Archive for May, 2010

May 17, 2010

Pendidikan Lingkungan, Catatan Pertemuan

Pendidikan Lingkungan[1]

Oleh Marco Kusumawijaya

0. Kota dan Lingkungan.

Hubungan antara ekologi dan kota perlu dipikirkan kembali dalam upaya mencari pembaruan-pembaruan yang mungkin untuk membuat kota dan wilayah menjadi lestari.

Urgensi: Pada tahun 2007 lebih dari separuh umat manusia telah tinggal dalam kondisi perkotaan, dengan kota-kota di negera sedang berkembang memiliki tingkat urbanisasi tertinggi. Kota akan menjadi tempat masa depan kemanusian ditentukan.

Kota adalah tempat manusia paling berkerumun, tempat produksi dan konsumsi paling intensif, dan tempat alam dan budaya bergumulan. Kota juga menyedot sumber daya dari wilayah sekitarnya. (ref. ecological footprint)

1. Lingkungan dan Kelestarian

Kesadaran akan degradasi dan bencana lingkungan membuka pemikiran tentang kelestarian (sustainability).

Kelestarian membuka kemungkinan memimpikan kehidupan yang lain sama sekali, ialah kehidupan yang lestari.

Kelestarian bukan hanya “selamat dari perubahan iklim dan/atau bencana alam lainnya” yang membuat kita menjadi hewan yang lebih pandai.

Kelestarian juga mencakup menyelesaikan masalah-masalah manusia modern seperti keadilan, kemiskinan, diskrimimasi, dll. Hanya  dengan demikian kita dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Hanya dengan menyelesaikan juga masalah-masalah seperti di atas kit dapat menjadi “manusia yang lebih baik”, bukan sekedar “hewan yang lebih pandai”.

May 13, 2010

Your architecture functions organically and you are not impressed by the myth of the state

I like that description about me.  The second part is a good basis for backyard activism.

May 13, 2010

Merombak Praktik Perencanaan Ruang

Sabtu, 15 Mei 2010, jam 12:00-15:30.

Diskusi IAi-Jakarta: Peran Arsitek dalam Penataan Ruang

Ball room, Universitas Tarumanagara, Grogol

Merombak Praktik Perencanaan Ruang[1]

Oleh Marco Kusumawijaya[2]

Selama 40 tahun, tidak satu pun kota di Indonesia yang dapat menyatakan dirinya telah menjadi lebih baik berkat perencanaan ruang yang baik. Apa artinya ini?

Tentu saja kita dapat menumpahkan semua kesalahan pada hal-hal besar yang biasa: hegemoni ekonomi dan politik. Tetapi, apakah masuk akal menyalahkan “mereka”, sementara kita tahu bahwa tiap perencanaan ruang memang harus bekerja dengan politik ekonomi dan ekonomi politik?

Saya cenderung menduga ada yang salah secara mendasar pada praktik perencanaan ruang itu sendiri. Di dalam “praktik perencanaan ruang”, selain hal-hal yang biasa dibayangkan, saya mencakup hal yang dalam konteks kekinian menurut saya harus menjadi pusat perhatian, ialah epistemologi yang mendasarinya, serta hubungan-hubungan kepentingan-kepentingan yang melingkupinya.

Kasus Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2010-2030 mengagetkan warga dan para profesional generasi terkini dengan berbagai latar belakang berbeda seperti arsitektur, perencanaan kota, ilmu-ilmu lingkungan, sosial politik,

May 12, 2010

AGUS SUWAGE IS LAUNCHING THIS BOOK….

Agus Suwage is launching this book + 100 limited editions.

“Still crazy after all these years”

17 May 2010

17:00 pm

Nadi Gallery, Grand Indonesia Lower Ground

May 3, 2010

Introducing Rujak Center for Urban Studies (RCUS)

RCUS didirikan untuk mengisi kesenjangan dalam proses peralihan masuk ke dalam abad ekologi. Semboyannya adalah “Menuju kelestarian kota dan wilayah”.

Namun, perlu ditegaskan bahwa menjadi lestari bukan hanya berarti selamat dari perubahan iklim dan bencana ekologis lainnya, tetapi juga menyelesaikan berbagai masalah perkotaan lainnya yang telah mendahului kesadaran kita tentang tentang masalah-masalah ekologis. Tetapi, kami percaya bahwa kesadaran akan ekologi, dan produksi pengetahuan yang dipercikkannya, telah memberikan perspektif dan kesempatan untuk merumuskan tindakan secara berbeda dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah perkotaan yang telah lama menunggu kita seperti misalnya kemiskinan, keadilan, pluralisme dan keberagaman, dan lain-lain. Sesungguhnyalah, semua itu telah memungkinkan suatu cara baru dalam membangun kota.

RCUS bermaksud memusatkan kerjanya pada kota-kota sebagai wilayah manusia yang merangkum kebanyakan, kalau bukan semua, persoalan masa kini dan masa depan manusia. Pada tahun 2007 dunia telah mencapai tingkat urbanisasi 50% karena terutama tingkat-tingkat urbanisasi tertinggi di kota-kota negeri sedang berkembang.
RCUS memandang keluar ke seluruh Asia Tenggara dan Timor Leste sebagai wilayah kerjanya, sementara mulai dengan berpijak kuat di Indonesia.

RCUS dibangun di atas pengalaman dan latar-belakang berbeda dari para pendirinya yang telah melakukan berbagai kegiatan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan secara tersebar di dalam dua dasawarsa terakhir, seringkali tanpa dukungan organisasi apa pun, karena mereka melakukannya sebagai “individu yang tidak terlembaga”, sebagai sukarelawan warga. Dalam perjalanannya, kami juga perlahan mengumpulkan dukungan yang tidak teratur, kadang dari orang perorang, kadang dari lembaga-lembaga. Para pendiri juga memiliki beberapa pengalaman profesional yang berhasil dalam bidang kepemerintahan yang baik, seni dan budaya, pusaka budaya, strategi pembangunanj, dan pembangunan kemabli pasca bencana (di Aceh).

Ketika kami belajar sambil berbuat, akhirnya kami sadar bahwa perubahan memerlukan rancangan langkah-langkah, skala dan kerjasama yang lebih besar, komitmen jangka panjang, daya tahan, dan karena itu peng-organisasi-an yang sungguh-sungguh. Kami berharap menggabungkan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan di bawah satu atap RCUS untuk membuat upaya kami lebih efektif.

Orientasi tetap kami adalah terus menerus memperluas kepemilikan perubahan lestari oleh warga, melalui prakarsa dan partisipasi aktifnya dalam membangun kota dan wilayah. Optimisme kami didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun bertemu dan bekerja dengan makin banyak prakarsa bebas dan otonom warga di tingkat akar-rumput. Dalam semua kerja kami, kami ingin selalu membangun prasarana, ruang dan kebiasaan bagi prakarsa dan partisipasi warga, bukan sebagai produk-sampingan, tetapi sebagai tujuan itu sendiri. Kami mendudukan diri kami sebagai fasilitator agar beragam pemangku-kepentingan dapat melanjutkan pekerjaan yang dimulai bersama-sama.

Hari lahir RCUS adalah 1 Mei 2010.

Mohon doa restu dan dukungan.

RCUS is founded to fill the gaps in the necessary process of transition into the ecological age. Our tag-line is “Towards sustainability of cities and regions”.

However, it must be emphasised that by sustainability we mean also solving other urban problems that have predated our awareness about ecological problems. Nevertheless, we do believe that the awareness about ecology, and new production of knowledge that it sparked, have created a new perspective and opportunities for conceptualising our actions differently to solve those other outstanding urban problems such as poverty, justice, pluralism and diversity, etc.  Indeed, they make possible a new way of building cities.

RCUS wishes to focus on cities as human territories that amalgamate most, if not all, of contemporary and future human problems. In 2007 the world has passed the irreversible 50% urbanisation rate, due mostly to the highest rates in cities of developing countries.

RCUS is looking out to the whole South East Asia and Timor Leste as it area of works, while starting firmly in Indonesia.

We are building on different experiences and backgrounds of RCUS’s co-founders who have been doing a multitude of research, capacity building and policy advocacy sporadically in the past two decades or so, often without any organisational support, as they did so as “non-institutionalised individuals”, as voluntary citizens. In the process we have gathered a lot of sporadic supports, too, sometime from individuals, sometime from institutions. They have successful proffesional working experiences in the fields of good governance, arts and culture, heritage, development strategy, and post-disaster reconstruction (in Aceh).

As we learned by doing, however, we realised that changes require designed steps, bigger magnitude and collaboration, long-term commitments, perseverence, and hence serious organising. We wish to combine research, capacity building and policy advocacy under one roof of RCUS to make our efforts more effective.

Our persistent orientation is towards ever expanding ownership of sustained changes by citizens, through their initiatives and active participation in city- and region-building. Our optimism is based on many years of encountering and working, at grass root levels, with growing number of citizens’s independent and autonomous initiatives. In all our works we wish to always build infrastructures, spaces, and habits for citizens’ initiatives and participation, not as by-products, but as the very goal itself. We envision ourselves as facilitators for multi-stakeholders to carry on works that we start together.

On May 6-9, 2010, we will conduct “foundation workshop” to shape RCUS’s vision, mission, and challenges map. It will be attended by 14 key players in urbanism and community development.

Marco Kusumawijaya

Suryono Herlambang

Elisa Sutanudjaja

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,362 other followers