Menanam ‘Bunga’ untuk Perubahan Malaysia

Pada tanggal 5 Mei 2013, Malaysia akan mengadakan pemilu atau dalam bahasa setempat, “Pilihan Raya Umum ke-13”.
Dalam rangka menyongsong hari penting tersebut, pada Minggu 14 April beberapa warga Malaysia mendatangi Lucky Garden Roundabout di Bangsar, Kuala Lumpur. Di bundaran itu, mereka menanam ribuan “bunga” kecil berwarna-warni sebagai simbol gerakan perubahan Malaysia.
Gerakan itu diberi nama “Malaysian Spring”. Tujuannya, menyebarkan pesan perubahan dan mengajak rakyat ikut berperanserta dalam proses perubahan. Rakyat bisa membuat “bunga” mereka sendiri dengan mudah, lalu menanamnya di lingkungan sekitar mereka, dan kemudian mengirimkan foto bunga yang telah ditanam ke website Malaysian Spring. Semboyan gerakan ini: Plant for hope, plant for change, plant for Malaysia.
Malaysian Spring dimulai oleh seorang arsitek lanskap sahabat saya, Ng Sek San. Dia mengatakan ada dua tindakan subversif dalam kegiatan itu.
“Yang pertama, tindakan menanam di ruang publik yang tadinya tak pernah dimasuki orang sama sekali,” kata Sek San. “Yang kedua, kami menanam ‘bunga’ dengan berbagai warna, sebab kami mau menyampaikan pesan, bahwa warna kulit tidak lagi penting bagi masa depan Malaysia.”
Politik Malaysia, kata Sek San, selama puluhan tahun telah melembagakan rasisme.
Ng Sek San sudah setahun mengambil cuti untuk khusus terlibat dalam gerakan mengubah Malaysia. Setahun yang lalu saya ingat dia mulai membicarakan berbagai konsep gerakan yang dia sedang rancang. Saya senang kini sesuatu mewujud.
Bunga-bunga pun mulai ditanam di berbagai tempat di Malaysia dan juga negara lain seperti Inggris. Jumlah total bunga yang sudah ditanam, dan berbagai informasi lainnya, dapat dilihat publik di website. Pada 19 April 2013, jumlahnya telah mencapai 18,677. Tiga hari kemudian, (22 April 2013) jumlahnya 30.557 dan terus bertambah.
Lucky Garden Roundabout sendiri sebelum ini bukanlah sebuah taman yang digunakan. Tempat itu adalah sebuah ruang hijau kosong dikelilingi jalan raya. Ng Sek San selama 18 tahun tinggal di kawasan itu, belum pernah sebelumnya memasuki taman itu. Dia kemudian juga mendapatkan informasi bahwa hampir semua tetangganya juga demikian.
Apa reaksi pemerintah Malaysia terhadap Malaysian Spring? Seperti dapat kita duga, tidak ramah. Menjelang malam, tiba-tiba serombongan petugas ketertiban kota Kuala Lumpur datang ke Lucky Garden Roundabout dan mencabuti bunga-bunga harapan itu. Pengendara mobil yang kebetulan lewat di sana pun memperhatikan dan membunyikan klakson sebagai tanda protes. Orang berdatangan dan mempertanyakan mengapa bunga-bunga itu dicabut.
Akhirnya, rombongan petugas ketertiban Kuala Lumpur mengalah. Kata warga sekitar, “Kami maunya begitu! Terserah kami. Jangan dicabuti.”
Cerita tidak berhenti di situ. Sebagaimana dapat dilihat di foto-foto, Barisan Nasional lalu menurunkan orang-orangnya memasang bendera mereka, juga melingkari taman itu dengan spanduk panjang. Berbeda dengan Malaysian Spring yang mengajak orang masuk taman, Barisan Nasional hanya peduli penampilan. Mereka hanya memasang spanduk dan bendera mereka di luar taman.
Pada 5 Mei nanti, gerakan Malaysian Spring akan terbukti berhasil atau gagal. Apa pun hasilnya, bagi saya gerakan ini menunjukkan dua hal dalam kehidupan kota. Pertama, Malaysian Spring dan Sek San (dengan kepekaannya sebagai seorang arsitek lanskap) telah berhasil menghidupkan sebuah taman.
Kedua, Malaysian Spring telah mengubah ruang publik yang tadinya “kosong” menjadi kini suatu ruang bersama (common space) — yang sekaligus menimbulkan rasa memiliki bagi warga sekitarnya.
Sesudah 5 Mei, Malaysia mungkin berubah, mungkin juga tidak. Tetapi setidaknya Kuala Lumpur dan warganya telah berubah. Mereka telah menjadi warga kota yang memiliki suara dan mengisi ruang bersama. “Kami berusaha mengklaim kembali ruang kami,” kata Sek San.
Pada Mei 1998, rakyat Indonesia berhasil mengubah sejarah. Bila pada 5 Mei nanti Malaysian Spring juga berhasil, maka Indonesia dan Malaysia akan memiliki bulan bersejarah yang sama.
Tiga Saran untuk Menangani Permukiman di Ruang Publik
Ada dua fakta penting tentang permukiman kaum miskin kota di ruang publik.
