Archive for ‘Nature and Environment’

March 28, 2013

Tiga Catatan Tentang Aglomerasi Perkotaan

Baca di Yahoo!

Aglomerasi perkotaan adalah beberapa kota yang menyatu menjadi kesatuan fisik dan ekonomi, serta mungkin juga sosial dan budaya. Contohnya Tokyo, Seoul, Jabodetabek, Mumbai, Hyderabad, dsb.

Pada umumnya, aglomerasi perkotaan menyumbang pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) suatu negara dengan persentase lebih besar daripada persentase penduduknya. Itulah sebabnya aglomerasi perkotaan disebut-sebut sebagai mesin pertumbuhan.

Tetapi karena itu pulalah, berkembang tekanan untuk mengelola aglomerasi perkotaan secara lebih efisien. Dalam perspektif kelestarian sekarang, kini sedang berkembang pula keinginan dan cara untuk mengukur efisiensi aliran material dan energi yang melalui aglomerasi. Tidak cukup mereka hanya produktif, tetapi juga harus sekecil mungkin tapak ekologisnya.

February 27, 2013

A Flooding Call for Conservationists

Also in Tempo English February 4th, 2013.

The flood in Jakarta on January 17, 2013 is a wake-up call. It has two new features: long inundation of the coastal Pluit and gushes that overwhelmed central Thamrin Avenue. The cause for both is infrastructure failure. In Pluit some pumps did not work. Near Thamrin a segment of the canal embankment along Latuharhary Street collapsed. The rain intensity on January 16-17 is only half the peak in 2007. The structural approach has failed. It is time for conservationist alternatives.

One can always say that there should be more infrastructure to channel excess water. This statement is faulty for seeing only one third of the equation: F = Sr – (Q1+Q2); where F is flood, Sr is surface run-off, Q1 is capacity of natural drains and Q2 is capacity of man-made drains. To reduce F we need to reduce Sr and increase (Q1+Q2). Normalizing rivers and building canals only increase (Q1+Q2). This will not solve the problem without reducing or stabilizing Sr, as the (Q1+Q2) will always be overfilled by increasing Sr.

December 26, 2012

Desember Banjir: Pertanyaan Politis, Bukan Teknis.

Air hujan membanjiri pintu masuk Monas di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12).

Caption dari Antara: JAKARTA, 22/12 – BANJIR JAKPUS. Air hujan membanjiri pintu masuk Monas di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12). Hujan lebat kembali melanda ibukota dan menyebabkan banjir di berbagai sudut kota. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/ama/12.

Baca di Yahoo!

Saking rutinnya banjir, banyak orang tergoda untuk bertanya, “Apa mungkin Jakarta bebas banjir?” Nadanya mengharapkan jawaban negatif: Tidak!

Perasaan pesimis dan kepasrahan menerima rutin dibalik pertanyaan itu, yang mulai menyusup ke dalam banyak hati dan benak orang, adalah suatu persoalan tersendiri.

Tetapi sebenarnya pertanyaan itu perlu mendapat pembedaan yang serius: itu pertanyaan teknis atau pertanyaan politis?

Secara teknis tidak ada yang tidak mungkin. Kita tahu empat penyebab banjir Jakarta sudah cukup dipastikan: air permukaan yang meningkat terus dari kawasan hulu, air permukaan yang meningkat terus di Jakarta sendiri, permukaan air laut yang terus meninggi, dan (ini belum lama dipastikan) menurunnya tanah Jakarta (hingga 18 cm pertahun di titik-titik tertentu).

November 28, 2012

Sebuah Kota dari Tanah Liat

Baca di Yahoo!

Pada awal November ini, saya mengunjungi sebuah kota yang berumur setidaknya 600 tahun di sebelah barat laut Surabaya. Kota ini seluruhnya terbuat dari tanah liat.

Bukan hanya bangunannya, tetapi juga berbagai peralatan rumah di kota ini terbuat dari tanah liat. Termasuk pula tabungan atau celengan berukuran sekepalan tangan, dengan bentuk wajah-wajah lucu. Yang besar berukuran sepelukan dua tangan, mengambil rupa babi atau gajah, lagi-lagi berwajah lucu.

Reruntuhan rumah biasa. Perhatikan ubin terakota (tanah lihat) berbentuk segi-enam. Belum lama ditemukan.

