MEDIA SOSIAL = RUANG KHALAYAK

Judul di atas tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian media sosial yang bersifat seperti ruang khalayak. Sebagian bersifat “potensial” saja, dan baru menjadi benar-benar khalayak ketika disaling-hubungkan. (Lihat blog saya sebelumnya). Atau, dapat juga dikatakan bahwa hanya sebagian sifat ruang khalayak yang melekat pada media sosial.

Namun, pada media sosial itu dapat melekat berbagai sifat buruk ruang khalayak: kekerasan, ketidak-adilan, voyeurism, dominasi kejantanan, penghakiman sepihak, ketenaran seketika (dalam dua arti: cepat dan singkat), dan lain-lain.

Sifat-sifat baik tentu ada. Tapi sebaiknya sadar akan yang buruk di atas. Pandangan ideal tentang ruang khalayak ada, dan mungkin layak menjadi cita-cita. Namun ini topik tersendiri.

O ya, yang paling penting peringatan ini: Sejak dulu ruang khalayak itu menuntut perilaku tertentu. Anak kecil sebaiknya ditemani orang dewasa. Kalau belum dewasa, harap hati-hati saja belajar menjadi dewasa di dalamnya, tanpa harus menjadi agorafobik.

Posted in Urban Life | Leave a comment

DI ANTARA RUANG PRIBADI DAN RUANG KHALAYAK: DARI FLO UNTUK KOTA

Dari https://www.facebook.com/marco.kusumawijaya/posts/10152715804813708

Tiap hari kita menjelek-jelekkan menertawakan bangsa atau orang apa saja: Cina, Batak, Minang, Bugis, Papua, Jawa, Sunda, Jerman, Perancis,….Bahkan keluarga mertua, menantu, tetangga, …Dan tentu saja orang kota mana saja: arek Suroboyo, wong Solo, orang Medan, Bandung…

Tapi biasanya itu terjadi di ruang gosip di dalam lingkaran ruang kecil teman-teman. Paling-paling radiusnya cuma tiga meter, dan yang memukiminya cuma selusin orang yang saling kenal dengan baik.

Namun kini ruang kecil setengah pribadi itu dengan serta merta berhubungan dengan ruang besar khalayak melalui suatu lubang-cacing ruang-waktu bernama media-sosial. Tiap medium sosial merupakan lubang-cacing yang menghubungkan ruang-waktu pribadi dengan ruang-waktu khalayak dengan seketika dan ke mana saja.

Kecerdasan yang dituntut sekarang tidak berbeda dengan yang sejak jaman dulu: sebaiknya ada pintu yang dapat dibuka dan ditutup di di antara yang pribadi dan yang khalayak itu. Lubang-cacing itu punya “setting”. Dan itu tidak dapat sepenuhnya otomatis, melainkan perlu campur tangan manusia yang sadar tentang apa yang sebaiknya dibiarkan di ruang kecil dan apa yang di ruang besar.

Yang jadi masalah bukanlah “what is said”, tetapi “what is leaked out”. Yang membuatnya jadi masalah bukanlah yang mengatakan, tetapi yang membocorkan. Sejauh menyangkut konteks ruang pribadi dan ruang khalayak ini, tentu saja.

Dan sebelum itu lagi: kesadaran membedakan apa yang mau disampaikan di ruang pribadi dari apa yang untuk ruang khalayak.

Percaya deh, tanpa pembedaan-pembedaan itu, seberapapun besarnya godaan menjadi tenar dan sohor, hidup di kota akan menjadi tidak tertanggungkan, bukan karena terlalu berat, tetapi karena terlalu enteng.

Saya tahu status saya ini berpotensi dibaca oleh 5,000 sahabat, yang terus terang tidak mungkin saya ingat wajah dan namanya satu demi satu. Apakah 5,000 itu ruang besar atau ruang kecil, khalayak, komunitas, atau pribadi? Ini persoalan tersendiri. Tiap medium sosial mungkin memiliki sifat yang berbeda dalam perspektif yang saya tawarkan di atas. Yang jelas, status saya ini dapat menjadi lebih besar dan bersifat lebih khalayak sepenuhnya tergantung pada sahabat-sahabat sekalian, bukan pada saya.

Posted in Arts, Language and Culture, Communities, Urban Life | Leave a comment

BASUKI DAN INFRASTRUKTUR

Argumen Wagub Basuki pada berita di bawah ini sangat tidak masuk akal. Benarkah ini berasal dari beliau sendiri? Mungkinkah dia dibohongi orang Kementerian PU?

http://megapolitan.kompas.com/read/2014/07/25/13092981/Di.Hadapan.Menteri.PU.Ahok.Klarifikasi.Penolakan.Proyek.Enam.Tol.Saat.Pilkada

Lalu apakah Gubernur Joko Widodo diam saja? Setahu saya beliau sudah lebih banyak tahu karena sebelumnya di tahun 2013 ada perdebatan yang dia ikuti, yang sayangnya tidak diikuti Wagub Basuki.

Hebatnya lagi, keputusan Basuki ini mengingkari pandangan umum di tengah-tengah proses partisipatif (Public Hearing) yang diundangkan oleh Gubernur Joko Widodo bersama-sama dengan kehadiran Wamen PU tahun lalu (2013). Selain itu, beberapa minggu sesudahnya, dalam pertemuan yang dihadiri 17 organisasi masyarakat, Gubernur Joko Widodo dengan tegas menolak setidaknya 4 ruas jalan tol tersebut, dan meminta masukan dan argumen untuk juga menolak dua ruas lainnya.  Suatu Petisi melalui Change.org, yang ditandatangani lebih dari 4,000 orang pada tahun lalu itu, juga diserahkan kepada Wagub Basuki. Apakah lalu proses itu tidak berarti sama sekali? Pengingkaran seenaknya atas hasil pertemuan dan pandangan publik yang eksplisit berarti anti-demokrasi, diktatorial (Orde Baru).

Saya tahu Asian Games akan digunkan sebagai pendorong pembangunan infrastruktur. Tetapi soalnya bukan hanya asal jumlah infrastruktur, melainkan jenis dan kualitas infrastruktur, terutama untuk mengantar Jakarta menuju masa persaingan ekologis. Tanpa infrastruktur yang ekologis, Jakarta malah akan ketinggalan dalam hal daya saing, makin macet, makin tidak efisien, dalam jangka menengah malah tidak efektif. Ketika Capetown menjadi tempat Piala Dunia 2010, ia juga membangun infrastruktur transportasi, tapi bukan jalan tol sama sekali, melainkan sistem bus dan MRT. Saya berada di sana, mengajar di Universitas Capetown beberapa bulan sebelum piala dunia itu.

Saya tahu setiap politisi akan memanfaatkan momentum “big games” seperti ini. Tetapi, kalau hanya membangun “apa yang mungkin dan mudah”, bukannya membangun “apa yang seharusnya”, Ahok ternyata tidak beda dengan politisi-politisi lainnya.

Sudah banyak literatur yang menganjurkan dan mendeskripsikan bagaimana infrastruktur yang ekologis. Tapi Wagub Basuki menggunakan argumen lama Kementerian PU, yang berasal dari tahun 1950an, yang sebenarnya memang tidak bisa ada yang lain untuk membenarkan Jalan Tol di masa kritis Jakarta ini.

Mengapa tidak mempercepat penyempurnaan Busway yang hanya memerlukan kurang dari 4 T? (Jalan tol ini akan menghabiskan dana 41 T) Tidak ada swasta yang mau? Kita sering mendengar Joko Widodo mengatakan, bahwa sebenarnya kita punya cukup uang (dana publik)! Mengapa tidak mempercepat MRT yang sudah disiapkan 7 tahun lampau oleh mantan Gubernur Fauzi Bowo? Masa, beliau dan Basuki hanya melanjutkan apa yang dirintis Foke, tanpa menambah jalur baru dan lain-lain?

Dalam kesempatan lain saya baca Wagub Basuki juga mengungkapkan bahwa angkutan umum juga sedang dikebut, maka jalan tol tidak salah dibangun juga. Argumen ini mengabaikan hal yang lebih mendasar, bahwa pengembangan jalan (tol atau bukan tol, layang atau bukan layang) bersifat kontra-produktif terhadap pengembangan sistem angkutan umum. Ada banyak riset untuk ini, yang dapat dibaca di Rujak.org. Tak perlu saya ulang. Mengatakan baik membangun jalan tol karena angkutan umum pun sedang dibangun ini analog dengan mengatakan minum racun baik karena sedang minum obat.

Kita harusnya juga siap antisipasi, bahwa hal yang sama akan terjadi di Indonesia Timur: infrastruktur konvensional yang berbahaya bagi persaingan jangka panjang. Dasawarsa mendatang akan ditandai dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran untuk mengejar ketertinggalan dan sekaligus memenuhi kebutuhan masa depan dalam rangka memenuhi hasrat kemakmuran. Apakah Joko Widodo dan Jusuf Kalla akan menjadi biasa-biasa saja, yang bangun “apa yang mungkin” ketimbang “apa yang seharusnya” (dengan visi masa depan yang ekologis?)

Semoga para pembantu Joko Widodo dan Basuki T Purnama untuk Jakarta Baru dapat menyelamatkan kita ke masa depan. Kalau tidak, kita hanya memasuki Orde Baru jilid 2, hanya mungkin dengan lebih bersih.

