Atas terdapat lapangan. Di selatan terhampar Lapangan Jam Gadang yang masyhur itu. Yang di utara memberikan jarak dengan Mesjid Raya, yang berbeda dengan Mesjid Agung. Mesjid Raya bersifat kosmopolitan, tidak dimiliki oleh suatu komunitas teritorial seperti mesjid jamik. Ia dikunjungi para pedagang dan pengunjung. Di depannya ada papan pengumuman menerangkan tentang siapa yang akan memberikan ceramah pada tiap hari Jumat, dan darimana ia berasal, yang bisa sejauh Jakarta atau Medan. Mesjid Agung Bukittinggi terletak di dekat Pasar Bawah. Inilah mesjid resmi untuk seluruh kota. Disinilah kedudukan Majelis Ulama Indonesia dan hadir para pejabat daerah dalam upacara-upacara resmi. Hanya ada satu Mesjid Raya dan satu Mesjid Agung, tapi Mesjid Jamik ada banyak. Mesjid Jamik ada pada pusat-pusat komunitas teritorial.

 

Lapangan di antara Mesjid Raya dan Pasar Atas dikelilingi oleh antara lain bioskop dan barbershop, yang masih menggunakan kursi besar yang dapat disetel turun-naik, dibaringkan atau ditegakkan untuk kenyamanan sang pencukur (bukan yang dicukur!) Pelapis kursi memang tak lagi kulit asli, melainkan tiruan berwarna merah maroon tua, seperti darah kerbau yang mengental. Tepi-tepinya masih berlapis stainless steel. Ada sepuluh kursi demikian berderet. Cermin berderet pula di depan setiap kursi. Selebihnya dinding berwarna coklat tua. Yang bukan laki-laki memang susah merasa nyaman disini. Tokh ada beberapa ibu yang mengantar anaknya dicukur.

 

Di lapangan ini, yang kini menjadi tempat parkir mobil dan bendi, berhulu Jenjang Empatpuluh. Jenjang ini terpenting dan terbesar di Bukittinggi. Lebarnya rata-rata 8 meter, anak jenjangnya 100. Namanya “empat puluh” karena kabarnya dibentuk oleh empat puluh nagari yang bersepakat. Seluruh lantainya berwara merah darah. Ujung hilirnya bertemu dengan Jalan Sukarno-Hatta yang berarah ke timur. Pada nomor 34 jalan ini terdapat rekonstruksi Rumah Bung Hatta yang dijadikan museum. Pasar Bento dan Pasar Bawah mengapit jalan tersebut pada hilir Jenjang Empatpuluh. Bento adalah sejenis rumput makanan kuda.

 

Di Pasar Atas juga berhulu beberapa jenjang lain. Jenjang Gudang, terdiri dari 80 anak jenjang selebar rata-rata 3 meter, menghilir ke selatan. Ke arah timur, terdapat jenjang gantung yang sebenarnya berbentuk jembatan menyeberangi jalan, menurun ke Pasar Aur Tajungkang yang berarti bambu terjungkit. Masih pada lereng timur ini terdapat Jenjang Lereng, yang disebut juga Jenjang Sek(s) dengan 43 anak jenjang selebar 3 meter. Disebut demikian karena sangat curam, sehingga sering sesuatu yang tak dikehendaki nampak dari bawah ketika ada yang mendaki. Nama itu disebut  orang dengan air muka biasa saja. 

 

Pada lereng timur ini terdapat juga sebuah lerengan yang menyusurinya dari bawah ke atas, dari utara ke selatan, hingga ke Lapangan Jam Gadang. Sepanjang lerengan inilah  Pasar Lereng mengambil tempat. Di tengah-tengahnya terdapat dataran yang ramai oleh lapau-lapau yang menjual nasi kapau. Biasanya ditunggui oleh seorang perempuan yang duduk di ketinggian, dengan berbagai macam makanan berjejer di depannnya berjenjang-jenjang menurun ke arah meja makan para tamu. Dia memegang sendok besar yang tungkainya panjang sekali, sehingga bisa menjangkau semua wadah lauk yang mengelilinginya.

