May 17, 2011
The Jakarta Post, 20 February 2003.
There are many ways to experience Borobudur and paths to enlightenment, as there are many ways to destroy this experience, if current course of events are not mindfully considering the wholesome value of the temple.
For scholars of many fields Borobudur is a depository of knowledge about Javanese men and women and their life in the 8th and 9th centuries, of which a lot of patterns are traceable to Javanese culture of today. Scholars said that there are more that Borobudur’s bas-relief panels can tell us about the Javanese than what the Javanese can tell us about it. Claire Holt, for example, in her classic Art in Indonesia: Continuities and Change (1967) traced evolution of Javanese dance movement and other artistic expressions in relief panels of Borobudur (and other temples).
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »
May 17, 2011
Majalah Tempo, 2 Mei 2005
Pada 13 Maret 2005 koran terkemuka Jogjakarta Bernas dan Kedaulatan Rakyat memasang gambar utama dengan isi yang sama pada halaman muka: para miss Asean di puncak Borobudur. Beberapa darinya jelas sekali mendaki dan duduk pada stupa, melanggar aturan yang jelas tertera pada beberapa pengumuman di sekitarnya. Beberapa dari mereka samar-samar nampak bersepatu hak tinggi dengan ujung runcing, yang jelas tidak bersahabat dengan sejuta batu Borobudur. Skandal! Keterangan gambar dan berita pada dua harian tersebut sama sekali tidak menyebut kelakuan yang sangat tercela dan memalukan ini.
Barangkali yang biadab bukan terutama para miss itu, melainkan panitianya, yang telah tidak “mendidik” para miss itu dengan benar, dan tidak punya rasa malu memperagakan kelakuan buruk ini pada simbol kecantikan Asean –yang tentu saja tidak memerlukan persetujuan semua orang. Mereka seharusnya dituntut meminta maaf kepada umat Buddha dan segenap pecinta Borobudur di seluruh dunia.
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »
May 17, 2011
Koran Tempo, Februari 2003
Inilah yang saya telah dengar. Pada suatu waktu ketika Yang Agung arsitek Gunadharma mencipta di benaknya, dan untuk selamanya, Bhumisambharabudhara atau “Gunung dari Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkatan” akan senantiasa hidup sebagai arsitektur analogis, sebab kami dapat mengalami Buddhisme pada dan di dalamnya, sekalipun tak mengerti yang tersuratnya. Hanya jiwa yang mati yang menyebutnya monumen mati. Suatu sistem simbolik boleh mati ketika tanda-tandanya tak lagi dikenali atau digunakan, tetapi suatu sistem analogis tak memerlukan pemahaman akan tanda, melainkan dirasakan melalui peristiwa mengalaminya. Ruang, sari pati dan bahan cipta arsitektur, memang tak dapat diajarkan kecuali dengan mengalaminya. Di Borobudur, pengalaman itu sangat murni dan mendasarnya, sehingga merupakan pusaka didaktik yang wajib bagi calon arsitek.
***
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »
May 17, 2011
Kompas 19 Januari 2002
Bagi John Miksic (Borobudur: Golden Tales of the Budhas, 1990) Borobudur bukan monumen, melainkan alat peraga visual bagi sebuah filsafat hidup yang kompleks. Monumen biasanya terbatas pada fungsi simbolik dan menyampaikan pesan tunggal kepada massa, dengan penampilan bentuk silhuet vertikal yang sederhana sehingga dapat dilihat dari jarak jauh dan seketika membangkitkan emosi. Sedangkan para pembangun Borobudur bermaksud melibatkan akal. Pesan yang ingin disampaikannya terlalu kompleks untuk dinyatakan hanya dengan bentuk luar yang mencengangkan saja. Borobudur tidak menyanjungkan dirinya dengan bentuk vertikal yang nyaring, ia berbaring dengan diam, menelingkupi bumi (seperti telapak tangan kanan Budha pada posisi bhumisaparsa mudra), mengisyaratkan ada sesuatu yang jauh lebih penting di dalamnya, ketimbang bentuk luarnya.
Besarnya sumber daya yang dikerahkan untuk membangun Borobudur bukan hanya untuk tujuan monumental, melainkan terutama untuk mengajarkan suatu falsafah hidup yang luhur, menunjukkan bahwa orang Jawa di abad ke-8 adalah salah satu bangsa yang paling humanis dalam sejarah.
Bagi Claire Holt, penari yang menulis sejarah seni Indonesia, Borobudur adalah artifak penting
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »