Category Archives: Urban Life

Mas Slamet Abdul Sjukur dan Kebisingan Kota

Di Ayorek! Saya mengenal beliau dalam hubungan yang mulainya “agak resmi,” yaitu beliau sebagai anggota Akademi Jakarta dan saya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 2006-2010). Beliau bersama-sama dengan sebagian anggota Akademi Jakarta juga mewawancarai para calon anggota DKJ ketika … Continue reading

Posted in Arts, Language and Culture, Urban Life | Tagged , , | Leave a comment

Common Space and Public Space in Contemporary Urbanization

(Originally presented at a conference in Singapore convened by William Lim on 25-26 May, 2013, published in William Lim, Public Space in Asia, 2014). Seemingly, rising aspiration for common space and community life in many cities is facing two counter currents: … Continue reading

Posted in Arts, Language and Culture, Communities, Urban Life | Leave a comment

Rumah Tinggal di Menteng Jadi Sekretariat (kantor!) Berbagai Tim Politik.

Saya amati hal ini sudah sejak dulu. Beberapa bulan hingga setahun sebelum pemilu, beberapa rumah tinggal pada jalan atau kawasan yang dalam tata ruang dinyatakan sebagai permukiman/perumahan, digunakan sebagai sekretariat tim sukses ini-ini, juga kadang terselubung dalam nama “media-center”. Ada … Continue reading

Posted in Architecture, governance, Jakarta, Urban Life | Tagged , | Leave a comment

Kedesaan Kita

Membaca kutipan ini, saya tercenung, seberapa masih tersisa dalam sikap hidup kita? Nyatanya UU Desa yang dibuat dulu. UU Kota belum. Semua orang ingin punya tanah, atau rumah di atas tanah. Claude Guillot, Pola Perkotan dan Pemerintahan di Kota-kota Perdagangan … Continue reading

Posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life | 1 Comment

Koalisi

Bukan koalisi partai politik yang saya maksudkan. Di tengah-tengah lalu lalang pemimpin-pemimpin menerobos kota Jakarta, saling mengunjungi tempat mereka rundingkan kekuasaan, saya terpikirkan perlunya masyarakat juga menyiapkan koalisi-koalisi sebanyak yang diperlukan, yaitu yang memperjuangkan berbagai cita-cita yang kita inginkan. Misalnya: … Continue reading

Posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Development, Urban Life, Urban Planning | Tagged | Leave a comment

Mengatasi Sampah

Untuk mengurangi sampah, saya kira pemerintah perlu secara bertahap berhenti mengangkut sampah organik sama sekali. Dana yang dihemat dari pengumpulan dan pengangkutan itu dapat digunakan untuk memberikan keranjang kompost secara gratis, plus beberapa program pelatihan dan mencetak bahan-bahan keterangan. Pada … Continue reading

Posted in governance, Nature and Environment, Uncategorized, Urban Life | Leave a comment

Kota Kreatif dan Ekonomi Kreatif

Catatan saya dari pertemuan dua hari di Chiang Mai (tg 3 dan 4 April 2014). Seharusnya, kota kreatif itu tidak menyempit pada ekonomi kreatif. Kota kreatif tidak harus berarti “kota dengan ekonomi kreatif yang berkembang”. Kota kreatif adalah kota yang … Continue reading

Gallery | Tagged , , | 4 Comments

Kampung, Pasar dan Ruang Bersama

Yahoo! Orang sering bertanya-tanya: Apa kekhususan kota-kota Indonesia? Rupanya, makin banyak kelas menengah baru melancong ke perbagai negeri dan kota lain, makin banyak juga yang memikirkan ulang kota kampung halamannya masing-masing di tanah-air Indonesia. Seolah-olah Indonesia itu satu, padahal sebelum … Continue reading

Posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life, Urban Planning | Tagged , , , , , | 4 Comments

Azab Sengsara Asap

(Foto dari http://fokusriau.com/berita-kabut-asap-bisa-buat-iq-anak-di-riau-jongkok-.html) Dari sahabat Dedi Ariandi saya dapat kabar dari Pekanbaru, yang memberikan sedikit jendela untuk merasakan bagaimana keluarga-keluarga menghadapi asap di sana. Ternyata anak-anak akan ujian hari senin besok lusa. Mereka harus konsentrasi belajar sekarang, sementara asap masuk ke rumah-rumah, … Continue reading

Posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life | Tagged , , | Leave a comment

KOTA SERBA SALAH

Dari kawan Adin (Hysteria, Semarang) kemarin mendapatkan ekspresi “kota serba salah.” Rasanya ini agak tepat menggambarkan situasi kita, selain kata “tunggang-langgang” yang dulu menjadi bagian judul buku saya, “Jakarta Metropolis Tunggang-langgang.”

Posted in Jakarta, Urban Life | Leave a comment