Archive for ‘Uncategorized’

January 19, 2013

Banjir: Saatnya Ubah Pendekatan

Banjir tanggal 17 Januari 2013 nampak lebih besar daripada yang terjadi pada tahun 2002 dan 2007. Data akurat masih harus dikumpulkan.

Tetapi, yang penting adalah fakta bahwa curah hujan di Jakarta maupun di kawasan Bogor tanggal 16-17 itu dikabarkan hanya setengah dari yang turun di tahun 2007. Selain itu, banjir di Jalan Thamrin mulai darinsekitar Sarinah hingga Dukuh Atas merupakan hal baru. Ada faktor tanggul jebol di Jalan Latuharhary. Sebabnya perlu diselidiki: Apakah ada kelalaian perawatan? Juga faktor saluran pembuang air dari Menteng bagian utara yang melewati Sarinah menuju ke Cideng, yang meluap lagi.

“Untung”nya, air laut sedang tidak pasang naik, seperti yang terjadi di tahun 2002 dan 2007. Jadi tidak seorang pun dapat berdalih menyalahkan curah hujan dan faktor alam yang luar biasa.

Ini bukan saat yang baik bagi gubernur baru untuk memulai masa jabatannya. Tetapi, bagi warga, ini saat yang tidak boleh dilewatkan untuk meminta gubernur baru, Joko Widodo, dan wakil gubernur baru, Basuki Tjahya Purnama, untuk memimpin kita mengubah pendekatan salah yang selama ini diikuti.

Apa yang salah?

Banjir terjadi karena jumlah air permukaan melebihi kapasitas saluran alam (sungai dan lain-lain) dan saluran buatan manusia. Banjir = (Air Permukaan) – (Kapasitas Saluran Alam + Kapasitas Saluran Buatan). Selama ini pendekatannya selalu hanya memperbesar terus menerus kapasitas saluran itu. Pada saat yang sama, air permukaan makin meningkat tanpa upaya mengurangi atau bahkan menghentikan peningkatannya. Tidak perlu jenius untuk memahami, dari rumus sederhana di atas, bahwa terus menerus memperbesar kapasitas saluran, tanpa upaya mengurangi air permukaan, tidaklah menyelesaikan akar masalah secara lestari.

Membangun kapasitas infrastruktur mengalirkan air menimbulkan efek seperti jalan tol. Makin banyak air permukaan akan cenderung kita hasilkan, seperti jalan tol akan membuat kita makin banyak beli dan pakai mobil sehingga seluruh kota dan wilayah tergantung pada mobil. Kita lalu lalai bekerjasama dengan alam untuk menyerap air, yang merupakan solusi lestari, bukan saja untuk mengatasi banjir, tetapi juga untuk menyetop proses penurunan permukaan tanah Jakarta. Dan kita membangun terus, lupa bahwa setiap membangun berarti menambah air permukaan dan sekaligus mengurangi serapan air oleh bumi karena makin banyak lahan ditutupi dengan lantai bangunan atau jalan tol.

Logikanya sedemikian sederhana. Begitu juga secara empiris kegagalan pendekatan saluran sudah terbukti. (Restu Gunawan, Gagalnya Sietem Kanal).
Jadi kenapa kesalahan yang begitu gamblang ini telah kita ikuti selama seratus tahun lebih?

Kesalahan itu makin lama makin sulit diselesaikan, karena menyebabkan ketergantungan, dan terbelit kompleksitas kelembagaan. Ia juga menjadi kebiasaan buruk yang kalau mau diubah memerlukan apa yang terasa sebagai pengorbanan. Kalau dijumlah, semua itu membuat perubahan sulit secara politis.

Namun, menurut hemat saya, inilah sebabnya kita memilih Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama. Mereka dikenal karena terobosannya. Mereka mau mendengar alternatif. Mereka “segar”. Mereka mau dan mampu bekerja dengan masyarakat. Partisipasi warga adalah salah satu kunci yang harus ada dalam pendekatan kelestarian atau konservasi air.