 

Di atas lereng berderet rumah-rumah tua dari awal abad ke-20, yang merupakan vila merangkap kantor dagang tempat tinggal para penghulu dari nagari sekitar bila datang membawa urusan ke Bukittinggi. Pada dinding di bawah atap dari salah satu rumah tertera huruf timbul “Villa Sianok” dalam gaya art-deco. Empat abad sebelumnya, pada tahun 1518, Duarte Barbossa, sebagaimana dikutip oleh M. Nur (2002), menulis “Orang Melayu… menjalankan kehidupan yang menyenangkan, tinggal di dalam rumah yang besar di luar kota dengan pekarangan yang luas, mempunyai kebun buah-buahan, taman dan tangki air, memiliki kantor dagang di kota…”

 

Ke arah barat terdapat dua jenjang. Jenjang Minang menghubungkan Pasar Atas dengan Kampung Cina , ialah Jalan A. Yani sekarang.  Lebarnya enam meter. Anak jenjangnya berjumlah 21. Jenjang Pesanggerahan yang beranak jenjang 72 dan lebar tiga meter, menghubungkan Kampung Cina pada ujung utara dengan Bukit Sarang Gagak, tempat museum dan kebun binatang berada. Dari jumlah anak jenjangnya, jenjang-jenjang ini nampak seolah melelahkan. Tetapi ia justru telah menjadi suatu sistem dan institusi yang merupakan surga bagi para pejalan kaki. Sebab ia memberikan jalan pintas terpendek yang strategis, dari satu pusat ke pusat kegiatan lain yang sangat beragam satu sama lainnya. Paling penting: tidak ada kendaraan bermotor yang mengganggu. Pemisahan antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor, yang kini cita-cita semua perancang kota yang progresif, terjadi alamiah.

 

Dengan sendirinya seluruh tempat di Atas terjangkau dengan mudah, melalui perspektif yang sangat berbeda dengan yang diberikan oleh jalan-jalan biasa. Jalan biasa senantiasa menyusur, sementara jenjang memintas. Maka ruang kota dialami secara lebih penuh,  melalui keragaman perspektif yang dramatis. Ada perbedaan kecepatan dan momen-momen perhentian. Menyusur berarti melihat kiri-kanan. Memintas berarti melihat juga atas-bawah. Bangunan-bangunan kelihatan bukan hanya dari depan, tetapi juga dari samping, bawah dan atas. Demikianlah atap bergonjong dan kubah mesjid menjadi lebih bermakna. Pohon-pohon terlihat bukan hanya dari bawah dengan mendongak, tetapi juga dari atas dengan menunduk. Demikianlah struktur batang, dahan dan daun menjadi komposisi.  Kota menjadi obyek tiga dimensi bukan hanya karena dipandang dari luar, melainkan karena dimasuki dan dialami demikian dari dalam dan dari luar berganti-ganti. Teristimewa karena jenjang-jenjang bukan hanya terdapat sebagai ruang ruang khalayak yang ramai, tetapi juga di dalam lingkungan-lingkungan perumahan yang tersebar. Topografi ditegaskan. Ruang hadir terus menerus, karena kesadaran akannya tak terelakkan ketika orang terus menerus merasakan sensasi ketinggian dan perspektif yang berbeda.

 

Jembatan Limpapeh adalah suatu tanda bahwa hal-hal baru dapat dibuat dengan benar, sejati menambah kepada genius loci yang ada. Sebab ia menambah lagi satu perspektif dalam mengalami ruang kota, dari atas jalan utama kota yang sibuk yang dilintasinya. Ia juga makin melengkapi jaringan jalan khusus pejalan kaki yang bebas gangguan kendaraan bermotor, dengan menghubungkan kedua belahan utama kota di bagian utara, yaitu Bukit Jirek dan Bukit Sarang Gagak. Di bawah jembatan ini, pada Jalan A. Yani terdapat sebuah toko buku bekas Tilas,dengan koleksi dalam bahasa Jepang, Inggeris, Belanda, Perancis, Jerman, Swedia, dan lain-lain. Boleh tukar tambah buku bekas di sini. Cabangnya ada satu, di Jalan Teuku Umar, 150 meter saja darinya.

