Cakra Kalender Musim Buah Indonesia

Saya mendapatkan cakra kalender musim buah Indonesia ini dari Savira Viana Ronn.

Betapa menyenangkan mengetahui bahwa negeri ini selalu memberikan buah-buahan sepanjang tahun. Dan hal ini tidak terpengaruh oleh siapa pun yang menjadi (calon) presiden.

Image

Posted in Nature and Environment | 2 Comments

Azab Sengsara Asap

medium_17Kabut-Asap-Bisa-bikin-IQ-anak-riau-jongkok

(Foto dari http://fokusriau.com/berita-kabut-asap-bisa-buat-iq-anak-di-riau-jongkok-.html)

Dari sahabat Dedi Ariandi saya dapat kabar dari Pekanbaru, yang memberikan sedikit jendela untuk merasakan bagaimana keluarga-keluarga menghadapi asap di sana. Ternyata anak-anak akan ujian hari senin besok lusa. Mereka harus konsentrasi belajar sekarang, sementara asap masuk ke rumah-rumah, dan masker makin sulit menyaring kepekatan asap. Saya tidak tahu pasti, tapi saya duga mata pun sedikit perih.

Kita berharap pada hujan, satu-satunya pertolongan yang efektif secara massif, dari alam. Semoga ketergantungan pada alam ini membuat juga kita bisa merasakan apa yang dikehendaki alam, bukan hanya apa yang dikehendaki oleh diri kita sendiri untuk makan lebih banyak minyak goreng.
Kita juga berharap supaya Presiden SBY, yang siang ini akan bertolak ke Sumatera Barat, dan dari sana melalui jalan darat menuju Pekanbaru menempuh 6 jam, akan memimpin rapat dengan efektif untuk ‪#‎MelawanAsap‬ malam nanti.
Namun, kita tahu bahwa segala azab sengsara ini harusnya dicegah, bukan dilawan sesudah terjadi. Sebab, kita tahu betapa terbatas kita ketika bencana ulah manusia ini sudah terjadi.
Kejadian berulang-ulang hampir tiap tahun ini membuat kita sungguh risau: apa yang benar di negeri ini? Atau di dunia ini?
Semoga semua yang mengabdikan hidupnya untuk mencegah bencana-bencana ulah manusia ini mendapatkan kemudahan dan perlindungan.

Posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life | Tagged , , | Leave a comment

Kampung Deret di Timur Jakarta

by Dian Tri Irawaty, 10.03.2014 (http://rujak.org/2014/03/kampung-deret-di-timur-jakarta/)

2014-03-09 17.34.41

Tampilan rumah deret tampak depan

 

Akhir pekan lalu penulis berkunjung ke salah satu lokasi pelaksanaan Program Kampung Deret oleh Pemerintahan Jokowi di wilayah  Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.

Program Kampung Deret di wilayah ini mencakup perbaikan 100 rumah di RT 09, 10, dan 11 yang masuk dalam wilayah RW 02. Proyek ini dikoordinir oleh Konsultan yang ditunjuk Pemprov DKI Jakarta. Namun, pada pelaksanaan nya, masing-masing pemilik rumah mengerjakan perbaikan rumah nya secara sendiri.

Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Kota dan Hutan

Di kota tiada musim tanam, hanya musim banjir.
Di kota tiada musim panen, hanya paceklik air minum.

Di hutan tiada musim tanam, hanya musim tumbuh.
Di hutan tiada musim panen, hanya musim asap.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Di Hadapan Srikaya

 

Di hadapan sepucuk Srikaya bersiram hujan

terdampar risalah tentang waktu

 

Ia diam bukan tanpa terima kasih

Ia tenang  bukan menolak.

 

Di antara kami mesin pengelana dan pembagi hari.

 

ringkih detik menyusur hari.

rinci hari sepanjang tahun

perca tahun dirangkum abad

sabar abad di ruang milenia.

 

Tak kuhitung nenek-moyang yang tidak mencatat.