Sementara itu, pengetahuan kita juga berkembang dan berubah. Ada makin banyak cara alternatif untuk membangun secara ekologis. Menyerapkan air. Bukan membuang air. Memulihkan hutan. Juga mungkin mengubah bangunan-bangunan yang sudah jadi sekalipun. Menjaga lahan terbuka harus menjadi prioritas pertama. Kerjasama dengan provinsi tetangga juga nampak lebih mungkin sekarang. Kita juga sudah punya data geologis tanah Jakarta yang lebih rinci sehingga, misalnya, bisa menyusun peraturan tentang sumur dan waduk resapan secara lebih akurat dan efektif?

Saya juga berharap, kesadaran masyarakat meningkat sesudah banjir ini. Maka, semoga menjadi lebih mau bekerjasama untuk mengubah prilaku.

Saya berharap Gubernur baru segera sesudah banjir reda mulai menyusun strategi yang mengadopsi pendekatan kelestarian atau konservasi air. Mungkin sekali diperlukan juga perombakan kelembagaan. Diperlukan suatu Komite yang berwenang luas dan dalam dengan visi pendekatan konservasi yang tegas untuk menyusun dan mengawasi jalannya program baru dengan pendekatan baru demi Jakarta Baru.

November 15, 2012

Gagalnya Sistem Kanal

20121115-224508.jpg

Hujan mulai kerap menyiram Jakarta.

Seperti biasa, saya duga sebagian besar warga Jakarta mulai khawatir tentang banjir. Dampak banjir akan terjadi bukan hanya bagi warga yang mendiami kawasan rawan banjir. Banyak warga lain akan terganggu kegiatan sehari-harinya karena, misalnya, perjalanan melalui kawasan rawan banjir dan sekaligus berkurangnya pelayanan angkutan umum. Di beberapa tempat mungkin listrik akan dipadamkan.

Gubernur Joko Widodo pada hari Sabtu, tanggal 3 November, jam 06:30, di Pintu Air Manggarai mengatakan bahwa memang saluran dan kanal akan diperbaiki dan dikeruk. Tetapi, beliau juga menambahkan, bahwa hal itu tidak akan cukup. Air harus juga diserap sebanyak mungkin ke dalam tanah. Di hulu, air harus dicegat, dengan ditampung dalam reservoir, atau diserap oleh lebih banyak lahan berhutan. Di dalam Jakarta (hilir) penyerapan air dapat dimaksimalkan dengan sumur resapan dan biopori secara masif.

Pendekatan itu nampaknya sesuai dengan penelitian sejarah yang mendalam.

November 15, 2012

Semua Kota Besar Makin Macet; Perlu Angkutan Umum Segera

Baca di Yahoo!

Makin sering kita mendengar keluhan penduduk tentang kemacetan yang makin kerap dan meluas di kota-kota besar besar mereka masing-masing: Makassar, Bandung, Medan, Surabaya, Manado, Palembang, Yogyakarta, Semarang, Bogor, dan lain-lain.

Saya tidak punya angka statistik yang dapat ikut menegaskan keluhan di atas. (Angka tersebut mungkin sekali sudah tersedia di Kementerian Perhubungan atau pusat-pusat penelitian tertentu.) Tetapi nalar sederhana serta pengalaman Jakarta memberikan pelajaran yang cukup.

Pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah baru, tanpa sistem angkutan umum yang menarik di kota-kotabtersebut, dengan sendirinya meningkatkan jumlah mobil dan motor pribadi dan ketergantungan makin besar padanya.

