November 29, 2012
Baca di Yahoo!
Dua minggu yang lalu, ada dua gagasan Gubernur Jakarta Joko Widodo yang menarik perhatian. Yang pertama, mengenai keharusan semua bangunan di Jakarta memiliki ciri Betawi. Yang kedua, rencana pembangunan masjid raya di Kapuk.
Kedua gagasan tersebut menarik, justru karena luar biasa menyimpang dari keinginan mayoritas warga Jakarta agar Jokowi fokus pada penanganan dua masalah pokok: macet dan banjir.
Terlebih lagi, sampai saat ini belum ada keputusan yang tegas mengenai berbagai hal terkait kedua hal pokok itu. Belum ada kejelasan proyek MRT, enam ruas jalan tol, perluasan sistem busway, tanggul pengaman Teluk Jakarta, dan lain-lain.
Gagasan membuat masjid, baik raya maupun bukan, sudah lama menjadi hobi beberapa kepala daerah di kota-kota lain, misalnya Makassar dan Kendari. Siapa “berani” menolak keinginan seseorang membangun masjid? Pasti tidak ada yang berani mengatakan hal buruk terhadap upaya mengembangkan kehidupan beragama.
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture, Jakarta, Urban Development |
3 Comments »
June 30, 2012
Talk delivered at Lasalle College of Arts, Singapore, 27-28 March 2012.
Keywords:
Public/common space, community, ecology, arts, management, state, city, community, sustainability, democracy, freedom.
Introduction
My talk will be in three parts. The first will try to make a distinction between the state and the community, and between the public and the common. The second will discuss limitations of both and tries to explain the risks that we are facing, illustrated with the problem of consumption in and of the city within the perspective of (ecological) sustainability. The last will ask questions about what arts can do, and how we should manage arts within such problem set.
read more »
Posted in Arts, Language and Culture, Communities, Nature and Environment |
3 Comments »
January 9, 2012
(For English translation, please scroll down)
Pengantar kuratorial pameran senirupa di Galeri Salihara, 14 – 30 Januari 2012.
Kita hidup di dalam dunia yang, melalui kota, makin tidak pernah puas dan henti mengkonsumsi apa saja. Makin menuntut banyak dan beragam pula.
Sementara konsumsi memberikan kita satu cara “menikmati hidup”—bukan hanya sekedar untuk hidup—ia bukan satu-satunya cara. Kita juga menjadi sadar, bahwa senyampang makin besar keragaman dan jumlah konsumsi yang kini dapat kita nikmati, semakin besar dan menekan pula pertanyaan-pertanyaan etis yang menghantui kita. Belakangan ini, pertanyaan-pertanyaan itu bertambah kuantitas maupun kualitasnya antara lain karena kesadaran yang meningkat tentang pemanasan global dan keterbatasan sumber daya alam.
read more »
Posted in Arts, Language and Culture, Urban Life |
3 Comments »
November 17, 2011
Dari “Taring Padi, Seni Membongkar Tirani“, Lumbung Press, Juni 2011, hal. 297-316

Dengan popularitas perubahan iklim bersamaan dengan figur Al Gore, orang mudah melupakan bahwa ada banyak masalah lingkungan lain yang tidak berkaitan dengan perubahan iklim. Misalnya: terancamnya dan menurunnya keanekaragaman-hayati, kelangkaan air, dan sebagainya. Masalah-masalah ini memang diperburuk oleh perubahan iklim, tetapi telah ada relatif tanpa disebabkan atau menyebabkan secara langsung perubahan iklim.
Sementara itu, dalam pengertian “kelestarian” (sustainability) sendiri tercakup bukan hanya kelestarian dalam hal lingkungan, tetapi juga dalam hal sosial dan ekonomi. Kini kita menyadari bahwa masalah lingkungan sangat terkait dengan masalah ketidakadilan sosial dan ekonomi.
read more »
Posted in Arts, Language and Culture, Nature and Environment |
2 Comments »
November 7, 2011

Keynote Speech for The Future Sketch Conference, Tokyo, October 29th , 2011, organized by The Culture Creation Project, Tokyo Metropolitan Government.
