Mall

Mall adalah tempat barang-barang bertumpuk menyesakkan. AC tak mampu bersaing dengan hawa panas dari tubuh-tubuh yang kesana-kemari mencari penutup syahwat yang sekaligus dapat memancing syahwat. Benda-benda sehari-hari, sebagian dengan lembut, sebagian dengan keras, tetapi semuanya dengan sangat teguh, menarik kita untuk membelainya dan memasukkannya ke dalam hati kita, menjadi bagian dari kita yang dibawa-bawa terus tak lepas dan tak tertukarkan, tak mau hanya menjadi pembungkus yang netral. Tiap-tiap orang akan disamakan kepribadiannya dengan barang yang dikenakannya.

Benda-benda pun membinarkan kehangatan.

Mall adalah penemuan manusia yang sejujur-jujurnya untuk melampiaskan nafsu bersama-sama dalam keterang-benderangan, setelah memuncakkan kemampuannya dalam produksi.

Di mall lah puncaknya produksi dan konsumsi menjadi budaya, karena ekspresi bertemu dengan keperluan sehari-hari yang banal, tempat kekinian bertemu prediksi tanpa janji akherat.

Di mall aura hewani manusia paling menonjol, sekaligus paling berusaha dikemas secanggih mungkin – dan nafsu mengemas ini sendiri sekaligus sangat manusiawi pada kemampuannya, dan sangat hewani pada motivasinya, ialah menikmati dunia –mengapa tidak!–sambil membangkitkan iri, cemburu dan syahwat dari yang lain.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s