 

Di Bukit Cangang, salah satu permukiman tertua, jenjang dan lerengan bekerjasama membentuk pengalaman tersebut pada skala yang lebih kecil. Pada salah satu titik tertinggi, sebuah rumah putih menghadap ke selatan, menyapa Gunung Marapi dan Gunung Singgalang tanpa terhalang. Di sekitarnya lerengan-lerengan melewati halaman-halaman rumah penuh warna-warni bunga. Di sana sini ruang terbuka dikelilingi beberapa rumah. Masing-masing pada ketinggian berbeda, dan dapat dilihat dari ketinggian berbeda. Ada juga kuburan keluarga yang terawat rapih. Gunung dan ngarai mengintip pada ujung-ujung aneka ragam perspektif. Sebagian rumah kosong, sebagian lagi disewa dari pemilik yang pergi merantau:

 

Ke rantau madang ke hulu

Berbunga berbuah belum

Merantau bujang dahulu

Di kampung berguna belum.

 

(Dari Norhalim Ibrahim, Negeri yang Sembilan, 1995).

 

Meski merantau, orang Minang tak menjadi kolonial yang imperialis, sebab dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Perantau menyesuaikan diri dengan rantaunya, bukan memaksakan kehendaknya.

 

Hari pasar di Bukittinggi adalah Rabu dan Sabtu. Pada hari-hari itu, para petani langsung membawa hasilnya ke pasar-pasar, sehingga keramaian berlipat ganda, dan meluap ke jalan-jalan yang kalau hari biasa bukan pasar. Terjadi transaksi langsung antara para pengumpul dan  petani. Hari-hari lain, bukan berarti pasar tutup, melainkan lebih banyak dihidupi oleh pedagang-pedagang tetap. Pada hari pasar, jenjang-jenjang penting seperti Janjang Empatpuluh menjadi hidup sebagai pasar sementara. Janjang Empatpuluh berlebar delapan meter atau lebih pada tempat-tempat tertentu. Hanya empat puluh anak jenjang pertama dari atas yang berlebar biasa (25-30 cm), sedang lainnya cukup lebar untuk digelari lapak pedagang. Dan demikianlah keramaian kita saksikan, dengan lapak-lapak yang menjual berbagai barang yang tak ditemukan di hari biasa. Cobalah VCD “celoteh lapau”, ialah obrolan humoris dari kelompok-kelompok humoris setempat, misalnya Andre Ajo (HP. 08126701716 dan 08158039400), yang juga bermain sinetron “Cintaku di Rumah Susun (Indosiar) dan Tuyul Milenium (SCTV), One Ida (HP 08153516242 atau 0751-55393) dan Mak Uniang Yuharmi (Hp. 0811668429).

 

Seperti pada umumnya jalan, di sepanjang janjang-jenjang besar berderet juga bangunan-bangunan yang membuka ke arahnya, baik rumah biasa maupun berbagai toko, penjahit dan salon kecantikan, di samping mesjid dan mushola. Pada Jenjang Minang no. 4-6 terdapat pandai sepatu Yap Yek, yang telah menghasilkan sepatu buatan tangan dengan merk Yap Yek sejak tahun 1928, tiga perempat abad lampau.  Sepatu produksi Yap Yek ini solnya tebal, baik yang dari kulit maupun dari karet, jahitannya kuat dan rapi, lemnya dijamin seumur-pakai. Rancangannya mengikuti jaman. Ada yang minimalis dengan garis kuat dan warna tegas. Tapi toko dan bengkel kerja yang sekarang diurus generasi ketiga in juga penunjang amat penting bagi berlanjutnya adat-istiadat Minang, sebab ia juga membuat terompah tradisional Minang. Katanya ia termasuk salah satu produsen terbaik di Sumatera barat. Semua nomor ada. Kalau kebetulan tak tersedia nomor yang dikehendaki, kaki akan diukur saja, lalu dibuatkan mengikuti contoh rancangan yang disetujui, lalu dikirim sampai ketempat, maksimal dalam tiga minggu. Tak dibungkus kotak yang mewah, sepatu hanya dibungkus kertas koran saja. Tapi dipastikan ada merk Yap Yek yang tegas terbenam di alas sebelah atas dan bawah. Telponnya: 0752-31834, hubungi Arief Samalo (A Yauw) atau isterinya.

 

Menuruni Jenjang Minang, lalu menyusuri Jalan A Yani beberapa langkah ke bawah, akan ditemui rumah makan Monalisa. Dalam musim buah yang baik, April hinga September, ia terkenal dengan sajian buah-buahan  yang terdiri dari dua puluh jenis atau lebih. Beberapa darinya dicari di hutan. Sirup kental buah markisa disiramkan di atasnya. Ketika dimulai pada tahun 1966 namanya “Mailing”.  Tahun 1967/1968 harus ganti nama karena nama Cina dilarang Orde Baru.

 

Di pasar, carilah juga Galamai, ialah semacam dodol yang dibungkus daun pisang kering. Kata orang Payakumbuh, ini berasal dari Payakumbuh. Kue ini mungkin punya sejarah yang menarik, sebab kue yang sama dengan nama yang sama juga populer di Thailand. Di sana dikatakan berasal dari Koh Samui, tetapi lazim di seluruh negeri. Teori tentang asal-usul orang Minang memang tak selesai. Pada pokoknya ada dua penjelasan. Yang pertama mengatakan orang Minang berasal dari Melayu Tua yang turun dari Semenanjung Malaka ke Riau, lalu menyusuri sungai-sungai ke tanah Minang. Penjelasan lain mengatakan justru sebaliknya: orang Minang berasal dari India Selatan yang mendarat di pantai barat, lalu naik ke dataran tinggi, dan kemudian turun ke pantai timur, Riau, terus menyeberang ke Semenanjung Malaka. Orang Minang sendiri punya tambo yang mengatakan lain: nenek moyangnya turun di Gunung Merapi, lalu bermukim pertama kali di Pariangan, sebuah nagari tertua dalam sejarah Minang. Seorang antropolog dari Madras University, Hussain Nainar, mengatakan bahwa Melayu bisa jadi berasal dari kata “malai”, dari Bahasa Tamil yang artinya “gunung”.

 

Kota memang berhulu pasar. Dan pasar berhilir kota. Demikianlah secara fisik dan institusional asal-usul Bukittinggi. Kota pasar lah yang merupakan kota masyarakat praja/sipil. Ada masanya kota-kota ini, seperti gambaran Anthony Reid, dominan sebagai pusat perkembangan peradaban di Nusantara, ialah dalam abad-abad niaga, abad ke-15 sampai ke-17. Kalaupun beberapa kota akhirnya menjadi pusat-pusat monopolistis dan imperium baru, itu merupakan perkembangan lebih lanjut, yang merupakan akibat dari globalisasi di bawah todongan meriam, yaitu kolonialisme. Sebelum itu terjadi, kota-kota pantai di Nusantara sangat egaliter dan merupakan pusat-pusat pertukaran yang bebas dan pragmatis. Yang sangat berlainan adalah kota-kota pedalaman seperti ibukota Mataram dan Majapahit, yang dibangun karena penguasa menghendakinya di situ. Sultan Agung malah sengaja menutup diri terhadap perdagangan dengan dunia luar, sehingga memperkukuh feodalisme introvert. Bukittinggi memang kota pedalaman pada dataran tinggi, dalam wilayah pusat kebudayaan Minangkabau, tetapi genesisnya jelas karena pasar.