November 15, 2012

Gagalnya Sistem Kanal

20121115-224508.jpg

Hujan mulai kerap menyiram Jakarta.

Seperti biasa, saya duga sebagian besar warga Jakarta mulai khawatir tentang banjir. Dampak banjir akan terjadi bukan hanya bagi warga yang mendiami kawasan rawan banjir. Banyak warga lain akan terganggu kegiatan sehari-harinya karena, misalnya, perjalanan melalui kawasan rawan banjir dan sekaligus berkurangnya pelayanan angkutan umum. Di beberapa tempat mungkin listrik akan dipadamkan.

Gubernur Joko Widodo pada hari Sabtu, tanggal 3 November, jam 06:30, di Pintu Air Manggarai mengatakan bahwa memang saluran dan kanal akan diperbaiki dan dikeruk. Tetapi, beliau juga menambahkan, bahwa hal itu tidak akan cukup. Air harus juga diserap sebanyak mungkin ke dalam tanah. Di hulu, air harus dicegat, dengan ditampung dalam reservoir, atau diserap oleh lebih banyak lahan berhutan. Di dalam Jakarta (hilir) penyerapan air dapat dimaksimalkan dengan sumur resapan dan biopori secara masif.

Pendekatan itu nampaknya sesuai dengan penelitian sejarah yang mendalam.

November 8, 2012

Taman Lingkungan Biarlah Tetap “Tersembunyi”

Baca di Yahoo!

Taman di dalam sebuah kota seyogyanya bermacam-macam tingkatannya.

Dan kenyataannya memang demikian. Di Jakarta, misalnya, ada Lapangan Monumen Nasional yang bersifat publik. Taman ini terbuka bagi siapa saja yang datang dari mana saja. Tidak ada yang akan terganggu kalau ia hiruk-pikuk, kecuali barangkali Presiden dan keluarga kalau mereka sedang menginap di Istana. Tapi selain mereka, tidak ada “penghuni” di sekitar Lapangan Monas.

Lalu ada taman yang untuk bagian kota yang terbatas, misalnya Taman Menteng.  Letak taman ini menunjukkan hierarki tersebut. Taman diapit oleh dua jalan besar tapi lokal, dan di belakangnya ada sedikit hunian.

July 25, 2012

Hukum Lingkungan dan Nalar-Alam: Problematika Keadilan Eko‐Sosial.

Ditulis untuk konferensi Filsafat Hukum dan Kemajemukan Masyarakat Indonesia, diselenggarakan oleh Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia (AFHI), Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata dan Epistema Institute, 16-17 Juli 2012, Semarang.

1. Kesadaran tentang ekologi telah menjadi makin dalam dan pasti sebagai pengetahuan yang obyektif, meskipun ada berbagai hal yang masih belum tuntas. 

Kesadaran tentang ekologi telah bergerak dari masalah perubahan iklim/pemanasan global (climate change/global warming) ke keterbatasan sumber daya (finite natural resources). (Ekologi) bumi adalah suatu sistem tertutup  dengan hukum Termodinamika 1 (kekekalan energi) dan 2 (entropi).

Jumlah manusia akan terus bertambah, makin terbesar dan makin besar akan hidup dalam kondisi perkotaan (lihat bagian 3. di bawah). Tidak cukup hanya menghimbau untuk menghemat (mengurangi konsumsi) per kapita, tetapi harus mengganti konsumsi dengan sebanyak-banyaknya yang terbarukan, karena jumlah “kapita” akan terus bertambah.

June 30, 2012

Arts between the State and the Community: The Problem of Consumption in/of the City

Talk delivered at Lasalle College of Arts, Singapore, 27-28 March 2012.

Keywords:

Public/common space, community, ecology, arts, management, state, city, community, sustainability, democracy, freedom.

Introduction

My talk will be in three parts. The first will try to make a distinction between the state and the community, and between the public and the common. The second will discuss limitations of both and tries to explain the risks that we are facing, illustrated with the problem of consumption in and of the city within the perspective of (ecological) sustainability. The last will ask questions about what arts can do, and how we should manage arts within such problem set.

March 14, 2012

Bumi Pemuda Rahayu

March 14, 2012

It has started.

20120314-232206.jpg

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,362 other followers