Introduction
10.29. Seven months and eighteen days after 3.11, many have been said.
It is therefore difficult to think of something to add, even by someone who worked in Aceh after the tsunami 12.26, 2004.
But, quoting a german expression, “all has been said, but unfortunately not by all.”
So perhaps I could add something. And, what I would like to add is not about tsunami or nuclear disasters. I would like to add about the other disasters, those that are related to climate change and use of finite natural resource.
On these, too, many have been said, but never too much. So, I thought I should still say something about it here in Tokyo, Japan, which is the right place to do so for reasons that will be made clear in the course of my talk.
read more »
Posted in Arts, Language and Culture, governance, Nature and Environment, Urban Development |
Leave a Comment »
July 8, 2011
Also in The Jakarta Globe
One funny and snobbish thing about malls is its interior design—actually I am not sure if it is “design” at all.
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture, Jakarta, Urban Life |
Leave a Comment »
May 17, 2011
The Jakarta Post, 20 February 2003.
There are many ways to experience Borobudur and paths to enlightenment, as there are many ways to destroy this experience, if current course of events are not mindfully considering the wholesome value of the temple.
For scholars of many fields Borobudur is a depository of knowledge about Javanese men and women and their life in the 8th and 9th centuries, of which a lot of patterns are traceable to Javanese culture of today. Scholars said that there are more that Borobudur’s bas-relief panels can tell us about the Javanese than what the Javanese can tell us about it. Claire Holt, for example, in her classic Art in Indonesia: Continuities and Change (1967) traced evolution of Javanese dance movement and other artistic expressions in relief panels of Borobudur (and other temples).
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »
May 17, 2011
Majalah Tempo, 2 Mei 2005
Pada 13 Maret 2005 koran terkemuka Jogjakarta Bernas dan Kedaulatan Rakyat memasang gambar utama dengan isi yang sama pada halaman muka: para miss Asean di puncak Borobudur. Beberapa darinya jelas sekali mendaki dan duduk pada stupa, melanggar aturan yang jelas tertera pada beberapa pengumuman di sekitarnya. Beberapa dari mereka samar-samar nampak bersepatu hak tinggi dengan ujung runcing, yang jelas tidak bersahabat dengan sejuta batu Borobudur. Skandal! Keterangan gambar dan berita pada dua harian tersebut sama sekali tidak menyebut kelakuan yang sangat tercela dan memalukan ini.
Barangkali yang biadab bukan terutama para miss itu, melainkan panitianya, yang telah tidak “mendidik” para miss itu dengan benar, dan tidak punya rasa malu memperagakan kelakuan buruk ini pada simbol kecantikan Asean –yang tentu saja tidak memerlukan persetujuan semua orang. Mereka seharusnya dituntut meminta maaf kepada umat Buddha dan segenap pecinta Borobudur di seluruh dunia.
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »
May 17, 2011
Koran Tempo, Februari 2003
Inilah yang saya telah dengar. Pada suatu waktu ketika Yang Agung arsitek Gunadharma mencipta di benaknya, dan untuk selamanya, Bhumisambharabudhara atau “Gunung dari Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkatan” akan senantiasa hidup sebagai arsitektur analogis, sebab kami dapat mengalami Buddhisme pada dan di dalamnya, sekalipun tak mengerti yang tersuratnya. Hanya jiwa yang mati yang menyebutnya monumen mati. Suatu sistem simbolik boleh mati ketika tanda-tandanya tak lagi dikenali atau digunakan, tetapi suatu sistem analogis tak memerlukan pemahaman akan tanda, melainkan dirasakan melalui peristiwa mengalaminya. Ruang, sari pati dan bahan cipta arsitektur, memang tak dapat diajarkan kecuali dengan mengalaminya. Di Borobudur, pengalaman itu sangat murni dan mendasarnya, sehingga merupakan pusaka didaktik yang wajib bagi calon arsitek.
***
read more »
Posted in Architecture, Arts, Language and Culture |
Leave a Comment »