 

Nagari juga tidak memandang wilayah dalam dikotomi desa dan kota. Sebuah nagari adalah kesatuan teritorial sekaligus ekologis, terdiri dari kawasan permukiman yang padat dan pertanian di sekelilingnya. Menurut Rudi Irawan dari Forum Warga Agam Bukittinggi, Pasar Atas dulu bernama Pasar Sarikat, karena dibentuk sebagai milik bersama oleh 40 nagari di Luhak Agam. Konsepsi “kota” sebagai pasar milik bersama sejumlah nagari tidak sepenuhnya sejalan dengan konsepsi “kota otonom”. Permintaan pelebaran batas administrasi Kota Bukittinggi karena itu mendapat tentangan dari warga Agam, karena dapat mengacaukan integritas sistem nagari. “Kota” dan Luhaknya (yang menjadi kabupaten) berhubungan seperti anak dan induknya, bukan “otonom” satu terhadap lainnya.

 

Dualisme “kota” dan “kabupaten” di dalam sistem administrasi negara Indonesia masih akan terus berlanjut dengan semua keganjilannya. Kabupaten merasa harus punya “pusat pemerintahan” sendiri di luar kota otonom yang biasanya berada di tengah-tengahnya. Kota-kota merasa tidak punya ruang gerak untuk tumbuh. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak mengenal konsep land-management yang terpadu dengan tata-ruang secara efektif. Kabupaten Agam mengambil kesempatan memberi ijin pembangunan deretan rumah-toko (ruko) di perbatasan dengan kota Bukittinggi, sambil memboikot perluasan kota itu sendiri. Kota besar Jakarta malah merasa harus memperluas diri ke laut, untuk menciptakan daratan sendiri, karena tak mampu melihat dan merencana bersama seluruh JABODETABEK sebagai satu kesatuan ekonomi, kependudukan dan ekologis. Seluruh Kabupaten Tangerang sudah merupakan kawasan urban yang sangat besar, sebuah kota horisontal yang sangat tidak efisien.

 

Kota mengembangkan suburbanisasi di wilayah pinggirannya –dengan kantor walikota baru, terminal bus yang terus menerus dijauhkan dari pusat kota, dan lain-lain– karena tidak mampu meningkatkan kapasitas kawasan perkotaan yang sudah ada, yang sebenarnya masih sangat kosong. Sedangkan kabupaten ingin menciptakan pusat kota baru, di luar kota yang dianggap saingannya. Alhasil terjadi suburbanisasi yang tak terpecah belah, kacau dari segi transportasi, rusak dari segi lingkungan, tercerai berai secara sosial. Entah kapan dualisme ini akan dihentikan, demi pembentukan kota yang ramah lingkungan, memudahkan penduduk dan mendukung pembentukan masyarakt yang cukup kohesif. Mungkinkah konsep nagari akan menyumbangkan sesuatu  dalam hal pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan yang berarti di masa depan?

 

Jam

 

Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang.

 

Ada dua tafsir untuk pepatah di atas. Pertama memetuahkan toleransi. Kedua mengingatkan bahayanya orang yang penyendiri, nanti berpandangan sempit; dan menganjurkan pergaulan, berada bersama dan berinteraksi dengan banyak orang, supaya berpandangan luas dan lapang. Dua-duanya memberi inspirasi kalau direnungkan sambil duduk di Lapangan Jam Gadang. Lapangan ini memiliki ukuran yang mungil, seperti sebuah kebun di halaman rumah orang yang sangat kaya. Hanya 40 x 60 m2. Ukuran ini menyebabkan semua orang bisa melihat yang lain, dari sudut manapun, kecuali kalau sengaja bersembunyi di balik pohon atau di bawah tangga alas Jam Gadang. Jadi justru ada kebebasan yang rileks, santun, tak khawatir bakalan salah memandang ke yang tak dikehendaki, sambil juga tak akan terdorong untuk berbuat sesuatu yang tak pantas. Harap jangan salah duga. Justru di sini banyak pasangan muda duduk berduaan, tetapi juga anak-anak bermain dan orang tua menjaganya. Yang pacaran tidak malu-malu, yang lainnya tidak curiga, sebab semuanya dalam kewajaran. Karena ukuran.

