Desember Banjir: Pertanyaan Politis, Bukan Teknis.

Air hujan membanjiri pintu masuk Monas di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12).

Caption dari Antara: JAKARTA, 22/12 – BANJIR JAKPUS. Air hujan membanjiri pintu masuk Monas di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12). Hujan lebat kembali melanda ibukota dan menyebabkan banjir di berbagai sudut kota. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/ama/12.

Baca di Yahoo!

Saking rutinnya banjir, banyak orang tergoda untuk bertanya, “Apa mungkin Jakarta bebas banjir?” Nadanya mengharapkan jawaban negatif: Tidak!

Perasaan pesimis dan kepasrahan menerima rutin dibalik pertanyaan itu, yang mulai menyusup ke dalam banyak hati dan benak orang, adalah suatu persoalan tersendiri.

Tetapi sebenarnya pertanyaan itu perlu mendapat pembedaan yang serius: itu pertanyaan teknis atau pertanyaan politis?

Secara teknis tidak ada yang tidak mungkin. Kita tahu empat penyebab banjir Jakarta sudah cukup dipastikan: air permukaan yang meningkat terus dari kawasan hulu, air permukaan yang meningkat terus di Jakarta sendiri, permukaan air laut yang terus meninggi, dan (ini belum lama dipastikan) menurunnya tanah Jakarta (hingga 18 cm pertahun di titik-titik tertentu).

Jawaban teknis adalah menanggulangi semua itu. Kalau mau membebaskan Jakarta dari banjir secara pragmatis dalam jangka pendek, masalahnya hanya kombinasi dari semua itu: berapa prosen pengurangan banjir mau diterapkan pada tiap-tiap penyebab itu. Yang kita tidak punya adalah kemewahan untuk memilih hanya menjawab salah satu atau dua dari ke empat penyebab itu. Kalau begitu, kemungkinan besar tidak akan mencukupi.

Solusi pragmatis jangka pendek artinya adalah bahwa solusi itu akan kedaluwarsa sesudah waktu tertentu, satu atau dua dasawarsa, tidak lestari.

Nah, kalau mau solusi yang lestari, maka perlu pendekatan yang tegas memulihkan kapasitas alam menyerap air di hulu maupun di hilir. Pendekatan yang disebut sungguh ekologis (sesuai dengan “nalar alam”) ini bersifat konservasi air, berarti secara aktif mengurangi run-off (air permukaan) di semua sektor, sambil secara aktif pula meningkatkan kemampuan alam menyerap air. Ini mungkin memerlukan pengorbanan berupa menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi hingga waktu tertentu. Pembangunan fisik dikurangi. Sebagian lahan yang bernIilai komersial tinggi dibiarkan terbuka tidak dibangun. Lebih berat dari itu adalah sesudahnyanterus menjaga keseimbangan tersebut: tiap-tiap pembangunan fisik baru harus diperhitungkan secara seksama dan akurat kompensasinya terhadap tata-air.

Semua itu secara teknis mungkin. Tetapi masing-masing menuntut upaya dan harga politis yang berbeda. Itulah sebabnya pertanyaan “Mungkinkah Jakarta Bebas Banjir?” adalah pertanyaan poltis.

Kita mau atau tidak? Kita mampu atau tidak mencapai konsensus dan kemauan politik? Kita mau atau tidak menyediakan dan mampu atau tidak membuat anggaran yang cukup? Kita mampu atau tidak mengorganisasikan eksekusi yang mungkin harus drakonian?

Sangat mungkin pula diperlukan kelembagaan baru yang inovatif, sebab kini kita tahu skala dan cakupan kegiatan yang harus dilaksanakan sangat besar, tidak mungkin dipecah-pecah kepada berbagai dinas berbeda seperti sekarang ini. Kita juga tahu bahwa solusi tidak mungkin hanya dicapai Jakarta. Wilayah kerja air mencakup Jakarta dan kabupaten-kabupaten sekitarnya.

Jadi kita punya pilihan. Kita juga bisa memilih membiasakan hidup dengan banjir. Terima apa adanya. Atau memilih setengah-setengah. Semua pilihan mungkin secara teknis.

Bagi saya, masalahnya adalah bagaimana proses kita mengambil pilihan itu? Sebelumnya lagi, kita seluruh warga perlu tahu semua informasi yang rinci, luas dan dalam. Saya berharap betul pemerintahan yang sekarang memimpin kita dengan baik untuk mengambil pilihan dan kemudian melaksanakannya secara tuntas, dengan kita semua merasa yakin, ada rasa memiliki, dan terlibat dalam perencanaan dan eksekusi.

Keadaan yang sudah begini parah mendorong saya membayangkan suatu gerakan, disiplin, keseriusan dan keterlibatan sebagaimana ditunjukkan orang Jepang dalam membangun kebiasaan menghadapi bencana.

About these ads
This entry was posted in Nature and Environment, Urban Development. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s