Saya juga berharap Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para pembantunya nanti lebih kreatif. Niat baik saja tak cukup. Untuk masuk ke masa depan yang kompetitif secara ekologis, diperlukan kreativitas dan pengetahuan-pengetahuan mutakhir. Tergantung kepada “orang lama” menjadi masalah bukan hanya karena catatan hitam dalam HAM, tapi juga keterbatasan pengetahuan mereka (dan masing-masing dari kita), yang merupakan hal yang manusiawi. Makanya pendekatan partisipatif yang pernah dirintis Joko Widodo penting, dan semoga bertahan, dan tidak tiba-tiba dijungkir-balikkan begitu saja. Kita semua lebih cerdas dan berpengetahuan lebih banyak daripada beberapa pembantu presiden.

Di Hadapan Menteri PU, Ahok Klarifikasi Penolakan Proyek Enam Tol Saat Pilkada

Saat menyepakati pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota di Kementerian…

MEGAPOLITAN.KOMPAS.COM|BY KOMPAS CYBER MEDIA

Posted in governance, Urban Development, Urban Planning | 1 Comment

UNDANGAN TERBUKA: Pesanggrahan Musim Tanam 2014 di Bumi Pemuda Rahayu

http://rujak.org/2014/08/open-call-program-pesanggrahan-residensi-senimanpeneliti/

http://www.scribd.com/doc/235806927/bpr-pesanggrahan-2014

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ekspedisi Pekerja Kreatif ke Taman Nasional Kepulauan Waktobi

Mari mendaftar!

Tenggat 30 Juli 2014.

poster liwuto pasi landscape besar-1

Posted in Arts, Language and Culture, Nature and Environment | Leave a comment

Korupsi dalam Tata Ruang

Ini adalah slides berisi pointers diskusi pada konferensi yang diselenggarakan oleh UNODC pada tanggal 11 Juli 2014. Karena pointers, maka tidak memuat penjelasan lengkap yang banyak disampaikan secara lisan. Karena itu sebaiknya tidak dikutip. Bila ingin berdiskusi, silakan menghubungi saya.

UNoDC_Marco_Korupsi_11Juli2014

Posted in governance, Urban Development, Urban Planning | Leave a comment

Mas Slamet Abdul Sjukur dan Kebisingan Kota

Saya mengenal beliau dalam hubungan yang mulainya “agak resmi,” yaitu beliau sebagai anggota Akademi Jakarta dan saya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 2006-2010). Beliau bersama-sama dengan sebagian anggota Akademi Jakarta juga mewawancarai para calon anggota DKJ ketika itu.
Di kemudian hari baru hubungan kami mengunci pada satu kegiatan bersama. Kami dan beberapa teman lain yang beliau ajak ke DKJ ketika itu — antara lain saya ingat Dr. Soe Tjen Marching, Dr. Bulantrisna Djelantik– membentuk “Masyarakat Bebas Bising.”
Beliau mulai dengan memaparkan berbagai fakta ilmiah tentang telinga dan bunyi. Saya sangat tidak menyangka bahwa beliau menyiapkan semua data itu dengan rapi. Saya tidak menyangka hal itu, karena bagi saya sebelumnya Mas Slamet adalah (hanya) seorang seniman musik kontemporer. Saya sempat menonton pertunjukannya yang menyajikan “hanya” tiga nada piano di rumah duta besar Perancis pada kesempatan pemberian penghargaan kepada Goenawan Mohammad.
Tapi tentu saja musik adalah seni yang sangat dekat dengan matematika. Nada-nada dapat dihitung, diukur dan dipatok dengan sangat tepat secara matematis. Adalah suatu keajaiban bahwa ketepatan itu dengan mudah dapat dirasakan oleh indera manusia secara langsung. Ketepatan itu juga dapat dibayangkannya dan, karena itu, nada-nada dapat dikomposisikan.
Tentu saja itu mengandaikan telinga yang sehat dan peka, yang tergantung pada keadaan fisiologis di dalam indera itu, dan kehadiran suara-suara di sekelilingnya, yang juga dapat menyebabkan kerusakan fisiologis di dalamnya. Kebisingan dapat merusak kesehatan dan kepekaan indera pendengaran.
Mas Slamet ketika itu mengajak membuat suatu gerakan agar masyarakat Indonesia sadar akan kualitas bunyi, sadar tentang betapa penting indera pendengaran (antara lain sebenarnya sebagai alat peringatan dini pertama akan bahaya bagi manusia), tentang betapa bahaya kebisingan terhadap bukan saja kesehatan jiwa kita (melalui gangguan tekanan pada indera pendengaran), tetapi juga terhadap kehilangan suatu karunia kita yang penting, yaitu kemampuan merasakan keindahan suara. Tentu saja yang dilawan mendasar ada dua: volume suara yang tidak tepat dan kualitas suara yang buruk,
Kota-kota kita makin penuh sesak dengan keduanya. Suara-suara mesin makin banyak dan dominan, tak henti-henti. Di dalam ruangan, karena banyak yang tidak dirancang dengan baik, suara-suara bergema dan sulit dipahami. Di bangunan-bangunan umum pengumuman yang terus-menerus pun demikian. Bagi yang pernah mengalami bandar udara Hasanuddin di Makassar, dapat membayangkan yang saya maksud. Namun di bandar udara Juanda Surabaya ada perkembangan menarik. Mulai tanggal 1 Juni 2014, tidak akan ada lagi pengumuman yang bersifat umum ke seluruh bandara tentang keberangkatan/kedatangan dan panggilan masuk ruang tunggu. Pengumuman hanya ada di masing-masing ruang tunggu. Ini persis yang sudah diterapkan di banyak bandara internasional di luar negeri. Pengumuman hanya akan diberikan secara visual. Dan, tentu saja: bacalah boarding pass Anda!
Salah satu soal kontroversial tentang bising di kota-kota kita tentu saja menyangkut suara dari mesjid. Kita pernah mendengar suara adzan yang bagus, dengan volume yang pas. Tapi banyak yang tidak bagus dengan volume yang sangat besar, dan yang menjadi tidak fungsional karena saling tindih antara suara yang berasal dari satu mesjid dan yang lainnya. Adzan adalah untuk memanggil orang menjalankan ibadat, jadi sejauh satu terdengar, maka tidak perlu ada dua suara yang bersaing memperdengarkan diri kepada ruang yang sama. Di beberapa negara, pelantun adzan itu bersertifikat, dan ada yang digaji oleh negara agar terjamin suaranya bagus, indah, dan tidak terlalu keras. Di Indonesia ada tradisi perlombaan melantunkan Al Quran. Bagus kalau hasilnya diteruskan kepada peningkatan kualitas pelantun adzan di mesjid-mesjid.
Kebisingan manusia, dan sebenarnya juga cahaya yang dihasilkan manusia, juga telah mengganggu spesies-spesies lain. Di beberapa tempat di dunia, kalau tidak salah di Canada misalnya, cahaya yang keluar rumah dibatasi agar serangga dan spesies lain tidak terganggu orientasinya. Pada dasarnya kebisingan adalah antitesis kesunyian yang diperlukan untuk kita menjadi pendengar yang baik, yang peka. Pendengar yang baik adalah pelengkap bagi pengujar yang baik dalam proses komunikasi yang bebas dari kesalah-pahaman, yang mendalam serta memperkaya saling memahami.
Bagi Mas Slamet, kepekaan pendengaran itu suatu karunia. Karena itu manusia bermusik. Kebisingan yang ngawur adalah musuh Nomor Satu bagi perkembangan musik, yang bukan saja dalam pengertian para profesional (pencipta musik), tapi bagi siapa saja, dalam pengertian seluas-luas dan semendasar-dasarnya.
Hal pentingnya adalah: kebisingan itu bukan saja buruk, tapi sebenarnya tidak diperlukan dan dapat dicegah dengan berbagai upaya. Para arsitek dapat merancang ruangan dengan pantulan suara yang sesuai. Perencana kota dapat mengatur jarak-jarak sumber suara, atau mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Para pemuka agama dapat menyadarkan umatnya, bahwa keindahan (suara) adalah bagian dari karunia Tuhannya juga. Mengupayakan keindahan suara melalui volume yang tepat serta nada yang bagus adalah suatu upaya menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam kisah Gilgamesh (Persia kuno) para dewa mengirimkan air bah karena mereka terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh manusia di kota-kota besarnya. Kebisingan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas dan jumawa. Kalau kita membanding-bandingkan beberapa kebudayaan, kesenyapan di ruang khalayak menjadi salah satu ukuran yang sangat penting. Budaya Jawa sangat menghargai kesenyapan, hampir serupa dengan di Jepang. Tapi belakangan ini di mana-mana kita mendapatkan ruang khalayak yang penuh dengan kebisingan yang tidak perlu, over-acting, dan dapat dicegah dengan upaya-upaya teknis, selain kesadaran untuk menghargai kesenyapan.
Masayarakat Bebas Bising belum selesai berkarya. Dan selayaknya dilanjutkan dengan antusiasme setinggi-tingginya. Mari kita mulai lagi pada hari baik ulang tahun Mas Slamet ini?
Selamat ulang tahun yang ke-79, Mas Slamet!
Posted in Arts, Language and Culture, Urban Life | Tagged , , | Leave a comment