 

Sisi tenggara lapangan ini membuka ke dataran rendah, ke arah Gunung Marapi. Atap-atap rumah, sebagian bergonjong, mengisi dataran ini, makin jauh makin renggang hingga bertemu sawah ladang yang terhampar hingga kaki Gunung Merapi. Dalam masa bulan Oktober hingga April, matahari terbit mengintip dari sisi kiri gunung ini, sebab Bukittinggi hanya kurang dari setengah derajat di selatan khatulistiwa. Jam Gadang ada pada 00°18’18.4” Lintang Selatan. Jadi matahari pagi dibulan-bulan itu nampak agak di tenggara.

 

Lapangan ini membuka hubungan dengan alam untuk warga Bukitinggi, serta membentangkannya seluas-luasnya. Bukan saja karena dirinya sendiri adalah alam, tetapi ia merujuk ke alam yang terkembang lebih lapang, sampai ke Gunung Merapi, matahari terbit dan langit biru. Hubungan ini tanpa terasa makin menghilang dari keangkuhan kota-kota besar. Ketika terasa, seringkali hanya pada saat hubungan itu bersifat negatif, ialah misalnya ketika banjir dan tanah longsor. Di Jakarta, yang sebenarnya ada 30 kilometer garis pantai, orang hampir tak pernah lagi melihat laut tanpa upaya yang besar. Laut juga berarti horison dan kosmos, yang penting untuk mengingatkan asal muasalnya dari perdagangan dan sekaligus sifat kosmopolitannya. Ada tiga belas aliran sungai, tetapi bahkan orang tak sadar ketika menyeberanginya. Ciliwung hanya disadari kehadirannya ketika meluap. Sedangkan ketergantungan manusia kepada alam sebenarnya tidak pernah berkurang, di manapun dia berada, dalam lingkungan teknologi semaju apapun. Hanya jaraknya yang menjadi makin jauh. Maka alangkah puitisnya ketika hubungan itu diingatkan kembali dalam suatu ruang dimana terjadi pula hubungan dengan sesama warga sebagai homo homini socius. Seorang kenalan, Maarten Hajer menulis sebuah buku, In Search of Public Realm. Katanya, intisari dari ruang khalayak yang berhasil adalah ketika ia menjadi public domain, ialah ketika ia bukan saja bebas di masuki, tetapi juga sungguh-sungguh memungkinkan terjadinya pertukaran –bukan hanya pertemuan—antara berbagai kelompok sosial. Ruang khalayak yang demikian dinikmati sekaligus sebagai tempat yang akrab dan asing. Akrab karena batas-batas yang jelas sudah diketahui. Asing karena senantiasa menemukan pertukaran baru. Nilai strategis ruang demikian, seperti dicontohkan oleh Lapangan Jam Gadang, bukan karena sentralitasnya, melainkan karena aksesibilitasnya. Jam Gadang dikelilingi oleh penduduk yang berjarak dekat serta mudah mencapainya cukup dengan berjalan kaki. Tanpa ruang seperti ini, dapat dikatakan tidak ada “masyarakat”.

 

Sebenarnya jam dan menara adalah sesuatu yang cukup ganjil bagi sebuah kota di Indonesia, meskipun di dalam Bukittinggi ia sangat “pada tempatnya” untuk mendapatkan pandangan menyeluruh kota ini. Menara jam tentu saja adalah seratus persen aikon kota Eropah. Ketika jam itu dihadiahkan oleh Ratu Belanda pada tahun 1926, memang ada suatu perubahan sangat besar sedang terjadi: kesadaran baru tentang waktu dan takdir yang menghancurkan kolonialisme. Pada Januari tahun itu Hatta mulai memimpin Perhimpoenan Indonesia (PI), dan makin menegaskannya sebagai partai politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jam Gadang memang tidak berlonceng untuk dengan nyaring menandai jaman baru. Tetapi mesjid di Bukitinggi pun tak mengeluarkan azan yang nyaring. Jam itu sendiri, waktu, adalah simbol kesadaran jaman yang tegas. Setelah pemberontakan PKI yang gagal pada bulan November 1926, konvensi Hatta-Semaoen di awal Desember 1926 mendorong gagasan untuk mendirikan partai baru yang bersifat nasional. Pada tahun 1927 Sukarno muncul sebagai pemimpin melalui PNI dan kemudian PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia). Pendek kata, sejak 1926 perjuangan kemerdekaan menjadi pergerakan politik nasional yang makin terorganisasi dan bersatu, dengan rasa kebangsaan yang makin kuat dan menyebar di kalangan rakyat.