Pertama, mereka umumnya dekat dengan tempat/sumber pekerjaan. Ini sekedar ilustrasi: Di dua blok permukiman yang saya kunjungi Muara Baru di tepi Waduk Pluit, satu blok dihuni warga asal Makassar yang bekerja di pelabuhan Sunda Kelapa (di sebelah Timurnya), satu blok lagi mengerjakan pesanan pabrik di sekitarnya (misalnya: mengemas mainan plastik). Fakta kedua adalah permukiman itu tidak tiba-tiba ada sekaligus banyak. Mereka tumbuh selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Sebuah Kota dari Tanah Liat
Baca di Yahoo!
Pada awal November ini, saya mengunjungi sebuah kota yang berumur setidaknya 600 tahun di sebelah barat laut Surabaya. Kota ini seluruhnya terbuat dari tanah liat.
Bukan hanya bangunannya, tetapi juga berbagai peralatan rumah di kota ini terbuat dari tanah liat. Termasuk pula tabungan atau celengan berukuran sekepalan tangan, dengan bentuk wajah-wajah lucu. Yang besar berukuran sepelukan dua tangan, mengambil rupa babi atau gajah, lagi-lagi berwajah lucu.

Reruntuhan rumah biasa. Perhatikan ubin terakota (tanah lihat) berbentuk segi-enam. Belum lama ditemukan.
Taman Lingkungan Biarlah Tetap “Tersembunyi”
Taman di dalam sebuah kota seyogyanya bermacam-macam tingkatannya.
Dan kenyataannya memang demikian. Di Jakarta, misalnya, ada Lapangan Monumen Nasional yang bersifat publik. Taman ini terbuka bagi siapa saja yang datang dari mana saja. Tidak ada yang akan terganggu kalau ia hiruk-pikuk, kecuali barangkali Presiden dan keluarga kalau mereka sedang menginap di Istana. Tapi selain mereka, tidak ada “penghuni” di sekitar Lapangan Monas.
Lalu ada taman yang untuk bagian kota yang terbatas, misalnya Taman Menteng. Letak taman ini menunjukkan hierarki tersebut. Taman diapit oleh dua jalan besar tapi lokal, dan di belakangnya ada sedikit hunian.
“Apartemen” Bergantung di bawah Jembatan Kuningan/Menteng. Berlistrik.
Siapakah gerangan yang tinggal di sini? Kelihatan ada lemari dan penerangan (listrik?) di dalamnya.
Di sebelahnya ada taman yang dijadikan tempat depot truk-truk sampah atau penyiram (?) dari Dinas Pertamanan (?).
Bagaimana naik ke atas? Tidak nampak karena ditutup pagar hijau yang sudah lama sekali, seolah-olah ada “proyek” sedang berlangsung.
Dari Berlin: Komunitas dan Ruang Bersama
Di Berlin pekan lalu, pada konferensi tentang seni dan kelestarian (sustainability) Radius of Art, salah satu yang muncul sebagai harapan yang kuat adalah komunitas.
Konferensi ini berlangsung pada 8-9 Februari 2012 dan menghadirkan 19 pembicara. Antara lain mantan walikota Bogota yang sempat jadi calon presiden Kolumbia, Antanas Mochus, dan seniman senior Italia Michelangelo Pistoletto. Saya sendiri bertugas sebagai salah satu dari empat perangkum di babak terakhir.
Harapan akan komunitas tampak muncul sebagai sesuatu yang wajar, karena untuk berubah ke arah abad ekologi diperlukan perubahan nilai-nilai secara luas dan mendalam serta mengakar. Komunitas rupanya dirasakan sebagai tempat yang strategis untuk itu.
Rupa Belanja, Rupa Kota
(For English translation, please scroll down)
Pengantar kuratorial pameran senirupa di Galeri Salihara, 14 – 30 Januari 2012.
Kita hidup di dalam dunia yang, melalui kota, makin tidak pernah puas dan henti mengkonsumsi apa saja. Makin menuntut banyak dan beragam pula.
Sementara konsumsi memberikan kita satu cara “menikmati hidup”—bukan hanya sekedar untuk hidup—ia bukan satu-satunya cara. Kita juga menjadi sadar, bahwa senyampang makin besar keragaman dan jumlah konsumsi yang kini dapat kita nikmati, semakin besar dan menekan pula pertanyaan-pertanyaan etis yang menghantui kita. Belakangan ini, pertanyaan-pertanyaan itu bertambah kuantitas maupun kualitasnya antara lain karena kesadaran yang meningkat tentang pemanasan global dan keterbatasan sumber daya alam.
Warna Hari Ini: Hijau?
Mana lebih mudah: Mengurangi, atau mengganti konsumsi Anda?
Keduanya punya insentif: jalan menuju ke hidup sehat. Dan perlu, meskipun merupakan pilihan sulit yang harus kita hadapi sehari-hari sejak belakangan ini. Sebab, masalah yang kita hadapi sebenarnya bukan hanya pemanasan bumi, tetapi juga menipisnya persedian sumber daya alam yang tak terbarukan, misalnya mineral dan bahan bakar fosil.
Memang ada tanda decoupling antara pertumbuhan ekonomi dan pemakaian sumber daya alam dan dampak lingkungan. Tingkat pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat pemakaian sumber daya alam dan kerusakan lingkungan. Di beberapa negara, produksi tiap satuan barang terbukti menggunakan makin sedikit bahan alam dan makin sedikit berdampak pada lingkungan.
Namun, bagaimana pun juga total penggunaan sumber daya alam tak terbarukan makin besar karena pertumbuhan penduduk, sehingga persedian yang terbatas tetap terus terkuras.