Kurasakan mereka

sesama saja

yang hidup dari tanah dan air sama

serta kembali pula

berganti rupa

Image

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Dasar-dasar Bagi RUU Kebudayaan

Ringkasan:

  1. Suatu RUU Kebudayaan RI adalah suatu strategi dan wahana untuk mengembangkan kebudayaan-kebudayan dan tiap-tiap anggotanya di dalam wilayah Republik Indonesia, untuk mampu terus menerus menyikapi dan mengolah kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul di masa masa depan sebagai kesempatan yang bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia secara lestari.
  2. Kebudayaan nasional Indonesia terdiri dari semua dan setiap kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam wilayah RI, dan apa saja yang muncul dan terbentuk  dari pergaulan di antara kesemuanya tersebut dan antara sebagian atau seluruh dari kesemuanya itu dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di atau datang dari luar RI.
  3. Seni adalah dimensi ekspresif dan komunikatif kebudayaan yang menjembatani relung privat dan ruang khalayak.  Ia mengolah dan menawarkan nilai-nilai baru dan lama yang diperbaharui secara kritis.  Dalam keadaan dunia yang berubah cepat dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang makin cepat dan banyak bermunculan, seni perlu didukung untuk makin kerap bereksperimen pula. Untuk berfungsi maksimal, ia harus bekerja di dalam ruang kebebasan maksimal. Kebebasan dalam kesenian bukan sekedar kebebasan untuk mengemukakan pendapat, tetapi kebebasan untuk mencipta, yang memerlukan berbagai kondisi dan sarana-prasana pendukung.
  4. Kota akan merupakan lokasi utama manusia Indonesia di masa depan. Desa dan penduduk desa mungkin tidak berkurang, tetapi yang tinggal di desa sekarang akan mengalami desa-desanya mengota, paling tidak pada sebagian aspek-aspek kehidupannya. Kota atau kondisi perkotaan yang sangat saling terhubungkan akan merupakan konteks utama tempat produksi kebudayaan akan berlangsung.  Ini pun dapat menjadi kesempatan bagi banyaknya kearifan budaya dan kesenian yang sekarang terdapat di wilayah pedesaan untuk lebih berkembang atau memberikan kontribusi bagi kebudayaan baru yang akan bermunculan sebagai hasil dari pergaulan yang disangatkan antara desa dan kota.
  5. RUU Kebudayaan haruslah menjabarkan kewajiban negara dalam hal:
    1. Menjamin dan menyangatkan pertumbuhan masing-masing kebudayaan tersebut,
    2. Menjamin kebebasan anggota-anggota tiap-tiap kebudayaan untuk mempraktikkan kebudayaannya masing-masing.
    3. Menjamin dan menyangatkan pergaulan yang leluasa, setara dan damai di antara semua (anggota) kebudayaan-kebudayaan itu dan di antara mereka semua dengan kebudayaan-kebudayaan di luar RI.
    4. Negara harus membangun keadaan dan menyelenggarakan sarana dan prasarana yang mendukung proses-proses di atas.
    5. Negara perlu menjamin dan menegaskan ketersediaan beberapa sarana-prasana dan tata-cara membangun kota yang baik untuk mendukung proses pengembangan kebudayaan secara umum dan kesenian secara khusus.
    6. Negara perlu mendukung proses pembentukan kebudayaan berkota dan mengota yang adab, yang memenuhi syarat-syarat etik dan estetik. Continue reading
Posted in Arts, Language and Culture, governance | 2 Comments

Misteri Hutan Terlarang, Sabtu 22 Maret 2014, Jam 15-17

photo 3

1507762_214080195466030_275945179_n

https://www.facebook.com/events/593205617435114/

  • Dusun Banjarharjo I, Dlingo, Bantul, Yogyakarta
  • MISTERI HUTAN TERLARANG
    - Pertunjukan oleh Anak-anak Banjarharjo I + PapermoonSelama bulan Februari 2014 Papermoon Puppet Thater menyelenggarakan lokakarya dengan anak-anak di Bumi Pemuda Rahayu (BPR), Dlingo. Bersama-sama mereka membuat boneka dari bambu dan merancang cerita tentang hutan dan hantu, serta mempelajari keterampilan tangan lokal.”Misteri Hutan Terlarang” adalah adalah pertunjukan yang dihasilkan dari lokakarya ini. Ia adalah kolaborasi antara anak-anak Dusun Banjarharjo I dan Papermoon.

    Pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum. BPR menyediakan 1 bis berkapasitas 24 orang dari dan ke Yogyakarta. Silahkan mendaftar melalui SMS ke nomor: 0817 272 252.

    Bis akan berangkat dari KUNCI Cultural Studies Center, Jln. Ngadinegaran MJ III/100 (Gg. Melati) Yogyakarta, pada Sabtu, 22 Februari 2014, pukul 13.30 WIB. Peta alamat KUNCI bisa dilihat pada tautan ini:http://on.fb.me/1hyQQWKImage

Posted in Nature and Environment | Tagged , , , | Leave a comment