 

Sebagai simbol, Jam Gadang tak henti-henti dijadikan alat propaganda rejim. Atapnya dua kali berubah bentuk. Aslinya, sebagaimana dirancang oleh arsitek Yazid and Sutan Gigi Ameh, ia berupa kubah yang lancip. Tentara pendudukan Jepang menggantinya dengan atap lengkung Jepang. Sekarang, tentu saja ia beratap gonjong. Entah mengapa batang menara itu sendiri tak mengalami perubahan berarti. Mungkin karena dirasakan netral, tak menyampaikan pesan apa-apa, seolah-olah hanya cara untuk mencapai puncaknya, yang khusus menyampaikan pesan.

 

Ukuran Menara Jam Gadang sebenarnya kecil saja, sesuai dengan lapangannya. Tetapi pada masa itu tingginya yang 26 meter telah menguasai seluruh kawasan, paling tinggi di antara semua, termasuk pohon-pohon yang ada. Apalagi letaknya di atas sebuah bukit.

 

Lima Pohon Bung Hatta

 

Pohon-pohon tertinggi di Bukittinggi adalah enam pohon pinus yang berjejer di median tengah jalan yang menghubungkan Atas dan Bawah. Bawah ini adalah bagian kota yang dikembangkan di selatan sebagai perluasan kota kolonial. Karena datar, jalannya lurus-lurus, membentuk blok-blok persegi.

 

Di antara pohon-pohon pinus tersebut dan Lapangan Jam Gadang berdiri Istana Bung Hatta. Di sudutnya, menghadap ke jalan, sebuah patung Bung Hatta baru saja diresmikan pada tanggal 21 Desember 2003 oleh Presiden Megawati. Tingginya lima meter di atas pedestal tiga meter. Di sekilingnya terdapat janjang-janjang dan pelataran untuk duduk-duduk. Semua dinding berlapis keramik hitam. Sama dengan wibawa Bung, tetapi tak sekokoh watak Bung, yang lebih tepat dilambangkan dengan batu, misalnya granit hitam atau abu-abu. Patung ini sungguh besar dan tinggi bagi Bung yang suka merendah dan sederhana. Lalu bagaimana dengan patung dada Bung yang menghadap ke Jam Gadang, yang dimewahkan dengan warna emas itu?

 

Tiga pokok mahoni besar ditebang pada sudut jalan untuk lebih menampakkan Bung tegak berdiri di atas lereng. Satu lagi pokok ditebang di tepi, untuk memberi ruang bagi jenjang menuju ke kaki Bung. Padahal pokok-pokok itu berjarak 6 meter satu dari lainnya, yang sebenarnya cukuplah untuk tempat jenjang tanpa harus menyingkirkan satu pokok pun.

 

Mudah-mudahan, yang menebang itu tak lupa petuah Bung, “Tanamlah sedikitnya lima pohon untuk setiap pohon yang ditebang”. Tentu saja ketika Bung mengujarkan itu, tak ada soal besar dengan lingkungan. Belum ada industri kayu lapis. Banjir tak sehebat dan sekerap sekarang. Maka Bung tak langsung bicara tentang lingkungan, melainkan lebih tentang soal kearifan dan kehematan, tentang investasi setelah konsumsi, tentang “ekonomi yang berkelanjutan”, kata putri bungsu Bung, Halida Nuria, pada tanggal 28 desember 2003 di hadapan anak-anak yang mengunjungi rumah Bung di Jalan Diponegoro 54, dalam rangka menyusuri Peta Hijau Menteng. Biarlah kami meminjam petuah Bung untuk kepedulian kami sekarang: pohon-pohon di kota-kota. Masalahnya bukan saja apatah pokok boleh ditebang, tetapi juga apatah perlu ditebang, mengingat selalu ada solusi tanpa menebang.

 

Pohon berbiomassa besar penting untuk menyerap CO2, merindangi, menunda jatuhnya air hujan ke tanah, dan akarnya menahan air di tanah. Pohon adalah bagian dari watak kota yang dijalani dengan kaki, yang mengandaikan transportasi umum yang baik serta tata kota yang memberikan banyak kemungkinan dalam jarak yang terjangkau kaki. Maka pohon bukan saja berarti sayang alam, tetapi kehadirannya di dalam kota akan dengan sendirinya menandai apatah kota itu layak dihuni secara sehat. Belanda-lah yang pandai menanam pohon. Setiap kali membangun jalan, maka pohon merupakan bagian tak terpisahkan, otomatis menjadi bagian dari “proyek” jalan.  Sekarang pohonlah yang selalu ditebang bila ada pembangunan apa saja, termasuk jalan.

 

Air yang jernih

Tempurung yang ceper

Seperti pohon di tengah padang

Uratnya tempat bersila

Batangnya tempat bersandar

Dahannya tempat bergantung

Buahnya untuk dimakan

Daunnya untuk berlindung

 

 (Mohd. Yusof Md. Nor, 1994).

 

Dalam perjalanan ke Museum Bung Hatta, seorang sahabat menampak buku Anne and John Summerfield, eds. Walk in Splendor, Ceremonial Dress and and the Minangkabau, UCLA Fowler Museum of Cultural History, Los Angeles, Textiles Series No. 4, di pangkuan seorang pedagang kaki lima di Jalan Sukarno-Hatta. Kontan sahabat saya membujuknya untuk menjual buku tersebut.  Pedagang itu menjawab bahwa ia baru bisa mempertimbangkan tawaran itu kalau anaknya sudah tamat dari Universitas Gajah Mada, Jogja. Ia menjual buku-buku kecil dalam bahasa Minang tentang adat-istiadat berpakaian dengan bersumber pada buku itu, untuk hidup dan membiayai sekolah anaknya. Ia adalah salah satu nara sumber utama untuk buku tersebut.

 

Rumah abu-abu  di Jalan Sukarno-Hatta No. 34 itu hasil rekonstruksi pada tahun 1994-1995. Inilah tempat lahir dan kediaman Bung Hatta hingga remaja. Susunan ruangnya, serta tampak mukanya persis simetris, seperti kepribadian Bung Hatta yang selalu seimbang. Di rumah ini ada istal kuda, sebab paman Bung Hatta mempunyai usaha jasa kurir dan dipercayai oleh pemerintah kolonial untuk mengelola jasa pos.

 

Mengapatah kita berdebat begitu rumit, sementara Bung Hatta merupakan contoh yang begitu terang, dari kebenaran yang begitu sederhana, bahwa negeri baik karena pemimpinnya:

 

Elok nagari dek penghulu

Elok Musajiek dek tuangku

Elok tapian dek nan mudo

Elok kampuang dek nan tuo

(dari H. Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu, 1984).

 

Ketika berlangsung Kongres Kebudayaan di bulan Oktober yang lalu, orang menggelar beberapa spanduk yang bertuliskan ucapan Bung Hatta “Berikanlah bola kepada yang berpeluang mencetak gol”. Alangkah tepatnya ucapan itu untuk suatu bangsa yang kini banyak pemimpinnya selalu merasa lebih pemimpin daripada yang lain.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Bukittinggi, Desember 2003

  1. mul says:

    keren tulisannya bang marco, saya ini punya darah minang, tp ga punya pengetahuan banyak soal minang. tulisan bang marco bagus sekali u saya. anne tertarik sekali dgn minangkabau, dah sering ngajakin liburan kesana, tp belom kesampaian. mudah2an bisa secepatnya. tulisan bang marco bs jd panduan kami nanti.
    salam, mul.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s