Gagalnya Sistem Kanal

20121115-224508.jpg

Hujan mulai kerap menyiram Jakarta.

Seperti biasa, saya duga sebagian besar warga Jakarta mulai khawatir tentang banjir. Dampak banjir akan terjadi bukan hanya bagi warga yang mendiami kawasan rawan banjir. Banyak warga lain akan terganggu kegiatan sehari-harinya karena, misalnya, perjalanan melalui kawasan rawan banjir dan sekaligus berkurangnya pelayanan angkutan umum. Di beberapa tempat mungkin listrik akan dipadamkan.

Gubernur Joko Widodo pada hari Sabtu, tanggal 3 November, jam 06:30, di Pintu Air Manggarai mengatakan bahwa memang saluran dan kanal akan diperbaiki dan dikeruk. Tetapi, beliau juga menambahkan, bahwa hal itu tidak akan cukup. Air harus juga diserap sebanyak mungkin ke dalam tanah. Di hulu, air harus dicegat, dengan ditampung dalam reservoir, atau diserap oleh lebih banyak lahan berhutan. Di dalam Jakarta (hilir) penyerapan air dapat dimaksimalkan dengan sumur resapan dan biopori secara masif.

Pendekatan itu nampaknya sesuai dengan penelitian sejarah yang mendalam.

Restu Gunawan, melalui bukunya Gagalnya Sistem Kanal; Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa (1883-1985) menyimpulkan bahwa:
“Sistem kanal tidak berhasil karena topografi Jakarta yang datar sehingga air tidak bisa mengalir secara gravitasi. Sedimentasi lumpur dan sampah juga menyebabkan saliran air tidak lancar. Pengendalian banjir dengan pembangunan kanal atau saluran hanya mampu mengurangi beban banjir sesaat. Namun, apabila ada energi baru, yaitu hujan yang lebih tinggi dengan periode ulang lebih lama, maka bahaya dan kerugian akan lebih besar karena kapasitas tampung air akan terlewati, sementara itu daerah sekitar sudah berubah menjadi kawasan terbangun sehingga banjir akan masuk ke wilayah-wilayah di sekitarnya.”

Buku di atas adalah studi yang tekun. Ada banyak peristiwa selama satu abad dicatat, yang menunjukkan betapa setiap kali kanal atau saluran tertentu selesai dibangun, bebrapa tahun kemudian terjadi banjir lagi.

Dari sudut pandang nalar-alam (ekologi) hal itu sangat jelas dan mudah dipahami. Betapapun banyak saluran dibuat, kalau air yang mengalir ke dalamnya tidak berkurang, ia akan penuh terus, meluap dan menyebabkan banjir. Air permukaan harus dikurangi. Air yang diserapkan ke dalam tanah harus ditingkatkan. Ini juga penting untuk mengatasi intrusi air laut dan menyetop penurunan tanah Jakarta yang sudah ditegaskan oleh berbagai penelitian terjadi karena penyedotan air tanah.

Jadi, pendekatan Gubernur nampaknya sudah benar. Tapi pendekatan yang mengutamakan penyerapan air yang memang lebih sesuai nalar-alam ini memerlukan cara-cara pelaksanaan yang berbeda. Gubernur Jakarta sudah memulai dialog dengan Gubernur Jawa Barat. Sudah ada peraturan tentang sumur resapan. Kita sangat berharap pelaksaaan ini akan kongkrit, lancar dan masif. Kalau hanya setengah-setengah, akan tidak efektif dan mendorong kembali ke cara lama yang tidak sesuai dengan nalar-alam. Peran masyarakat dalam pendekatan baru tersebut sangat penting dan besar. Semoga Gubernur baru juga berarti birokrasi baru yang mampu bekerjasama dengan masyarakat.

Untuk jangka pendek, saya khawatir saluran-saluran tetap harus segara rajin diperbaiki dan dikeruk. Selain itu, perlu ada suatu masterplan penanganan banjir, kejelasan bagi kita semua, bagaimana semua upaya ini terintegrasi dan kita tahu porsi masing-masing upaya itu, serta peran kita masing-masing.

About these ads
This entry was posted in Jakarta, Nature and Environment, Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Gagalnya Sistem Kanal

  1. Membiasakan diri disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya juga akan mwmbantu mengurangi banjir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s