November 4, 2012

Joko Widodo Gubernur Baru Ditunggu Masalah Jakarta

Juga di: http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/masalah-jakarta-menunggu-joko-widodo.html

Joko Widodo menang antara lain karena membawa beberapa hal yang kontras terhadap Fauzi Bowo. Pertama adalah watak dan teknik komunikasinya yang membuat orang merasa nyaman berdialog dengan dia. Ini disertai hal penting lainnya: kesediaan mendengar. Harapannya, dengan itu ia akan mampu menggalang partisipasi dalam berbagai tingkat: dukungan warga untuk kebijakannya nanti, keterlibatan kongkrit warga dalam memperbaiki Jakarta, dan gagasan serta inovasi yang sangat diperlukan untuk membuat terobosan. Sejauh ini, penampilan Joko Widodo selalu sebagai “one of us”, yang juga sangat kontras dengan Fauzi Bowo. Pak Tamrin A. Tomagala mengatakan ia memiliki karisma “kejelataan”. Seorang sarjana asing yang mengikuti dia mengatakan ia memiliki “kampungness.”

September 1, 2012

Karsten in Semarang

20120901-153523.jpg

20120901-153536.jpg

20120901-153545.jpg

20120901-153607.jpg

20120901-153623.jpg

20120901-153638.jpg

20120901-155238.jpg

July 25, 2012

Hukum Lingkungan dan Nalar-Alam: Problematika Keadilan Eko‐Sosial.

Ditulis untuk konferensi Filsafat Hukum dan Kemajemukan Masyarakat Indonesia, diselenggarakan oleh Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia (AFHI), Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata dan Epistema Institute, 16-17 Juli 2012, Semarang.

1. Kesadaran tentang ekologi telah menjadi makin dalam dan pasti sebagai pengetahuan yang obyektif, meskipun ada berbagai hal yang masih belum tuntas. 

Kesadaran tentang ekologi telah bergerak dari masalah perubahan iklim/pemanasan global (climate change/global warming) ke keterbatasan sumber daya (finite natural resources). (Ekologi) bumi adalah suatu sistem tertutup  dengan hukum Termodinamika 1 (kekekalan energi) dan 2 (entropi).

Jumlah manusia akan terus bertambah, makin terbesar dan makin besar akan hidup dalam kondisi perkotaan (lihat bagian 3. di bawah). Tidak cukup hanya menghimbau untuk menghemat (mengurangi konsumsi) per kapita, tetapi harus mengganti konsumsi dengan sebanyak-banyaknya yang terbarukan, karena jumlah “kapita” akan terus bertambah.

March 14, 2012

It has started.

20120314-232206.jpg

March 14, 2012

Bangkok, along the first canal.

20120314-231957.jpg

March 14, 2012

The King in pink.

20120314-231816.jpg

August 21, 2011

Melewati Kebayoran Baru

 

Melewati Kebayoran Baru membayangkan apa yang akan hilang dan muncul.

 

Bangunan tinggi mulai muncul satu demi satu sepanjang jalan Senopati. Pertama di sisi Utara. Tapi, apakah nanti juga akan di sisi Selatan juga, yang berarti akan membelakangi rumah-rumah yang menghadap ke dalam/selatan blok Kota Kebayoran Baru? Lalu apakah rumah-rumah ini, yang nanti pasti tidak nyaman karena tertutup bayangan bangunan tinggi akan berubah pula menjadi bangunan tinggi? Dan seterusnya…

 

Duta Besar Italia pernah mengundang saya makan-siang mengeluhkan soal Jalan Senopati ini. Kediaman resminya ada di sana. Sudah lebih dari 40 tahun. Tahun 2009, kantor Perdana Menteri mengirim tim membuat rencana keamaan kediamannya itu. Resmi sudah disetujui. Tahun 2010 rencana itu gugur, karena tiba-tiba muncul sebuah gedung apartemen tinggi, lebih dari 20 lantai, hanya beberapa kavling di sebelah Baratnya. Halaman belakangnya yang luas serta merta terancam. Gedung tinggi ini tidak ada dalam rencana kota yang resmi terdahulu. Entah kalau sekarang sudah di”revisi”.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,361 other followers